Bila Tiru Commuter Line, KRL Solo-Jogja Bisa Punya 5 Layanan Ini

E-ticket, vending machine, hingga sekali jalan mengangkut 2.400 orang menjadi andalan Commuter Line di Jabodetabek.

JEDA.ID–Bertahun-tahun rencana kereta rel listrik atau KRL Solo-Jogja mengemuka. Wacana itu kian di depan mata setelah pemerintah melelang konstruksi pembangunan listrik aliran atas (LAA) lebih dari Rp530 miliar.

Kementerian Perhubungan menargetkan KRL Solo-Jogja bisa beroperasi akhir 2020. Deputi EVP PT KAI Daops VI/Yogyakarta Sugiyono mengatakan perseroan menunggu perintah untuk mengoperasikan KRL tersebut.

”Ada rencana dari Jebres [Solo] hingga Kebumen. Tetapi kami belum ada pembicaraan basic design operasinya, apalagi DED-nya. Baru selesai tahap survei,” kata Sugiyono sebagaimana dikutip dari Solopos.com.

Pada 2018 lalu, Manajer Humas PT KAI Daops VI/Yogyakarta, Eko Budiyanto, menyatakan KRL Solo-Jogja kemungkinan bakal menerapkan sistem pelayanan yang sama dengan KRL Jabodetabek atau Commuter Line yang dioperatori PT Kereta Commuter Indonesia (KCI), anak perusahaan PT KAI.

Teknologi, sistem tiket dengan e-ticket atau tiket harian berjaminan (THB), hingga penataan peron kemungkinan akan meniru KRL Jabodetabek.

”Teknologinya mestinya standar KRL, jadi semestinya sama dengan di Jakarta. Sistemnya pun sama, nanti ada penataan di stasiun-stasiun tempat KRL itu berhenti, seperti ada loket khusus KRL, jadi terpisah antara pelayanan jarak jauh dengan lokal KRL,” kata dia kala itu.

PT KCI saat ini mengelola Commuter Line yang beroperasi di Jabodetabek. Dalam sehari Commuter Line melayani sekitar 1 juta penumpang dan ditarget menjadi 1,2 juta penumpang pada 2019.

Bila KRL Solo-Jogja akan beroperasi dan standarnya sama, bukan tidak mungkin layanan Commuter Line akan diterapkan sama di KRL Solo-Jogja. Berikut beberapa layanan KRL di Jabodetabek sebagaimana dikutip dari laman resmi PT KCI, krl.co.id, Selasa (20/8/2019).

Formasi 12 Kereta

KRL Solo Jogja

Suasana bagian dalam KRL (JIBI)

Pengoperasian KRL dengan satu rangkaian terdiri atas 12 kereta mulai hadir pada 16 September 2015. PT KCI mengoperasikan KRL dengan rangkaian yang lebih panjang untuk memenuhi kebutuhan pengguna jasa Commuter Line yang jumlahnya semakin meningkat.

Bila diasumsikan 1 kereta mengangkut 200 orang, sekali jalan KRL bisa mengangkut hingga 2.400 orang. Bandingkan dengan Kereta Api Prameks yang saat ini beroperasi melayani rute Solo-Jogja.

Prameks bisa mengangkut 800 orang untuk Prameks kereta rel diesel elektrik (KRDE). Sedangkan Prameks yang KRDI hanya bisa mengangkut 500 orang sekali jalan.

KRL Access

PT KCI memiliki aplikasi KRL Access yang merupakan penyempurnaan dari aplikasi info KRL. Fitur baru yang ditawarkan KRL Access semakin memudahkan pengguna jasa kereta Commuter Line, selain dapat mengetahui posisi kereta dan jadwal keberangkatan.

Aplikasi ini menyatukan seluruh akses informasi dari media sosial KCI ke dalam satu platform. Melalui KRL Access, pengguna juga bisa mendaftar untuk mendapatkan notifikasi langsung ke ponselnya saat ada informasi terkini seputar kondiri lintas KRL.

Vending Machine

Mulai 27 Desember 2015 Commuter Vending Machine (C-VIM) hadir di stasiun agar pengguna dapat menentukan rencana perjalanannya sendiri.

