Bom Waktu Bernama Penuaan Penduduk

Penuaan penduduk di depan mata saat satu dari empat rumah tangga di Indonesia adalah rumah tangga lansia. Pada 2050 mendatang diperkirakan hampir seperempat penduduk Indonesia adalah lansia.

JEDA.ID–Hampir lima dekade silam, jumlah penduduk lanjut usia (lansia) hanya sekitar seperempat jadi jumlah anak bawah umur lima tahun (balita). Jumlah itu, kemudian berbalik pada 2018. Kini Indonesia bersiap melupakan bonus demografi untuk menghadapi penuaan penduduk.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada 1971, jumlah penduduk lansia hanya sekitar 4,5% dari total penduduk Indonesia. Berbeda dengan jumlah anak balita yang mencapai 16,1% dari penduduk. Pada 2015 lalu, BPS mencatat 8,5% penduduk Indonesia adalah warga lansia. Sedangkan persentase anak balita mencapai 9,4%. Selang lima tahun, pada 2020, BPS memprediksi 10,8% penduduk Indonesia adalah warga lansia dan anak balita tinggal 8,7%.

”Fase baby boom mulai mereda ditandai dengan menurunnya persentase balita dan diikuti dengan semakin meningkatnya persentase lansia,” sebut BPS dalam Statistik Penduduk Lanjut Usia 2017 sebagaimana dikutip dari laman bps.go.id, Jumat (7/6/2019).

penuaan penduduk 1

Antara

Selama 2014-2017, rumah tangga lansia bertambah dari 24,5% menjadi 26,35%. Dapat dikatakan di antara empat rumah tangga di Indonesia, satu di antaranya merupakan rumah tangga lansia.
Jumlah penduduk lansia atau yang berusia di atas 60 tahun diprediksi terus meningkat hingga menjadi 15,8% pada 2035 dan pada 2050 mendatang diperkirakan hampir seperempat penduduk Indonesia adalah lansia.

”Bonus demografi yang dimiliki Indonesia akan berakhir pada 2036 nanti. Usai bonus demografi, ada tantangan baru di mana jumlah penduduk berusia lanjut [lansia] akan bertambah menjadi 19 persen hingga 2045,” kata Kepala BPS Suharyanto pada akhir 2018 lalu.

Fenomena Dunia

Penuaan penduduk bukan fenomena tunggal di Indonesia. Pola ini merata terjadi di seluruh belahan dunia. Namun, kenaikan jumlah penduduk lansia tertinggi berada di Asia dan Afrika. Direktur National Institute on Aging (NIA) Richard Hodes menyebutkan secara rata-rata, penduduk dunia dengan usia di atas 80 tahun akan naik tiga kali lipat dari 126,5 juta orang menjadi 446,6 juta orang di seluruh dunia. Salah satu penyebabnya adalah angka harapan hidup meningkat dari 68,6 tahun pada 2015 menjadi 76,2 tahun pada 2050.

”Penambahan populasi usia lanjut membawa banyak kesempatan namun juga sejumlah tantangan yang perlu kita persiapkan,” sebut dia dalam laporan U.S. Census Bureau sebagaimana dikutip dari Liputan6.com.

Di Indonesia, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat angka harapan hidup laki-laki Indonesia pada 2018 adalah 69,3 tahun dan perempuan 73,19 tahun. Angka harapan hidup itu naik sekitar 1,5 tahun bila dibandingkan 2010 lalu.

Naiknya persentase penduduk lansia bukan hal remeh karena masalah yang dihadapi warga lansia juga berimplikasi kepada penduduk usia produktif yang berusia 15-59 tahun. Salah satu hal yang mencolok adalah naiknya rasio ketergantungan penduduk lansia. Pada 2010 lalu, rasio ketergantungan lansia yaitu 11,95 dan pada 2017 menjadi 14,02. Dengan rasio itu artinya 100 penduduk usia produktif harus menanggung 14 warga lansia.

