Alasan Kaum Urban Makan di Warteg, Soal Menu atau Harga?

Bahkan ada yang menyebut menu warteg bisa sebagai obat rindu masakan ibu.

JEDA.ID–Warung Tegal alias warteg menjadi warung makan sejuta umat. Pilihan menu warteg yang beragam sudah dinikmati semua kalangan dari tukang becak, mahasiswa, pekerja kantoran, sampai pejabat pemerintah kadang memilih menikmati makan di warteg.

Fenomena warteg disebut sebagai salah satu bentuk usaha gastronomi berskala mikro yang berada di wilayah urban atau kota. Gastronomi adalah istilah untuk menjelaskan berbagai hal yang berkaitan dengan penyediaan atau penyajian makanan.

Warung Tegal sejak awal kemunculannya selalu berkait erat dengan perkembangan kaum urban dan pemenuhan kebutuhan perutnya. Lalu apa alasan para kaum urban itu makan di warteg. Mahasiswa Telkom Univeristy di Bandung, Jawa Barat, Naufal, mengatakan sering ke Warteg saat tidak memilki uang lebih.

”Saya sering ke warteg saat saya sedang tidak memilki uang yang lebih. Alasannya karena menyediakan makanan yang beragam, rasanya yang enak dan tentu harganya murah kisaran Rp7.500-Rp10.000,” kata Naufal kepada jeda.id, Sabtu (3/8/2019).

Ada beberapa masakan yang dihidangkan seperti semur ayam, kering tempe, lodeh tahu, lodeh daun singkong, ikan patin goreng, jamur sayur, ayam cabai hijau, ati ampela, cumi, dan aneka gorengan.

Mahasiswa Institut Teknologi Bandung, Alvian, mengaku dirinya sering ke warteg lantaran bertempat di dekat tempat indekos. Di Bandung ada beberapa warteg seperti Mulya Rasa, Munjul, hingga Mcdoen.

Remaja yang kini tinggal di Malang, Kiki, menyebut menu warteg sekaligus soal harga menjadi alasan utama dirinya kerap makan di warteg. Makan murah ala warteg bisa dilakukan kiki karena untuk daging maksimal keluar uang Rp12.000.

”Banyak pilihan menunya. Bisa disesuaikan dengan uang kita. Kita bisa menyesuaikan harganya. Kisaran harganya untuk lauk sederhana misalnya telur, sayuran seperti lodeh biasanya kisaran Rp5.000-Rp6.000. Tetapi untuk lauk yang lebih enak misalnya ayam, ikan, dan daging itu kisaran Rp7.000-Rp12.000,” ujar Kiki.

Menu Rumahan

Memilih makan di warteg karena menunya adalah menu rumahan disampaikan Fernanda, asal Kota Solo, Jawa Tengah. Dia mengaku banyak warteg yang bertebaran di berbagai lokasi termasuk dekat kampus.

”Saya sering ke warteg karena menyediakan makanan rumahan seperti sayur sop, oseng semur dan lain-lain. Saya sangat suka dengan masakan tersebut. Selain itu, harganya murah Rp8.000-Rp13.000 saja sudah sama es teh,” kata Fernanda.

Seorang perempuan yang kini merantau di Surabaya, Jawa Timur, Moniyca, mengaku kerap ke warteg dengan alasan harga yang murah dan hidangan yang disediakan adalah masakan rumahan.

Hal serupa juga diungkapkan oleh Ika, mahasiswi Universitas Negeri Surabaya. Kerap ke warteg, Ika mengaku menu warteg bisa sebagai obat rindu masakan ibu. ”Murah meriah kisaran Rp10.000-Rp20.000. Rasanya enak, banyak pilihan dan sebagai pengganti masakan ibu,” kata Ika.

Menu warteg yang kadang dipesannya sangat beragam. Mulai nasi pecel, ayam goreng, ayam balado, sayur asem, sayur sop. Ada sayur kunci, capcay, oseng, sambal goreng kentang, sambal goreng tempe. Kemudian tahu goreng, tempe goreng, telur goreng, udang, nugget, sampai ikan goreng.

Diyah yang kini menuntut ilmu di Jember mengaku kadang memasak untuk kebutuhan makan sehari-hari. Meski begitu, kadang kala dia makan di warteg saat sibuk. ”Saya biasa makan di Warteg Bu Sri dan Bank One. Makan sama minum hanya habis Rp12.000,” kata Diyah.

Ditulis oleh : Ardea Ningtias Yuliawati/Danang Nur Ihsan

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.