Tutup Iklan

Salah Kaprah, 5 Mitos Pengobatan Ini Masih Dipercayai Kebanyakan Orang

Masyarakat memiliki berbagai macam cara pengobatan untuk menyembuhkan suatu penyakit, padahal belum tentu benar secara ilmiah.

JEDA.ID – Masyarakat memiliki berbagai macam cara pengobatan untuk menyembuhkan suatu penyakit, padahal belum tentu benar secara ilmiah.

Cara-cara tersebut sepertinya telah digunakan dan dipercayai secara turun temurun. Padahal ternyata cara yang sudah menjadi kebiasaan itu sebenarnya belum tentu ampuh, bahkan salah dalam pandangan medis. Alih-alih sembuh, kalau tetap dilakukan justru malah menyebabkan penyakit baru.

Sebagai orang Indonesia, Anda tentunya sering mendengar bahkan pernah melakukan sendiri pengobatan yang mengakar di masyarakat. Karena kepercayan itulah, beberapa metode tersebut akhirnya menjadi kebiasaan yang kerap kali dilakukan sebelum mengambil tindakan medis. Nah berikut ini beberapa pengobatan dan kebiasaan namun bertolak belakang dengan dunia medis seperti dilansir dari berbagai sumber.

Tentang Weird Genius, Grup Musik Berkonsep Unik Pencipta “Lathi

Menyembuhkan masuk angin dengan kerokan

Gejala masuk angin biasanya ditandai dengan tidak enak badan, demam, menggigil, pegal-pegal, hingga perut kembung. Kebanyakan orang awam masih menganggap masuk angin akan sembuh setelah dikerok, nyatanya stigma ini salah. Menyadur dari Detik.com, Selasa (16/6/2020) Praktisi kesehatan dr Dewi Ema Anindia mengatakan kerokan tidak benar-benar menyembuhkan masuk angin atau penyakit lainnya, melainkan hanya mengurangi gejala dari masuk angin tersebut.

“Gerakan kerokan menimbulkan peradangan lokal yang memicu pelebaran pembuluh darah dan memicu keluarnya morfin alami dari dalam tubuh yang dinamakan endorfin. Endorfin ini lah yang menimbulkan relaksasi pada tubuh dan relaksasi otot,” jelasnya.

Saat demam tidak boleh mandi

Semenjak kecil Anda terbiasa mendengar perkataan orang sekitar bahwa saat demam sebaiknya tidak mandi agar cepat sembuh. Bahkan sampai hari ini pun masih banyak orang yang belum mengerti secara jelas mengenai kebenarannya. Dikutip dari Times of India, menurut Dr Suranjit Chatterjee seorang konsultan kesehatan dari Indraprastha Apollo Hospitals di New Delhi, India, orang yang sedang mengalami demam boleh mandi asalkan rambut yang basah setelah mandi harus dikeringkan dengan benar.

Ketika mandi, air yang membasahi tubuh bermanfaat melepaskan panas. Namun ada kebiasaan sebagian masyarakat yang suka mengeringkan rambut dengan cara membalutnya dengan handuk selama beberapa waktu. Hal tersebut ternyata kurang tepat bagi orang yang sedang mengalami demam karena suhu panas yang berasal dari tubuh tidak bisa keluar secara alami.

Kalau kena angin duduk harus dikerok atau dipijat

Gejala angin duduk biasanya bermacam-macam, namun yang paling sering adalah rasa nyeri dada seperti ditekan atau ditindih. Kondisi seperti ini muncul karena adanya gangguan aliran darah ke jaringan otot jantung akibat penyempitan pembuluh darah jantung (koroner). Pembuluh ini yang berfungsi menyuplai darah yang kaya akan oksigen ke otot jantung, agar jantung dapat memompa darah ke tubuh dengan baik.

Melansir dari salah satu sumber, ketika terjadi penyempitan pada pembuluh koroner tesebut, maka suplai oksigen pun terganggu. Selain itu, jantung juga tidak bisa memompa darah dengan maksimal. Kondisi ini biasa disebut dengan penyakit jantung koroner. Kalau Anda pahami dari penyebabnya saja mana mungkin bisa sembuh hanya dengan kerokan atau dipijat. Ini tergolong penyakit berat, bisa juga gejala awal serangan jantung. Yang paling tepat adalah membawa penderita ke dokter untuk mendapatkan penangan khusus.

Mandi malam hari menyebabkan rematik

Sering menjadi kontroversi, mandi malam yang sering dianggap menyebabkan rematik juga dibantah para pakar medis. Dokter spesialis penyakit dalam dan konsultan reumatologi, Handono Kalim, menegaskan hingga saat ini belum ada penelitian yang membuktikan bahwa sering mandi malam bisa menyebabkan rematik di kemudian hari.

Hanya saja, terkadang mandi malam hari dan menggunakan air dingin bisa membuat otot kaku. Hal ini pun lumrah dialami seseorang kalau tidak kuat dingin. Dr. Handoko mengatakan, sebaiknya memang tidak mandi malam hari kalau tubuh terasa linu setelah mandi. Selain itu ia juga menyarankan untuk mandi dengan air hangat guna mengurangi rasa sakit pada persendian berkurang.

Mengenal Dexamethasone yang Disebut Bisa Tangkal Covid-19

Penderita cacar air atau campak tidak boleh mandi

Mitos penderita cacar air dilarang mandi juga sudah mengakar dan menjadi kepercayaan banyak orang Indonesia. Padahal faktanya, penderita cacar air atau campak dengan kelainan pada kulit yang menyeluruh, justru harus rajin menjaga kebersihan tubuh, yaitu dengan sering mandi.

Seperti disadur Liputan6 dari healthlinkbc.ca, saat seseorang sedang mengalami cacar, mandi sangat disarankan terutama untuk menghilangkan bakteri dan kuman yang menempel di kulit. Mandi juga mencegah penyakit cacar semakin menyebar ke seluruh bagian tubuh. Sebagai tambahan, menggunakan sabun antiseptik akan lebih efektif dalam mengurangi risiko infeksi kuman.

Ditulis oleh :

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.