Jarak Aman Berkendara: Cara Menghitung & Pasang Alat Pemandu

Ada beragam cara untuk menghitung jarak aman berkendara, termasuk pula alat pemandu untuk mencegah kecelakaan.

JEDA.ID–Tabrakan beruntun yang melibatkan 20 kendaraan dan menyebabkan 8 orang meninggal terjadi di tol Cipularang, Purwakarta, Jawa Barat, Senin (2/9/2019). Salah satu masalah yang kerap muncul dari kecelakaan adalah jarak aman berkendara sehingga bisa berujung dengan kecelakaan.

Sejumlah peneliti hingga mahasiswa telah membuat beberapa alat untuk memandu jarak aman berkendara. Peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) misalnya.

Mereka membuat alat yang bisa memandu agar pengemudi di belakang kendaraan yang kita naiki mengetahui jarak aman yang tepat bagi mereka.

Peralatan itu dibuat karena banyaknya tabrakan beruntun yang sering terjadi di jalan tol. Sebelum kecelakaan di tol Cipularang, ada kecelakaan beruntun di tol Cipali pada 17 Juni 2019 yang menyebabkan 12 orang meninggal.

Alat pemandu jarak aman ini terdiri atas beberapa komponen seperti monitor, remote, hingga instalasi di bagian kaca belakang mobil.

Disebutkan di laman LIPI, ketika peralatan ini telah terpasang pada sebuah kendaraan, pengemudi bisa memberikan panduan kepada pengemudi kendaraan di belakang mereka mengenai jarak aman berkendara yang tepat.

jarak aman berkendara

Alat pemandu jarak aman berkendara buatan LIPI (LIPI)

Misal pengemudi melaju dengan kecepatan 90 km/jam, kemudian dipilih jarak aman berkendara yang tepat dengan menekan tombol 9 di remote. Angka sembilan ini akan muncul di layar monitor dan di instalasi kaca belakang mobil.

”Ketika pengemudi yang membuntutinya dari jauh kemudian mendekati dan melihat angka “9” pada layar berarti jaraknya 90 m. Jarak tersebut adalah jarak terdekat yang aman. Semakin jelas angka tersebut, semakin berpotensi bahaya tabrakan beruntun jika terjadi kecelakaan di depan.”

LIPI menyebutkan pemanfaatan peralatan ini bagi pengguna jalan tol adalah dapat memfasilitasi pengemudi untuk mengendalikan jarak aman kendaraan. Setidaknya alat ini bisa meminimalisasi potensi tabrakan beruntun di jalan tol.

”Teknis yang berbasis pada akuitas visual [visual acuity] mata manusia normal ini sudah didaftarkan patennya pada 2013 dan perlu finalisasi untuk user friendly dan pencegahan vandalisme saat diinstalasi di bagian luar kendaraan,” sebut LIPI.

Sensor Jarak Arduino

Ada juga sensor jarak aman berkendara melalui Arduino. Asri Mulyani dari Sekolah Tinggi Teknologi Garut dalam penelitian berjudul Perancangan Sensor Jarak Aman Kendaraan Bermotor Menggunakan Mikrokontroler Arduino Uno R3 menyebutkan ada beberapa komponen yang harus disiapkan untuk membuat sensor ini. Komponen utamanya adalah Board Arduino Uno R3.

”Komponen ini berfungsi sebagai perangkat utama yang akan digunakan dalam perancangan alat pendeteksi jarak aman kendaraan bermotor khususnya roda dua guna mengolah data yang telah dikonversikan sebelumnya kedalam bentuk bilangan binear secara otomatis, menjalankan setiap instruksi yang terkandung dalam code menggunakan software Arduino IDE,” sebut dia.

Ada komponen lainnya seperti module Ultrasonic HC-SR04 yang juga jadi komponen utama karena berfungsi mengukur jarak dengan memanfaatkan pantulan gelombang terhadap kendaraan yang berada di depan. Perlu juga LCD, kabel jumper, resistor, dan lainnya.

