Dear Ortu, Simak Nih Tips Menjaga Kesehatan Mental Anak dari Duta Unicef Indonesia

Kekerasan pada anak dapat mengganggu tumbuh kembang anak dan mengganggu kesehatan mental anak. Oleh karena itu, orang tua harus menghindarkan melakukan kekerasan dan menjaga kesehatan mental anak.

JEDA.ID-Masa pandemi seperti sekarang ini memang tidak mudah, baik bagi orang dewasa maupun bagi anak-anak. Tidak sedikit orang dewasa merasa stres karena kehilangan pekerjaan atau ketidakpastian situasi, khawatir, marah dan sebagainya.Bagi anak-anak juga tidak mudah lantaran mereka tidak leluasa bermain bersama teman-teman sebaya mereka hingga tidak dapat bersekolah.

Ironisnya, dalam situasi tidak mudah untuk semua orang ini, kerasan terhadap anak  justru mengalami peningkatan. Menurut data Kementerian Kesehatan, 11 persen anak merasakan kekerasan fisik dan 62 persen anak mengalami kekerasan verbal.

Temuan ini sejalan dengan hasil survei Unicef yaitu sebanyak 30 persen anak mengalami kekerasan verbal saat belajar di rumah.

Pemerhati kesehatan jiwa anak dari Unicef, Ali Aulia Ramly, mengatakan bahwa jumlah kejadian kekerasan pada anak di Indonesia memang tinggi dan mengkhawatirkan.

“Pada survei Unicef sekitar 30 persen anak mengalami kekerasan ketika menjalani pembelajaran secara daring,” terangnya dalam dialog yang digelar Gugus Tugas Penanganan Covid-19, seperti dikutip dari bisnis.com, Senin (20/7/2020).

Menurut Ali, dalam menghadapi masa pandemi ini, Indonesia punya kesempatan pendidikan secara daring, tapi risiko yang ditimbulkan juga besar, termasuk masalah kejiwaan pada anak.

“Karena berdasarkan data survei tadi, dan data secra global juga, persoalan bukan hanya karena anak diam di rumah, tapi ada tekanan psikologis ketika kekerasan jadi meningkat di dalam rumah, ini harus jadi perhatian bersama,” kata dia.

Mengupas Metode Snowball, Cara Cepat Melunasi Utang

Contoh kekerasan verbal yang kadang tak disadari orang tua atau lingkungan sekitar anak misalnya adalah menjelekkan atau merendahkan anak ketika tidak bisa melakukan tugasnya seperti ketika tidak bisa menyalakan komputer atau mengerjakan tugas dari guru.

Belum lagi, kadang orang tua suka melakukan kekerasan fisik seperti mencubit untuk mendisiplinkan karena tida bisa mengerjakan tugasnya. Ini bisa masuk dalam kekerasan fisik dan mengganggu kejiwaan anak.

“Ini hal yang tampaknya perlu kita pahami, perlu kita perhatikan dan kita cegah,” tambah Aulia.

Kekerasan terhadap anak harus dihindari karena dapat mengganggu tumbuh kembang anak.

Peningkatan kekerasan terjadi umumnya justru karena orang tua banyak berinteraksi dengan anak, dari yang sebelumnya harus melakukan kegiatan sendiri-sendiri.

Dokter Spesialis Anak dari RSUP Fatmawati, Purnama Fitri mengatakan bahwa anak berhak untuk tumbuh sehat, kuat, dan cerdas, sehingga bisa mewujudkan cita-citanya dan memajukan Indonesia. Hal itu tak dapat dicapai kalau anak menerima kekerasan.

Tips Menghindarkan Anak dari Phising dan Aman Berinternet

Fitri menjelaskan bahwa kekerasan terbagi menjadi kekerasan fisik yang gejalanya dapat dilihar dari luka di anggota tubuh yang tidak lazim, seperti punggung dan telinga.

Kemudian, kekerasan psikis bisa terjadi ketika anak dibanding-bandingkan dengan teman-temannya. Pada penderita kekerasan psikis, anak umumnya mengalami perubahan perilaku, penurunan prestasi, dan gangguan konsentrasi saat belajar.

anak marah

Hindari melakukan kekerasan terhadap anak (Ilustrasi Freepik)

Selanjutnya, kekerasan seksual kondisinya dapat terdeteksi apabila anak mengalami nyeri perut, nyeri saat buang air, pendarahan pada bagian genital, dan mengalami kecemasan berlebihan.

Terakhir, kekerasan dalam bentuk penelantaran, bisa dari pemberian makanan yang tidak cukup gizinya, pakaian yang tidak layak sehingga terlihat lusuh, atau terlihat dalam hal gagal tumbuh karena asupan nutrisi yang tidak terjaga.

Selain itu, anak yang ditelantarkan juga cenderung menunjukkan perilaku depresi.

“Dampak kekerasan ini bisa mempengaruhi tumbuh kembang anak. Anak bisa gagal tumbuh dan berkembang, bisa mengalami masalah perkembangan sosial, emosi, dan kognitifnya,” ungkap Fitri seperti dikutip dari bisnis.com, Kamis (23/7/2020).

Untuk jangka panjang, dia melanjutkan, dampak bagi anak sebagai korban kekerasan adalah akan mengadopsi perilaku kekerasan tersebut dan menjadi pelaku kekerasan di kemudian hari, memakai obat terlarang, dan antisosial.

“Ini mengapa anak perlu dapat perlindungan, agar tidak sampai merusak diri sendiri dan bangsa di kemudian hari,” imbuhnya.

Waspada Dampak Jangka Panjang Covid-19, Mulai Sulit Bernapas Hingga Kabut Otak

Pernyataan kurang lebih senada dilontarkan Duta Nasional Unicef Indonesia, Nicholas Saputra. Nicholas Saputra mengatakan kesehatan mental anak bisa terganggu karena harus melihat orang tuanya sakit hingga kehilangan pekerjaan di masa pandemi Corona. Selain itu, rutinitas sekolah yang tidak lagi berjalan seperti biasa juga dapat semakin menekan kesehatan mental anak.

“Banyak dari kita merasa tidak berdaya, sehingga menjadi khawatir, sedih, kecewa, bahkan marah,” kata Nicholas Saputra dalam siaran langsung BNPB melalui kanal YouTube dan dikutip detikcom, Kamis (23/7/2020).

“Sangat wajar jika kita mengalami perasaan-perasaan seperti itu. Jadi, jangan abaikan perasaanmu terutama jika kamu merasa tidak nyaman,” lanjutnya.

Menurut pemeran Rangga dalam Ada Apa Dengan Cinta ini ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengobati kesehatan mental pada anak. Misalnya, mengajak anak berolahraga dan mendukung hobi mereka yang bisa dilakukan di rumah.

“Kita akan merasa lebih baik jika kita berkomunikasi dengan orang-orang yang kita cintai,” ucap Nicholas Saputra.

Namun, jika anak-anak tetap merasa sedih sehingga mengganggu aktivitas mereka, sebaiknya carilah pertolongan.

“Segera minta pertolongan dari orang-orang yang kamu percaya, misalnya, kawan baikmu, saudara, orang tua, atau tenaga kesehatan,” tutur Nicholas Saputra.

Ditulis oleh : Astrid Prihatini WD

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.