Kadar Bilirubin Anak Tinggi, Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya

Khalisa Aghnia Bahira harus dirawat di rumah sakit karena mengidap kadar bilirubin dalam tubuhnya tingi.

JEDA.ID— Khalisa Aghnia Bahira, anak pertama dari  pasangan Kartika Putri dan Habib Usman bin Yahya harus dirawat di rumah sakit karena kadar bilirubin dalam tubuhnya tergolong tinggi. Bayi yang lahir pada Jumat (18/10/2019) itu harus dirawat di rumah sakit karena bilirubinnya mencapai angka 17.

Bilirubin adalah zat kuning dalam darah. Dikutip detikcom dari Healthline, zat ini terbentuk setelah sel-sel darah memerah pecah dan bergerak melalui hati, kantung empedu, dan saluran pencernaan sebelum dikeluarkan. Saat sel darah merah pecah dalam jumlah yang terlalu banyak, saat itu lah kemampuan hati tidak cukup baik untuk mengolah bilirubin, terutama pada bayi baru lahir. Maka kadar bilirubin akan meningkat atau disebut hiperbilirubinemia. Akibatnya, kulit dan mata akan berubah menjadi kuning.

Kadar bilirubin pada bayi baru lahir memang biasanya meningkat dalam 2-3 hari setelah kelahiran. Namun bila bilirubin lebih dari 10, bayi harus mendapat penanganan serius. Apalagi jika bayi berusia kurang dari 7 hari.
Bayi baru lahir memiliki kadar sel darah yang tinggi sehingga memicu produksi bilirubin. Bilirubin sendiri terbentuk ketika sel-sel darah merah yang tua dihancurkan. Berikut jenis-jenis penyakit bayi kuning seperti dilansir dari alodokter, Senin (28/10/2019).

1. Kuning Fisiologis

Menurut American Pregnancy Association (APA), jenis ini adalah yang paling sering terjadi pada bayi baru lahir dan memengaruhi 60% bayi yang lahir dalam minggu pertama. Kondisi ini disebabkan oleh meningkatnya tingkat bilirubin di tubuh bayi.

2. Kuning ASI

Menurut National University Children’s Medical Institute (Singapura), kuning jenis ini terjadi saat usia bayi 4-7 hari dan bertahan 3 sampai 10 pekan. Sering terlihat pada bayi non-prematur dan menerima ASI. Meski pakar kesehatan menyatakan penyebab pasti kuning ASI pada bayi belum diketahui, tetapi ada teori yang menyebut bahwa kemungkinan komponen ASI menghambat pemecahan bilirubin. Jenis penyakit kuning pada bayi yang satu ini juga cenderung turun temurun dalam keluarga.

Kebanyakan bayi yang mengalami kuning AS, kemungkinan akan mengalami peningkatan level bilirubin pada hari keempat belas. Namun, kondisi ini akan menurun dengan sendirinya. Bagi ibu yang bayinya mengalami hal ini, jangan pernah merasa ada yang salah dengan ASI dan berhenti menyusui. Selama bayi menyusui dengan benar dan tingkat bilirubin dipantau, komplikasi serius jarang sekali terjadi.

3. Kuning karena tidak cukup ASI

Tingginya tingkat bilirubin bisa bertahan lebih lama daripada yang biasa terjadi ketika bayi tidak mendapatkan cukup ASI. Saat bayi tidak menerima ASI sesuai kebutuhan tubuhnya, pergerakan di sistem pencernaan akan berkurang. Akibatnya, bilirubin yang ada di perut terserap kembali ke dalam aliran darah karena tidak ikut keluar bersama kotoran yang dihasilkan jika sistem pencernaannya bekerja dengan baik.

Plasenta

Sebenarnya bayi telah memiliki bilirubin sejak dia berada dalam kandungan. Namun dalam kandungan, tubuh Anda mengeluarkan bilirubin untuk bayi melalui plasenta. Setelah lahir bayi tidak bisa melakukannya karena organ hati bayi belum berkembang dengan sempurna.

