CDC: 50 Persen Penularan Kasus Corona Lewat OTG

Ini berarti setidaknya setengah dari infeksi baru datang dari orang yang tidak menyadari bahwa mereka menularkan ke orang lain.

JEDA.ID-Sebagian besar penularan infeksi virus corona  oleh orang tanpa gejala (OTG). Temuan penularan corona lewat  OTG  ini menguatkan kewajiban memakai masker bagi semua orang.

Hal ini disampaikan oleh Center for Disease and Prevention Control (CDC) Amerika Serikat dalam pedoman yang baru diperbaharui.

“Itulah alasan utama penggunaan masker sangat penting, karena kebanyakan infeksi SARS-CoV-2 disebarkan melalui orang-orang tanpa gejala,” tulis CDC dikutip dari situs resminya seperti dikutip dari detikcom, Selasa (24/11/2020).

CDC dan lembaga kesehatan lainnya memperkirakan lebih dari 50 persen infeksi virus corona ditularkan oleh orang-orang yang tidak bergejala. Ini berarti setidaknya setengah dari infeksi baru datang dari orang yang tidak menyadari bahwa mereka menularkan ke orang lain.

Kenali Gejala Toxic Positivity, Apa Itu?

Menurut CDC, 24 persen orang yang menularkan virus corona ke orang lain tidak pernah mengalami gejala dan 35 persen lainnya tahap pra-gejala. Sementara 41 persen lainnya menularkan virus saat mengalami gejala

“Di antara orang-orang yang mengembangkan penyakit symptomatic [bergejala], risiko penularan mencapai puncaknya pada hari-hari sebelum timbulnya gejala [infeksi presymptomatic] dan beberapa hari setelahnya,” ujar CDC.

CDC juga mengatakan bahwa penyebaran virus corona utamanya menyebar melalui paparan tetesan pernapasan yang dihembuskan oleh orang yang terinfeksi ketika mereka bernapas, berbicara, batuk, bersin, atau bernyanyi.

Partikel-partikel tersebut dapat terbang langsung ke orang lain, jatuh ke permukaan, atau berlama-lama di udara terutama di ruangan tertutup. CDC kembali mengingatkan untuk menggunakan masker yang dapat membantu mencegah orang menghirup tetesan besar dan kecil yang membawa virus corona.

Jangan Ditiru! Inilah 5 Diet Ekstrem yang Tidak Masuk Akal

Sementara itu bagi pasien positif corona bisa menularkan virus tersebut di sembilan hari pertama setelah gejala muncul. Hal ini membuat aturan isolasi setidaknya harus dilakukan selama 10 hari.

Dalam penelitian peer-review yang diterbitkan di jurnal medis The Lancet, menunjukkan bahwa virus masih hidup yang bisa menginfeksi tidak terdeteksi setelah sembilan hari gejala corona muncul.

“Temuan kami sejalan dengan studi pelacakan kontak, yang menunjukkan bahwa sebagian besar peristiwa penularan virus terjadi sangat awal, terutama dalam lima hari pertama setelah timbulnya gejala. Menunjukkan pentingnya segera isolasi diri setelah gejala muncul,” jelas penulis utama penelitian, Muge Cevik, dari Universitas St Andrews dalam sebuah pernyataan yang dikutip di Global News, Jumat (20/11/2020).

“Pada pasien dengan gejala yang tidak parah, masa penularannya bisa dihitung 10 hari sejak timbulnya gejala,” lanjutnya.

Masa Subur Wanita Setelah Haid, Bagaimana Cara Menghitungnya?

Sesuai dengan pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sebagian besar negara merekomendasikan isolasi selama 10 hari untuk pasien Covid-19.

Jarak waktu antara infeksi dengan timbul gejala bisa berkisar 1-14 hari, ini yang membuat periode isolasi diberlakukan selama dua minggu. Tetapi, kebanyakan orang yang terinfeksi menunjukkan gejala di hari ke-5 hingga ke-6.

“Panduan kami saat ini adalah siapa pun yang telah terinfeksi bisa keluar dari isolasi diri yang aman setelah 10 hari, yang sejalan dengan temuan,” jelas Dr Barry Pakes, dokter kesehatan masyarakat sekaligus profesor di Universitas Toronto.

Ditulis oleh : Astrid Prihatini WD

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.