Vending machine ini dilengkapi fitur layanan isi ulang Kartu Multi Trip (KMT), layanan pembelian Tiket Harian Berjaminan (THB) dan pembelian THB PP, layanan isi ulang THB, dan refund THB.

Dengan adanya vending machine, calon penumpang tidak perlu bingung karena pembelian tiket bisa dilayani mesin itu.

E-Ticketing

KRL Solo Jogja

E-ticket KRL (Antara)

Sistem ini berlaku di Commuter Line sejak 1 juli 2013. PT KCI mulai menerapkan e-ticketing menggantikan tiket kertas, dalam rangka meningkatkan pelayanan Commuter Line.

Dengan sistem e-ticketing, pengguna Commuter Line dapat lebih tertib dan nyaman melakukan perjalanan. E-ticket ini dibagi menjadi dua macam yaitu KMT dan THB.

Tiket elektronik ini lebih efisien dan mudah untuk digunakan, mengurangi limbah kertas yang merusak lingkungan, serta sejalan dengan kebijakan pemerintah mewujudkan cash-less society.

Gelang Multi Trip

Ada Gelang Multi Trip (GMT) dan Gantungan Kunci Multi Trip (YMT) yang membuat perjalanan menjadi mudah dan nyaman. Dua benda ini variasi bentuk e-ticket agar penumpang KRL lebih mudah saat tap in dan tap out.

Pada 3 Februari 2015 KCI mengeluarkan Kartu Multi Trip berbentuk gelang dan gantungan kunci yang lebih mudah dibawa dan dipakai dalam perjalanan. Gelang dan gantungan kunci ini dirancang agar penumpang KRL tidak perlu khawatir kehilangan kartu mereka.

Hingga saat ini, KRL Jabodetabek merupakan satu-satunya KRL yang beroperasi di Tanah Air. KRL di Jakarta digagas sejak zaman Hindia Belanda. Elektrifikasi jalur kereta api di Jakarta dan sekitarnya telah dilakukan oleh para pakar dari perusahaan kereta api milik pemerintah Hindia Belanda, Staats Spoorwegen (SS) sejak 1917.

Elektrifikasi pertama kali dilakukan untuk lintas Tanjungpriok- Meester Cornelis (Jatinegara). Proyek yang dimulai tahun 1923 ini selesai pada 24 Desember 1924.

Pemerintah Hindia Belanda selanjutnya membeli sejumlah lokomotif listrik untuk menarik rangkaian kereta api. Lokomotif yang dibeli adalah seri 3000 buatan SLM (Swiss Locomotive & Machineworks)- BBC (Brown Baverie Cie).

Ada juga seri 3100 buatan AEG (Allgemaine Electricitat Geselischaft) Jerman, seri 3200 buatan Werkspoor Belanda, serta KRL buatan pabrik Westinghouse dan General Electric.

Beroperasi 1925

KRL

Lokomotif Listrik Bonbon, cikal-bakal KRL Jabodetabek (PT KCI)

Peresmian elektrifikasi jalur Tanjungpriok-Meester Cornelis kemudian dilakukan bersamaan dengan perayaan hari ulang tahun ke-50 SS pada April 1925.

Elektrifikasi kemudian berlanjut dengan mengoperasikan lintas Batavia (Jakarta Kota)-Kemayoran, dan Meester Cornelis (Jatinegara)-Manggarai-Koningsplein (Gambir)-Batavia (Jakarta Kota).

Sejak 1 Mei 1927, di Kota Batavia melintas KRL yang mengelilingi kota. Tahun 1930, untuk kali pertama jalur KRL Batavia (Jakarta Kota)-Buitenzorg (Bogor) beroperasi. Hingga tahun 1939, telah ada sebanyak 72 perjalanan KRL melintasi jalur lingkar Batavia dan Manggarai-Bogor.

Setelah Indonesia merdeka, lokomotif listrik masih beroperasi di sekitar Jakarta. Sekitar tahun 1960-an KRL berhenti berhenti beroperasi karena usia kereta tua dan tidak ada pengadaan lokomotif baru.

”Perkeretaapian Jabodetabek kemudian mulai akrab dengan rangkaian KRL buatan Jepang yang mulai beroperasi tahun 1976,” sebut PT KCI di laman mereka.

Ditulis oleh : Danang Nur Ihsan

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.