Mereka yang Sering Bermasalah dengan Sakit Gigi

Masalah gigi rusak, berlubang, dan sakit paling banyak dikeluhkan penduduk usia 45-54 tahun yaitu 50,8%.

JEDA.ID–Sakit gigi sangat jarang menyebabkan kematian. Alhasil, masalah kesehatan gigi dan mulut menjadi prioritas ke sekian bagi sebagian besar orang.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dalam Riskesdas 2018 sebagaimana dikutip dari laman depkes.go.id, Jumat (5/7/2019), menyebutkan 57,6% penduduk Indonesia yang berusia di atas tiga tahun memiliki masalah gigi dan mulut.

Mereka adalah orang yang mengeluh atau merasa bermasalah dengan kesehatan gigi dan mulutnya seperti gigi berlubang, gigi telah dicabut, mengalami kegoyahan gigi, pernah mengalami pembengkakan dan atau pernah ada bisul pada gusi, sariawan dalam 12 bulan terakhir.

Untuk masalah gigi, proporsi masalah gigi rusak, berlubang, atau sakit mencapai 45,3%. Gigi yang rusak, berlubang, atau sakit adalah rongga pada gigi yang rusak secara permanen di permukaan keras gigi yang berkembang mulai dari lubang kecil sampai menjadi lubang yang merusak gigi. Sedangkan gigi berlubang yaitu kerusakan gigi atau karies gigi yang disebabkan oleh kombinasi dari berbagai faktor.

Bila dilihat dari wilayah, masalah gigi rusak, berlubang, atau sakit tertinggi ada di Sulawesi Tengah yaitu 60,4%. Disusul Maluku 56.3%, Sulawesi Barat 56,2%, dan Sulawesi Utara serta Sulawesi Selatang masing-masing 55,5%. Proporsi gigi rusak, berlubang, atau sakit terkecil berada di di Kepulauan Riau yiatu 36,5%.

Masalah gigi yang sering dihadapi lainnya adalah gigi hilang karena dicabut atau tanggal sendiri. Proprorsi masalah ini mencapai 19%. Persentase tertinggi ada di Provinsi Maluku yaitu 24,6%. Gigi goyah juga menjadi masalah bagi penduduk yaitu 10,4%. Berikutnya gigi ditambal karena berlubang ada 4,1%.

Bila dilihat dari kelompok umur, masalah gigi rusak, berlubang, dan sakit paling banyak dikeluhkan penduduk usia 45-54 tahun yaitu 50,8%. Sedangkan gigi hilang karena tanggal atau dicabut dan gigi goyah paling banyak dialami penduduk berusia 5-9 tahun.

Kesadaran Rendah

sakit gigi

Ilustrasi pemeriksaan gigi (Freepik)

Meski sakit gigi sering dialami, namun kesadaran untuk pemeriksaan dan pemeliharaan gigi masih rendah. ”Rata-rata mereka datang ke rumah sakit dalam kondisi gigi sudah bermasalah, seperti gigi berlubang dan gusi bengkak,” sebagaimana dikutip dari depkes.go.id.

Dalam Riskesdas 2018 disebutkan 95,5% penduduk tidak pernah berobat ke tenaga medis gigi bila mengghadapi masalah gigi dan mulut dalam setahun terakhir. Sisanya, 4-6 kali sebanyak 2,1%, 1-3 kali sebanyak 1,4%, dan lebih dari 7 kali sebanyak 1,1%.

”Bila kontrolnya dalam keadaan sudah bermasalah sebenarnya sudah agak terlambat. Sebaiknya kontrol dalam keadaan gigi masih bagus. Setiap enam bulan sekali agar tidak terjadi infeksi. Selain melakukan kontrol gigi enam bulan sekali  juga diharuskan menyikat gigi minimal dua kali sehari, setelah makan pagi dan malam sebelum tidur.”

Cek gigi secara rutin memungkinkan pendeteksian masalah gigi dan gusi dalam tahap awal. Jika terindikasi misalnya gigi muncul lubang kecil, dokter gigi bisa segera melakukan penambalan agar gigi tidak sampai keropos. Penanganan dini justru akan menghemat biaya pengobatan dibanding pada saat kondisi gigi sudah parah.

Pemeriksaan rutin ke dokter gigi juga berfungsi sebagai deteksi dini untuk mengamati kemungkinan munculnya penyakit serius lain pada rongga mulut termasuk kanker.

Penyakit yang paling membahayakan akibat kurangnya memelihara kesehatan gigi dan mulut yaitu penyakit kanker rongga mulut. Untuk mengetahui terkena penyakit tersebut harus dilakukan pemeriksaan laboratorium karena gejalanya tidak terlihat.

Ditulis oleh : Danang Nur Ihsan

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.