Bencana yang Mengintai Calon Ibu Kota Baru Indonesia

Kebakaran hutan dan lahan yang hebat melanda Kalimantan pada 2015.

JEDA.ID–Calon ibu kota baru Indonesia hampir pasti akan pindah di Pulau Kalimantan. Meski pulau ini minim ancaman bencana gempa dan tsunami, namun ada potensi bencana di Kalimantan.

Berdasarkan kajian awal sebelumnya, setidaknya ada dua lokasi yang paling kuat menjadi calon ibu kota baru Indonesia. Kedua lokasi tersebut ada di Provinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.

”Dibandingkan Jawa, Kalimantan lebih minim potensi bencana gempa bumi, letusan gunung berapi dan tsunami. Meskipun data sebenarnya menunjukkan bahwa pulau ini tidak sepenuhnya bebas dari ancaman gempa dan tsunami,” terang Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Imlu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Eko Yulianto, sebagaimana dikutip dari laman LIPI, lipi.go.id, Kamis (18/7/2019).

Menurut Eko, karakteristik sumber gempa ini khususnya potensi maksimumnya dalam menghasilkan gempa di masa datang belum diketahui karena memang belum pernah dipelajari secara detil. Sejak 2015-2017, tidak ada kasus gempa yang dirasakan di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur. Begitu juga tidak ada kejadian tsunami.

Eko menyebut Kalimantan adalah salah satu pulau yang memiliki sumber daya alam batubara dan gambut yang sangat melimpah. Melimpahnya batubara dan gambut ini mengindikasikan secara alami dataran pantai pulau Kalimantan tergenang air.

Dia mengatakan keberadaan batubara dan gambut yang luas jika dilihat dari perspektif ancaman bencana mengindikasikan potensi banjir dan kebakaran lahan gambut yang perlu diantisipasi jika calon ibu kota baru Indonesia diletakkan di Pulau Kalimantan.

”Ketika gambut terbakar, api akan menjalar baik secara horizontal maupun vertikal dan sulit dipadamkan,” sebut dia.

Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), selama 2014-2019 selalu terjadi kejadian kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur. Luas lahan yang terbakar mengalami fluktuasi tiap tahunnya. Kebakaran hutan dan lahan terbesar yang melanda dua provinsi itu terjadi pada 2015 lalu.

Setengah Juta Hektare

Kala itu, hutan dan lahan yang terbakar di di Kalimantan Tengah lebih dari setengah juta hektare atau tepatnya 583.833,44 hektare. Luas lahan yang terbakar di Kalimantan Tengah ini menjadui yang terbesar di Tanah Air pada 2015. Sedangkan di Kalimantan Timur hutan dan lahan yang terbakar pada 2015 mencapai 69.352,96 hektare.

Pada 2018 lalu, luas kebakaran hutan dan lahan di dua provinsi ini sekitar 68.100 hektare. Pada 2019, luas lahan yang terbakar kembali turun yaitu hanya 27 hektare di Kalimantan Tengah dan 5.153,07 hektare.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut selama 2015-2017, kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Tengah melanda 486 desa dan di Kalimantan Timur 137 desa. Kondisi ini harus menjadi perhatian saat pemindahan ibu kota.

Plt. Kepala Pusat Penelitian Biologi LIPI Joeni Setijo Rahajoe menjelaskan ekosistem gambut berperan penting dalam menyimpan karbon dan berperan dalam besar kecilnya emisi karbon setiap tahun. ”Namun jika ada gesekan api, gambut akan mudah terbakar,” jelasnya.

Menurut Joeni, efek kebakaran hutan yang saat ini masih menjadi masalah di Kalimantan adalah akibat dari perubahan peruntukan lahan. Joeni mengungkapkan ada beberapa aspek ekologi yang perlu jadi perhatian dalam penetapan calon ibu kota baru Indonesia.

”Mulai dari ketersediaan air, kesehatan lingkungan, serta potensi banjir di musim hujan atau kekeringan di musim kemarau. Keberadaan ruang hijau harus masuk dalam penataan site plan sehingga dalam pembangunan tidak merusak kaidah lingkungan,” kata dia.

BPS menyebut bencana banjir melanda 793 desa/kelurahan di Kalimantan Tengah selama 2015-2017. Sedangkan di Kalimantan Timur ada 411 desa terdampak banjir. Kemudian ada 427 desa di dua provinsi itu yang mengalami kekeringan dalam tiga tahun terakhir.

Ditulis oleh : Danang Nur Ihsan

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.