Dia menyebut dalam pembuatan alat sensor jarak aman berkendara, software yang digunakan adalah software Arduino IDE Versi 1.6.1 sebagai compiler.

”Penggunaan alat sensor jarak aman kendaraan sangat membantu mengurangi resiko kecelakaan lalu lintas yang disebabkan kelalaian pengguna kendaraan bermotor.”

Sebenarnya berapa jarak aman berkendara yang aman bagi pengguna jalan. Korps Lalu Lintas Polri menyatakan mengemudi dengan 5 km/jam terlalu cepat dalam zona kecepatan 60 km/jam melipatgandakan resiko untuk terlibat dalam kecelakaan yang berujung cedera berupa cedera berat, bahkan kematian.

Korlantas Polri dan Kementerian Perhubungan sempat menyebarkan jarak aman berkendara di media sosial. Bila kendaraan melaju dengan kecepatan 30 km/jam, jarak terdekat yang aman adalah 15 meter dan jarak amannya 30 meter.

Bila kendaraan berjalan 60 km/jam, jarak minimal adalah 40 meter dan jarak amannya 60 meter. Begitu seterusnya misal kecepatan 100 km/jam, jarak amannya adalah 100 meter dan jarak terdekat adalah 80 meter.

3 Detik

setir mobil

Ilustrasi menyetir mobil (Freepik)

Ada pula perhitungan lain yang kerap digunakan untuk menghitung jarak aman berkendara. Sebagaimana dikutip dari berbagai sumber, jarak aman mobil pengemudi dengan mobil yang berada di depannya adalah 3 detik.

Terdapat dua alasan dalam pemilihan menghitung jarak menggunakan hitungan waktu karena waktu relatif lebih mudah disesuaikan dengan kecepatan kedua mobil.

Alasan kedua ialah ketika Anda melakukan rem, proses pengereman dengan keamanan dan kenyamanan bagi pengendara membutuhkan waktu selama 3 detik. Dikalkulasikan, dalam kasus pengereman mendadak dibutuhkan waktu sekitar 0,5 detik hingga 1 detik.

Waktu tersebut merupakan waktu bagi otak pengendara untuk memperoses perintah pada otot di kaki Anda untuk menginjak pedal rem.

Selain itu, kerja mekanis dari sistem pengereman setelah menerima perintah untuk mulai memperlambat laju putar roda juga membutuhkan waktu selama 0,5 hingga 1 detik.

Kemudian kemampuan mobil dalam memproses mengerem hingga memberhentikan laju mobil juga membutuhkan waktu selama 0,5-1 detik. Sehingga dapat disimpulkan bahwa, 3 detik adalah waktu yang ideal untuk menjalankan semua proses di atas.

Misalnya, ketika mobil melaju secepat 100 km/jam, mobil tersebut berarti berpindah sejauh 27,7 meter selama satu detik. Bagi pengemudi, hitunglah jarak aman 27,7 meter dikali dengan 3 (hitungan jarak aman tiga detik) sehingga menghasilkan jarak aman berkendara 83,1 meter.

Ada pula cara lain yang bisa digunakan. Cara ini disebut yang paling sederhana. Cukup melihat bagian roda belakang pada kendaraan di depan Anda.

Pastikan Anda dapat melihat roda belakang mobil di depan menyentuh tanah untuk menghitung jarak aman berkendara. Melihat roda belakang tersebut bukan berarti tanpa alasan.

Dengan dapat melihat roda belakang pada kendaraan di depan berarti Anda memiliki ruang yang cukup untuk bermanuver ketika terjadi sesuatu.

Apa pun cara yang digunakan, semua pengguna jalan harus memperhatikan jarak aman berkendara sehingga bisa memiminalisasi kecelakaan.

Ditulis oleh : Danang Nur Ihsan

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.