Lansia Telantar

grafis penuaan penduduk

Grafis: Rahmanto Iswahyudi

International Monetary Fund (IMF) dalam IMF Blog yang dirilis pada 2017 lalu menyebutkan dampak penuaan penduduk berpotensi menurunkan laju pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) tahunan Jepang sebesar 1% dalam tiga dekade mendatang.

Namun, IMF menyebut Indonesia dan India masih akan terus menikmati bonus demografi dalam beberapa tahun mendatang karena angkatan kerja berkembang dan tingkat kesuburannya lebih tinggi.

”Seiring penuaan, jumlah tenaga kerja akan berkurang. Angkatan kerja di Asia diproyeksi akan menyusut sebanyak ratusan juta orang. Semakin lama, penyusutan angkatan kerja dan penuaan penduduk bisa memicu kenaikan biaya perawatan kesehatan dan pengeluaran pensiun. Kondisi ini membebani anggaran pemerintah, dan bisa memperlambat pertumbuhan ekonomi kalau negara tidak punya kebijakan yang mendukung produktivitas dan pekerjaan yang berkualitas tinggi,” sebut IMF di laman imf.org.

Masalah ekonomi bagi warga lansia menjadi hal yang pelik. Kementerian Sosial (Kemensos) pernah mencatat dari sekitar 20,5 juta warga lansia, ada 2,1 juta warga lansia telantar dan 1,8 juta lainnya berpotensi telantar.

Bila menggunakan hitungan bantuan untuk warga lansia dalam Program Keluarga Harapan (PKH) yaitu Rp2,4 juta/tahun, anggaran yang dibutuhkan untuk warga lansia telantar dan berpotensi telantar mencapai Rp9,36 triliun. Angka itu bisa membengkak menjadi belasan hingga puluhan triliun rupiah pada tahun-tahun mendatang seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk lansia.

Minim Perlindungan Sosial

penuaan penduduk 2

freepik.com

Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) menyebut sekitar 11 juta penduduk lansia berada di rumah tangga dengan status sosial ekonomi 40% terendah. TNP2K menilai program perlindungan sosial untuk lansia masih terbatas. Mereka menyebut baru sekitar 8,2 juta warga lansia yang masuk dalam penerima bantuan iuran (PBI) jaminan kesehatan nasional (JKN).

Program Asistensi Lanjut Usia yang dikerjakan Kemensos pada 2016 lalu baru menyasar 30.000 penduduk lansia miskin yang telantar dengan bantuan Rp200.000/bulan. Sedangkan PKH, pada 2017 lalu, komponen lansia baru menyasar 150.000 keluarga penerima PKH dengan bantuan Rp2,4 juta/tahun.

”PKH bukan satu-satunya. Home care, day care, atau residential care apabila tanggung jawab keluarganya sudah terabaikan juga diperlukan. Mempunyai Kartu Indonesia Sehat, banyak lansia yang tidak mendapatkan akses Kartu Indonesia Sehat menjadi hambatan untuk memeriksakan kesehatan,” jelas Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kemensos Harry Hikmat sebagaimana dikutip dari Detikcom.

Dalam survei BPS pada 2017 lalu, 26,72% penduduk lansia mengaku sakit dalam sebulan terakhir. Rata-rata mereka sakit sekitar delapan hari. Penduduk lansia yang memiliki keluhan kesehatan, sebagian besar mengobati sendiri yaitu 42,38%, rawat jalan 25,96%, mengobati sendiri dan rawat jalan 26,47%, dan tidak berobat 5,19%.

“Perlu mempersiapkan generasi saat ini agar mampu menjadi generasi yang tangguh di masa tuanya. Dibutuhkan kerja sama pemerintah, swasta, serta masyarakat untuk mengurangi risiko lansia,” kata Harry.

Ditulis oleh : Danang Nur Ihsan

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.