Penduduk Lansia Antara Bekerja dan Renta

Penduduk lansia yang bekerja sebagian besar berada di perdesaan. Salah satu penyebabnya adalah di perdesaan lebih banyak lapangan pekerjaan di sektor informal seperti pertanian.

JEDA.ID–Tua dan berdaya. Itulah kata yang mewakili sebagian penduduk lanjut usia (lansia) di Indonesia. Sekitar 11 juta warga lansia di Indonesia tetap aktif bekerja di usia senja mereka.

Jumlah lansia yang bekerja itu hampir separuh dari total lansia di Indonesia sekitar 23 juta orang. Salah satu lansia yang sempat menjadi perhatian pada 2018 lalu adalah nenek-nenek di Salatiga. Kisah perempuan lansia berusia 96 tahun itu viral di media sosial karena tetap berjualan di sekitar Pengadilan Negeri (PN) Salatiga meski usianya telah senja.

Aku nek dodool ning ngarep pengadilan [Saya berdagang di dekat pengadilan],” ungkap perempuan yang tak disebutkan namanya itu sebagaimana dikutip dari Semarangpos.com.

Menurut survei yang dilakukan Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, warga lansia menganggap bekerja merupakan suatu hal yang positif. Dengan bekerja, lansia merasa harga diri mereka meningkat, menjadi mandiri, dan mampu berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat penduduk lansia yang bekerja sebagian besar berada di perdesaan. Salah satu penyebabnya adalah di perdesaan lebih banyak lapangan pekerjaan di sektor informal seperti pertanian.

Sektor pertanian menjadi lapangan usaha yang paling banyak menampung lansia. Dari total penduduk lansia yang bekerja, 55,18% di antara bekerja di sektor pertanian. Sisanya, perdagangan 19,85%, industri 8,13%, jasa 8,26%, dan lainnya 7,58%. Rata-rata para lansia itu bekerja sekitar 35 jam selama sepekan.

Meski rata-rata jam kerja lansia tergolong cukup tinggi, namun penghasilan mereka tidak setinggi para pekerja usia produktif. Sekitar 50,5% lansia yang bekerja mendapatkan penghasilan kurang dari Rp1 juta/bulan. Kemudian 28% mendapatkan penghasilan Rp1 juta-Rp1,99 juta, 10,31% mendapatkan upah Rp2 juta-Rp2,99 juta, dan 11,19% memeroleh pendapatan di atas Rp3 juta.

Di Panti Jompo

penduduk lansia bekerja

freepik.com

Tidak semua penduduk lansia bisa tetap produktif di usia senja mereka. Sebagian dari mereka ada yang tinggal di panti jompo atau panti wredha. Di Panti Wredha Solo, sebagian penghuninya jarang dijenguk anggota keluarga mereka. Sebagian besar para penghuni panti jompo dijenguk anggota keluarga mereka sekali dalam setahun saat Lebaran atau Natal.

Di Jawa Tengah, warga lansia yang menghuni panti jompo terus berjambah. Pemerintah Provinsi (Pempov) Jawa Tengah pada akhir 2018 menyebut dari 14 panti jompo yang dikelola pemprov, semuanya dalam kondisi overload.

“Sebanyak 14 panti jompo dan 11 panti pelayanan sosial milik Pemprov Jateng, overload atau jumlah penghuninya jauh melebihi daya tampung yang hanya 1.200 orang,” kata Kepala Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah Nur Hadi Amiyanto sebagaimana dikutip dari Solopos.com.

Direktur Rehabilitasi Sosial Lanjut Usia Kementerian Sosial Andi Hanindito menjelaskan tahun 2018 merupakan tahun perubahan bagi rehabilitasi penduduk lansia. UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah mengamanatkan pembagian tugas antara pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten/kota dalam melaksanakanan rehabilitasi sosial bagi lanjut usia.

”Di dalam Lampiran UU 23 Tahun 2014 dinyatakan rehabilitasi sosial lanjut usia di dalam panti maupun di luar panti dilakukan oleh pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota,” kata Andi sebagaimana dikutip dari laman kemsos.go.id.

Kemensos lantas mengubah Panti Sosial Tresna Werdha menjadi Balai Rehabilitasi Sosial Lanjut Usia agar sasaran penduduk lansia yang ditangani balai berbeda dengan yang ditangani oleh panti sosial lanjut usia milik pemerintah provinsi dan kabupaten/kota. Kini menjadi tantangan bagi pemerintah agar mereka yang telah berusia senja, tidak kian renta.

Ditulis oleh : Danang Nur Ihsan

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.