Hal ini menghambat proses pembuangan bilirubin yang seharusnya dikeluarkan saat buang air kecil dan besar. Kondisi ini disebut penyakit kuning fisiologis. Bayi Anda akan mulai menguning sekitar 24 jam setelah lahir dan akan memburuk setelah empat hari, setelah itu kembali membaik ketika berusia sekitar sepekan. Namun, bayi kuning bisa juga disebabkan oleh berbagai faktor sebagai berikut:

Sepsis (komplikasi akibat infeksi) pada bayi

Pendarahan internal

Kerusakan hati

Kekurangan enzim tertentu

Sel darah merah bayi yang tidak normal sehingga mudah rusak

Ketidakcocokan rhesus dan golongan darah antara ibu dan bayi

Ada masalah pada sistem pencernaan bayi

Bayi yang berisiko terkena penyakit kuning antara lain bayi yang dilahirkan prematur (lahir sebelum 37 pekan), bayi yang dilahirkan dalam kondisi memar dan bayi yang kesulitan mengonsumsi ASI.

Risiko dan Gejaja

Menurut alodokter.com, kadar bilirubin yang terlalu tinggi pada darah si kecil bisa menembus ke otak, merusak sel-sel otak dan menyebabkan ensefalopati. Kondisi ini dinamakan bilirubin ensefalopati akut.
Berikut adalah gejala-gejala yang mungkin muncul seperti dilansi dari berbagai sumber.

Demam

Muntah

Kemampuan mengisap bayi buruk

Lesu

Sulit bangun tidur

Leher dan tubuh melengkung ke belakang

Kulitnya menguning

Sering rewel dan gelisah

Jika bayi Anda menampakkan tanda-tanda di atas, segera hubungi dokter agar si kecil mendapat penanganan secepat mungkin. Selain penanganan medis dengan fototerapi, Anda juga bisa mencegah kenaikan bilirubin dengan cara memberinya asupan yang cukup. Berikut caranya.

1. Meningkatkan rutinitas menyusui hingga 8-12 kali sehari. Hal ini akan membuat pergerakan perut bayi dalam mencerna lebih sering sehingga bilirubin akan ikut keluar bersama kotoran.

2. Bantuan dari konsultan laktasi untuk memastikan bayi melakukan pelekatan sempurna. Masalah dalam pelekatan bisa memengaruhi jumlah ASI yang diterima bayi.

3. Jika bayi harus diberi suplemen untuk meningkatkan asupannya, gunakan bantuan konsultan laktasi untuk memberikan ASI perah atau campuran ASI dan susu formula.

4. Bila kondisi bayi memburuk, kemungkinan proses menyusui akan dihentikan selama 24 jam. Tetaplah memerah ASI untuk memastikan produksi ASI tetap berjalan lancar. Setelah 24 jam berlalu, bayi bisa kembali disusui.

5. Perawatan fototerapi untuk kondisi kuning pada bayi bayi kuning. Terapi ini dilakukan jika dokter memutuskan bayi membutuhkannya setelah perawatan lain dianggap tidak berhasil.

6. Jika bayi mengalami dehidrasi selama terapi, dia akan diberikan cairan selama perawatan berlangsung. Saat tingkat bilirubin bayi turun, terapi akan dihentikan dan dianggap selesai.

Segeralah hubungi dokter jika bayi Anda mengalami kondisi berikut:

1. Bayi mengalami kondisi kuning dalam waktu 48 jam setelah dia lahir an menyebar secara cepat ke perut bawah serta kaki. Atau kuning masih ada setelah bayi berusia 14 hari.

2. Ibu mengalami kesulitan menyusui, bayi tidak mengeluarkan urin atau kotoran, dan warna kulitnya terlihat kuning.

3. Bila bayi mengalami kondisi kuning, segeralah hubungi dokter untuk memantau tingkat bilirubinnya dan diberikan perawatan untuk memulihkan keadaannya.

Ditulis oleh : Anik Sulistyawati

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.