Penjelasan Ilmiah Pakar dan Ramalan Bencana 2020

Daerah yang berpotensi terkena dampak gelombang tsunami jika terjadi gempa megathrust di selatan Jawa khususnya di selatan DIY cukup panjang yaitu dari Cilacap hingga ke Jawa Timur.

JEDA.ID – Seperti sudah menjadi tradisi, jelang akhir tahun sejumlah paranormal bermunculan di acara televisi menyajikan ramalan kejadian tahun depan. Sejumlah spiritualis populer seperti Mbak You hingga Wirang Birawa menyajikan ramalannya untuk tahun 2020. Salah satu yang paling mengerikan adalah soal bencana 2020.

Wirang Birawa menyampaikan firasat soal burung besi jatuh, letusan gunung besar, hingga gempa berpotensi tsunami di sejumlah derah. Ramalan itu disampaikannya lewat fitur Insta Stories di Instagram. “Guncangan di atas 8 sampai 9 SR akan banyak korban jiwa berpotensi tsunami,” tulis Wirang Birawa.

Terpisah, dilansir Suara.com, Senin (30/12/2019), Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono tidak membantah jika Indonesia adalah daerah yang rawan gempa dan tsunami.

Sepanjang pantai Cilacap, Yogyakarta sampai Jawa Timur berpotensi disapu tsunami setinggi 20 meter jika prediksi gempa 8,8 SR benar terjadi. Tsunami akan menyapi sejauh 4 km dari bibir pantai.

Itu berdasarkan permodelan Pakar Tsunami dari Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT) Widjo Kongko sepanjang pesisir selatan Pulau Jawa berpotensi disapu tsunami dahsyat setinggi 20 m.

Permodelan Widjo Kongko itu menyatakan selatan pesisir Pulau Jawa berpotensi diguncang gempa bumi 8,8 skala richter. Sebab ada segmen-segmen megathrust di sepanjang selatan Jawa.

Segmen-segmen megathrust itu membentang di sepanjang selatan Jawa hingga ke Sumba di sisi timur dan di selatan Selat Sunda. Gelombang tsunami akan tiba dalam waktu sekitar 30 menit usai terjadi gempa besar.

Daerah Potensial

Daerah yang berpotensi terkena dampak gelombang tsunami jika terjadi gempa megathrust di selatan Jawa khususnya di selatan DIY cukup panjang yaitu dari Cilacap hingga ke Jawa Timur.

Berdasarkan catatan, gempa besar di selatan Pulau Jawa yang menimbulkan gelombang tsunami pernah terjadi pada 1994 di Banyuwangi dengan magnitudo 7 dan pada 2006 yang menyebabkan tsunami di Pangandaran akibat gempa 6,8 SR.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melihat proyeksi perkiraan bencana pada tahun 2020 dari berbagai sumber. Tren yang harus diwaspadai adalah jenis bencana geologi seperti gempa bumi yang disusul tsunami dan jenis bencana vulkanologi seperti erupsi gunungapi.

data prakiraan potensi bencana berdasarkan data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang menyebutkan ada enam titik zona potensi aktif berdasar seismisitas 2019 yang meliputi Nias, Lombok-Sumba, Ambon, Banda dan Mamberamo.

Pada kesempatan yang sama Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menghimbau agar daerah yang berpotensi memiliki kerawanan tingkat tinggi tersebut agar selalu waspada dan meningkatkan kapasitas, baik dari pemerintah daerah hingga masyarakatnya.

Sebagai pedoman dan pengingat yang baik kepada masyarakat, Kepala BMKG meminta agar segala informasi peringatan dini yang dirilis oleh BMKG agar dijadikan sebagai perhitungan kedepannya untuk selalu meningkatkan kesiapsiagaan.

Dilansir Detik.com, Senin (30/12/2019), Kepala BNPB Doni Monardo mengatakan bahwa langkah yang diambil BNPB sebagai bentuk upaya pencegahan tetap menjadi hal yang utama dalam penanggulangan bencana. Hal itu sebagaimana yang sesuai dengan arahan dari Presiden RI Joko Widodo dalam Rapat Koordinasi Penanggulangan Bencana di Riau pada pertengahan bulan Juli 2019 yang mana pencegahan adalah hal yang mutlak dan harus dikerjakan.

Bencana yang Mengintai Calon Ibu Kota Baru Indonesia

Tren 2019

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pada Jumat (27/12/2019) mengumumkan bahwa selama 2019 Indonesia telah diguncang 11.573 gempa tektonik dan gempa-gempa itu mayoritas terjadi di enam wilayah Nusantara.

Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG Daryono, mengatakan tampak bahwa kluster aktivitas gempa bumi paling aktif terjadi enam daerah yaitu Nias, Lombok, Laut Maluku Utara, Ambon, dan Laut Banda. Hal ini disampaikan dalam keterangan resminya berdasarkan peta seismisitas atau aktivitas gempa 2019.

Sayang ia tak menjabarkan seberapa aktif atau seberapa sering gempa tektonik terjadi di area-area yang disebut di atas. Meski demikian, secara umum BMKG mengatakan bahwa jumlah gempa tektonik di 2019 lebih sedikit ketimbang pada 2018.

“Jika dibandingkan tahun 2018 dengan jumlah gempa sebanyak 11.920 maka aktivitas gempa selama 2019 mengalami sedikit penurunan jumlah,” beber Daryono.

Dari total jumlah gempa tektonik di 2019, gempa dengan magnitudo di atas M5,0 terjadi 344 kali sedangkan dengan kekuatan kurang dari M5,0 terjadi 11.229 kali.

Sementara gempa yang guncangannya dirasakan masyarakat selama 2019 terjadi sebanyak 1.107 kali. Juga tercatat ada 17 gempa tektonik yang menimbulkan kerusakan bangunan.

11 Barang Ini Wajib Masuk Tas Siaga Bencana

Sebagian besar dari gempa merusak itu juga terjadi di 6 wilayah dengan aktifitas gempa paling aktif di 2019. Berikut daftarnya:

  • Gempa Morotai 16 Januari 2019 (M5,3)
  • Gempa Solok Selatan 28 Februari 2019 (M5,6)
  • Gempa Lombok 17 Maret 2019 (M 5,4)
  • Gempa Sumenep 2 April 2019 (M 5,0)
  • Gempa Banggai 12 April 2019 (M 6,9)
  • Gempa Maluku 7 Juni 2019 (M 7,0)
  • Gempa Sarmi Papua 20 Juni 2019 (M 6,2)
  • Gempa Banda 24 Juni 2019 (M 7,4)
  • Gempa Mamberamo Papua 24 Juni 2019 (M 6,1)
  • Gempa Sumbawa 13 Juli 2019 (M 5,3)
  • Gempa Labuha Halmahera Selatan 14 Juli 2019 (M 7,2)
  • Gempa Banten 2 Agustus 2019 (M 6,9)
  • Gempa Bali 13 Agustus 2019 (M 5,0)
  • Gempa Gunung Salak 23 Agustus 2019 (M 4,0)
  • Gempa Ambon 26 September 2019 (M 6,5)
  • Gempa Ambon 10 Oktober 2019 (M 5,2)
  • Gempa Maluku 14 November 2019 (M 7,1)
Ditulis oleh : Jafar Sodiq Assegaf

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.