Kisah Pramekers dan Sepenggal Harapan KRL Solo-Jogja

Diperkirakan tarif KRL Solo-Jogja akan sama dengan harga tiket subsidi Prameks. Sedangkan untuk operasional KRL Jogja-Solo, akan disesuaikan dengan KRL Jabodetabek.

JEDA.ID–Primadona itu bernama Kereta Api Prambanan Ekspres atau Prameks. Bagi para pelaju Jogja-Solo atau sebaliknya, Prameks selalu jadi andalan yang belum tergantikan. Harapan membuncah ketika Prameks yang kerap ”tertatih-tatih” segera diganti dengan kereta rel listrik atau KRL Solo-Jogja.

Kuda Putih itulah awal mula Prameks. Pada 1960, nama Kuda Putih disematkan lantaran adanya logo kuda di atas jendela masinis. Kuda Putih adalah rangkaian kereta rel diesel (KRD) pertama di Indonesia. Pada 20 Mei 1994, KA Prameks versi lokomotif resmi diluncurkan.

Prameks termasuk kereta api lokal dengan rute Kutoarjo-Jogja-Solo. Rata-rata dalam satu hari, kurang lebih ada 22 KA Prameks hilir mudik di 10 stasiun.

Dari tahun ke tahun jumlah penumpang Prameks atau yang akrab disebut Pramekers meningkat. Dikutip dari Antaranews, Selasa (22/10/2019), hingga Agustus 2019, penumpang Prameks sudah mencapai 2.537.023 orang.

Sebelumnya pada 2016, jumlah pengguna KA Prameks sekitar 2.973.891 orang. Jumlahnya terus meningkat pada 2017 menjadi 3.650.144 penumpang. Angka ini terus meningkat hingga pada 2018 menjadi 3.940.671 pengguna.

Bagi Pramekers, Prameks ibarat pahlawan utamanya bagi ribuan pekerja dan pelajar di sekitar Jogja dan Solo. Hadirnya Prameks, membawa manfaat nyata bagi para pelaju.

Nadia, 21, mahasiswi Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, menyatakan Prameks mempermudah perjalanannya dari Jogja ke Solo dan sebaliknya.

”Kalau dibanding sama kendaraan pribadi [mobil], lebih enak naik Prameks. Soalnya lebih cepat dan enggak bikin capai,”ujarnya kepada jeda.id, Selasa (22/10/2019).

Jadi Ekosistem

prameks

Prameks di stasiun (jeda.id)

Pernyataan Nadia, diamini Nana, 37, seorang pekerja asal Jogja. Menurutnya, dengan menggunakan Prameks, lebih menghemat waktu serta biaya. Tarif Prameks saat ini dipatok Rp8.000. Tarif tersebut merupakan tarif subsidi dari pemerintah lewat public service obligation (PSO).

Bagi Sekar, 22, mahasiswi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Prameks tidak sebatas alat transportasi, namun juga ”ekosistem” karena ada relasi baru yang bisa ditemui sampai aneka pengalaman.

”Bagiku enaknya naik Prameks itu bisa tambah relasi sama berbagi pengalaman. Terus aku juga suka banget lihat pemandangan pas naik Prameks,” kata dia.

Apa alasan utama orang gemar naik Prameks? Dilansir dari Academia.edu, berikut dua alasannya:

– Efisiensi biaya dan waktu

Harga tiket Prameks cenderung terjangkau lantaran pemerintah memberi PSO kepada PT Kereta Api Indonesia (KAI). Tidak hanya lebih irit, Prameks bisa jadi solusi menghalau kemacetan. Waktu tempuh Prameks lebih singkat dibanding kendaraan pribadi atau bus.

– Rasa nyaman pelaju

Banyaknya pilihan jadwal Prameks dalam satu hari bisa jadi faktor utama orang lebih memilih jadi pelaju. Selain itu, para pelaju juga merasa lebih dekat dengan keluarganya.

Tiap individu tentu memiliki frekuensi penggunaan Prameks yang berbeda. Ada yang menggunakan KA ini  tiap hari, tiap minggu, bahkan satu bulan sekali.

Mayoritas Pelaju

Frekuensi penggunaan Prameks dipengaruhi oleh tingkat kebutuhan Pramekers. Dikutip dari Eprints.UMS, jumlah pelaju ternyata paling mendominasi pengguna Prameks.

