Wabah Virus Mutan dari Wuhan

Virus dari Wuhan itu memiliki sekuen genetik yang mirip di tubuh kelelawar atau ular kobra Tiongkok. Yang pasti virus itu telah mengalami mutasi.

JEDA.ID–Akhir Desember 2019. Sebanyak 41 pasien di rawat di klinik dan rumah sakit yang berbeda-beda di Kota Wuhan, China. Perhatian kalangan dokter tertuju ke mereka. Semuanya punya gejala sama, demam tinggi, batuk, dan sesak napas. Termasuk paru-paru mengalami radang, basah berlendir. Asumsi tentang virus belum muncul di benak para dokter di Wuhan.

Gejalanya khas pneumonia, radang paru akibat infeksi bakteri Streptococcus pneumoniae. Namun, ketika dilakukan tes mikrobiologis, tak ditemukan bakteri Streptococcus yang lazim pada pneumonia.

Sontak kecurigaan mengarah ke infeksi virus. Bayang-bayang wabah maut penyakit SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) tiba-tiba di depan mata.

Puluhan pasien di Wuhan itu lantas dirawat khusus di klinik paru di Wuhan Jinyinten Hospital. Mereka disupervisi Kementerian Sains dan Teknologi Tiongkok serta Akademi Ilmu Kedokteran Tiongkok.

Pesona Wuhan Sebelum Diisolasi Akibat Virus Corona

Belum ada kepastian tentang penyakit apa yang dihadapi. Pada saat bersamaan pemerintah Tiongkok melapor ke Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengenai kasus itu pada hari pengujung di tahun 2019.

Sebagaimana dikutip dari laman indonesia.go.id, WHO mendesak pemerintah Tiongkok untuk bekerja sama dengan sejumlah lembaga riset. Pemerintah Tiongkok bersikap terbuka. Material penelitiannya dibagi ke WHO dan banyak pihak lainnya.

Sebelum yang lain bergerak jauh, pada 2 Januari 2020 peneliti Tiongkok melaporkanvirus yang menyerang para pasien itu adalah dari jenis Novel corronavirus.

Isolasi Virus pada 2015

Hasil identifikasi itu mengacu pada temuan ahli virologi Wuhan yang berhasil mengisolasi virus itu pada 2015. Temuan ini juga membuka keniscayaan bahwa virus dari Famili Corrona itu bisa berubah menjadi jahat seperti SARS yang bergolak dari Guangdong 2002.

Atau MERS (Middle East Respiratory Syndrome) yang tiba-tiba menyeruak dari urine onta-onta di padang pasir Arab Saudi 2012. Seperti SARS dan MERS, virus Wuhan ini pun mematikan. Dari 41 pasien itu, enam di antaranya meninggal pertengahan Januari lalu.

Secara absolut, ke-41 pasien di Kota Wuhan itu terbukti terinfeksi oleh Novel coronnavirus. Belakangan, para dokter yang menangani penderita penyakit pernapasan akibat virus Wuhan yang dirawat di Korea, Jepang, Thailand, dan Amerika Serikat, juga mengonfirmasikan pasien mereka terinfeksi  Novel corronavirus. Secara alamiah, virus ini sering ditemukan pada tubuh manusia maupun berbagai hewan.

Virus Corona: Penyebab dan Perbedaannya dengan SARS

Tim peneliti Tiongkok, dalam laporan yang dirilis 12 Januari lalu menunjukkan virus dari Wuhan itu memiliki sekuen genetik yang mirip dengan corronavirus yang bersemayam di dalam tubuh kelelawar.

Namun, ada grup peneliti lain yang menyebutkan virus Wuhan ini lebih mirip virus yang hidup di tubuh ular kobra Tiongkok. Dari manapun asalnya, virus itu telah mengalami mutasi. Dari tubuh virus itu tumbuh sejumlah “tanduk” protein yang bentuknya seperti huruf S.

virus Wuhan

Perdana Menteri China Li Keqiang mengenakan pakaian pelindung berbicara kepada para pekerja medis ketika ia mengunjungi rumah sakit Jinyintan di mana para pasien virus corona baru sedang dirawat setelah wabah di Wuhan (Reuters)

Dalam laporan yang dirilis 16 Januari 2020 itu, para peneliti Tiongkok menyatakan gugus protein ini menyerupai agiotine converting enzym-2 pada virus SARS.

