Kesemutan Bukan Gejala Khas Serangan Jantung, Kenali Faktor Pemicu

Sebagian besar disebabkan penyumbatan yang mencegah darah mengalir ke jantung atau otak sehingga faktor yang memicu gejala serangan jantung jadi perhatian.

JEDA.ID–Seniman asal Jogja, Djaduk Ferianto, meninggal dunia pada Rabu (13/11/2019) pukul 02.30 WIB. Sebelum meninggal, Djaduk sempat mengeluhkan kesemutan di sekitar dada. Kesemutan di dada diyakini bukan gejala khas serangan jantung.

”Kesemutan yang dialami sebelum almarhum [Djaduk] mengembuskan napas sebenarnya bukan gejala khas dari serangan jantung. Gejala khas serangan jantung, biasanya nyeri dada hebat, badan terasa tertekan, dan keringat dingin,” jelas dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Doni Firman sebagaimana dilansir dari Liputan6.com.

Sebagaimana dikutip dari laman Kementerian Kesehatan, berikut beberapa gejala serangan jantung.

  • Rasa sakit, nyeri atau tidak nyaman di tengah dada. Nyeri menjalar ke lengan kiri, bahu, punggung, leher rasa tercekik atau rahang bawah (rasa ngilu) kadang penjalarannya ke lengan kanan atau kedua lengan.
  • Sesak napas yang disertai dengan keluarnya keringat dingin dan merasakan kesemutan yang dirasakan hingga punggung, lengan, dan bagian yang lainnya.
  • Mual, muntah atau keringat dingin.
  • Pusing atau pingsan. Penderita penyakit jantung akan merasa mudah lelah dan mengalami kesulitan saat akan tidur.

Menurut Doni, kesemutan yang dialami Djaduk Ferianto kemungkinan ada penyebab lain. Kesemutan sendiri sering dikaitkan dengan gangguan saraf, misal saraf terjepit.

Sebagaimana dikutip dari Detikcom, kesemutan biasanya timbul bersamaan dengan mati rasa di dada. Keadaan ini biasanya disebabkan oleh kondisi kesehatan yang berdampak pada sistem saraf di otak atau sumsum tulang belakang.

Mati rasa disertai kesemutan di bagian dada juga menjadi salah satu tanda fisik dari serangan panik. Namun, jika tidak segera ditangani oleh bantuan medis, bisa menjadi kondisi yang lebih serius seperti serangan jantung.

Bisa Menimpa Siapa Saja

Serangan jantung menjadi perhatian karena bisa menimpa siapa saja. Selama ini serangan jantung sebagian besar disebabkan oleh penyumbatan yang mencegah darah mengalir ke jantung atau otak.

Dengan kondisi ini ada beberapa hal yang harus menjadi perhatian khususnya faktor-faktor yang memicu gejala serangan jantung.

Kemenkes menyebut ada beberapa faktor yang memicu gejala serangan jantung:

– Faktor usia. Semakin bertambah usia seseorang, makin tinggi risiko terkena penyakit jantung. Untuk pria memasuki usia 45 tahun dan perempuan memasuki usia 55 tahun atau yang mengalami menopause dini (akibat operasi).

– Memiliki riwayat penyakit jantung dalam keluarga. Jika ada salah satu anggota keluarga inti mengidap penyakit jantung, anggota keluarganya juga akan berisiko mengalami gejala jantung.

– Diabetes dapat menyebabkan penebalan pada dinding pembuluh darah sehingga dapat menghambat aliran darah. Oleh karena itu penderita diabetes berisiko lebih tinggi mengidap gejala serangan jantung.

– Tekanan darah tinggi (hipertensi) mampu melukai dinding arteri dan memungkinkan kolesterol LDL masuk saluran arteri dan meningkatkan penimbunan plak.

– Obesitas (kegemukan) dapat meningkatkan tekanan darah tinggi dan ketidaknormalan lemak. Hal ini juga berisiko menyebabkan penyakit jantung.

– Stres. Ketika seseorang stres, tubuh mereka mengeluarkan hormon kortisol yang berakibat pada kakunya pembuluh darah.  Hormon norepinephrine yang akan mengakibatkan naiknya tekanan darah. Sehingga sebaiknya hindari stres di rumah maupun di kantor.

Faktor pemicu gejala serangan jantung ini bisa dicegah seperti rutin berolahraga, mengonsumsi makanan sehat, dan menghindari rokok.

Ditulis oleh : Danang Nur Ihsan

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.