Dari 100 responden, sebanyak 56 orang adalah Pramekers. Mereka menggunakan Prameks saat pagi untuk berangkat dan sore hari untuk pulang. Sedangkan sisanya, menggunakan Prameks tiap pekan  atau satu bulan sekali. Penentuan ini didasarkan pada rasa nyaman, tingkat ekonomi, serta faktor internal pengguna.

Selain itu, sebanyak 88 pengguna Prameks memilih stasiun awal yang dekat dengan kediamannya. Sedangkan, 79 Pramekers memilih stasiun tujuan yang dekat dengan tempat kerja atau kampus.

Sayang, Prameks agak tertatih-tatih mengakomodasi tingginya kebutuhan masyarakat sebagai pengguna Prameks kian tinggi. Peran Prameks pun diwacanakan diganti dengan KRL Solo-Jogja. Wacana ini mencuat sejak 2015.

Dilansir dari Solopos.com, proyek pembangunan jaringan Listrik Aliran Atas (LAA) dari KRL Jogja-Solo, dimulai akhir tahun 2019. KRL Jogja-Solo akan mulai digarap dari jalur Stasiun Yogyakarta hingga Stasiun Klaten.

Balai Teknik Perkeretaapian Kelas I Wilayah Jawa Bagian Tengah serta Dirjen Perkeretaapian, sudah memulai proses pengerjaan. Proses penggarapan dimulai dari pemetaan, survei lapangan, serta foto udara untuk jalur KRL.

”Penggunaan jalur, tentunya menggunakan rel yang biasa dipakai Prameks. Tapi karena ini KRL, jadi butuh elektrifikasi pembangunan LAA. Kemungkinan sudah dimulai akhir tahun ini,” jelas Manajer Humas PT KAI Daerah Operasi (Daops) VI Yogyakarta, Eko Budiyanto.

Penggantian KRD jadi KRL Solo-Jogja, memiliki beberapa alasan. Peningkatan jumlah pengguna Prameks, efisiensi anggaran dan untuk menekan biaya, jadi alasan peralihan KRD jadi KRL.

Mayoritas Belum Tahu

KRL Solo Jogja

Suasana bagian dalam KRL (JIBI)

Walau rencana ini telah digaungkan sejak 2015, tapi ternyata banyak Pramekers yang belum tahu perihal penggantian ini. Nanda, 21, mahasiswa Universitas Atma Jaya Yogyakarta mengaku belum tahu menau terkait rencana penggantian KRD jadi KRL.

”Aku belum tahu kalau ada rencana KRL Solo-Jogja. Mungkin harganya lebih mahal dibanding Prameks ya. Tapi belum tahu juga bakal dapat subsidi atau enggak,” katanya.

Ayunda, 30, pekerja asal Solo ini juga tidak mengetahui perihal rencana ini. Dia menduga KRL Solo-Jogja akan lebih cepat dibandingkan Prameks yang selama ini melayani Solo-Jogja, namun harta tiket bisa jadi lebih mahal.

Pramekers lainnya Nadia mengetahui recana beroperasinya KRL Solo-Jogja yang akan menggantikan Prameks. ”Aku sudah tahu dari saudara yang kerja di KAI juga. Mungkin KRL lebih cepat, jadi jadwalnya lebih banyak dibanding Prameks. Tapi tetap belum kebayang rute sama jadwalnya sih,” jelas Nadia.

Dilansir dari Soloposcom, diperkirakan tarif KRL Solo-Jogja akan sama dengan harga tiket subsidi Prameks. Sedangkan untuk operasional KRL Jogja-Solo, akan disesuaikan dengan KRL Jabodetabek. Penggunanya akan diberi kartu berlangganan KRL.

Kartu ini dijadikan alat pembayaran sehingga pengguna tak perlu lagi menggunakan uang tunai. Adanya kartu ini diharapkan bisa mempermudah pengguna KRL Solo-Jogja.

Lantaran banyak pengguna Prameks yang belum paham, terkait wacana penggantian ini. Banyak dari mereka yang tak punya gambaran terkait rencana ini.

”Harapanku buat KRL nantinya, supaya lebih memadai fasilitasnya, toiletnya lebih bersih. Nanti kalau kotor, jatuhnya sama saja kayak KRL di Jakarta, yang mulai tergeser sama MRT, karena kurang bersih,” jelas Nadia.

Nanda berharap KRL Solo-Jogja lebih cepat dan tarifnya tidak terlalu mahal. Harapan itu tidak berlebihan karena bukan tidak mungkin KRL Solo-Jogja nantinya jadi tulang punggung utama konektivitas dua kota ini.

Ditulis oleh : Vanya Karunia Mulia Putri/Danang Nur Ihsan

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.