Tanduk itulah yang menciptakan mekanisme untuk menembus dan merusak sel tubuh inangnya. Dalam kasus penyakit virus Wuhan itu, sel-sel yang dirusaknya mulai dari saluran pernapasan hingga paru.

Tak pelak lagi ia adalah galur virus baru, yang secara resmi dinamai 2019-n CoV-strain baru hasil mutasi dari Novel corronavirus.

Bekerja di Pasar Huanan

Dugaan virus 2019-n CoV itu berasal dari hewan, agaknya bersumber dari fakta. Dari 41 pasien yang infeksi n-CoV itu, 27 di antaranya sehari-harinya bekerja di Pasar Ikan Huanan, tidak jauh dari Sungai Yangtze, di Kota Wuhan.

Ada yang bekerja sebagai tukang daging. Ada pula yang jadi pemasok untuk kebutuhan pasar. Ada pula satu keluarga yang semuanya terinfeksi, meski tak semua bekerja di pasar ikan. Para dokter yakin sumber penularan adalah dari manusia ke manusia.

Pasar Ikan Huanan itu menyediakan macam makanan olahan dan mentah. Ada berbagai macam ikan, daging domba, babi, keledai, onta, serigala, berang-berang, tikus bambu, hingga reptil termasuk ular.

Pusat Kuliner Ekstrem Wuhan, Tempat Lahirnya Novel Coronavirus?

Tak jelas hewan mana yang menjadi lokasi virus bermutasi, namun para peneliti mengakui tak pernah menemukan virus corrona dalam tubuh ikan dan hewan laut lainnya.

Tentang bagaimana mekanisme mutasi genetik itu terjadi, masih gelap. Sama gelapnya dengan mutasi menjadi SARS-CoV (2002) atau MERS-CoV (2012).

Virus mutan ini amat berbahaya. Dalam dua dekade belakangan, wabah kedua virus mutan ini telah menyerang hampir 10.000 orang.

SARS berjangkit di Provinsi Guangdong, Tiongkok, dan menyebar ke-30 negara di Asia, Eropa, dan Amerika. Korban yang terinfeksi tercatat 8.069 orang. Korban tewas 775 orang. Tingkat kematian serangan SARS hampir mencapai 10 persen.

Sedangkan MERS bermula dari Arab Saudi dan menyebar ke 25 negara di Asia dan Eropa. Yang terinfeksi 1.342 orang dan 512 di antaranya meninggal dunia. Tingkat mortalitasnya 37 persen.

Jadi Parasit

Corona

Pemeriksaan orang yang suspect Corona (Reuters)

SARS-Cov, MERS CoV, dan kini 2019-n CoV, menyerang dan merusak organ saluran pernapasan dan paru. Hasil pemeriksaan dokter-dokter Wuhan memperlihatkan bahwa saluran napas dan paru korban 2019-n CoV ini mengalami kerusakan berat.

Virus ini menempel pada sel-sel induk semangnya (korban), menusuk, dan hidup sebagai parasit di situ. Karena virus itu tak mampu memproduksi material genetik RNA (Asam ribonukleat) sendiri, mereka pun merampok RNA dari inangnya.

Sel-sel inang pun hancur. Sulit dicarikan obatnya. Sampai Selasa (28/1/2020), ada 4.515 kasus di China, 106 di antaranya meninggal. Selain di China, korban virus corona juga sudah mencapai 60 kasus di 17 lokasi.

Ramai Virus Corona, Pakai Masker N95 atau Biasa?

Sekelompok peneliti Amerika Serikat (AS) telah berhimpun untuk membuat vaksin penangkal virus 2019-n CoV itu. Institut Kesehatan Nasional AS menggandeng perusahaan Bioteknologi Modern untuk maksud tersebut. Vaksin itu berupa tiruan RNA.

Bila diinjeksikan ke dalam tubuh, ia akan meniru perilaku virus, yakni menempel pada sel-sel target. Vaksin ini tidak akan menimbulkan gangguan. Justru ia akan merangsang sel-sel tubuh membangun reaksi kekebalan tubuh.

Dengan begitu, ketika virus 2019-n CoV itu benar-benar datang, sel-sel tubuh itu bisa menolak reseptor virus yang berubah tanduk-tanduk protein jahat itu. Virus masuk tapi tak akan banyak merusak.

Para peneliti menargetkan vaksin ini bisa diproduksi pertengahan 2020. Kini dunia menanti solusi dari virus mutan dari Wuhan.

Ditulis oleh : Danang Nur Ihsan

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.