Waduh! Kasus Disfungsi Ereksi Meningkat Selama Pandemi

Peningkatan kasus disfungsi ereksi bukan karena kena corona melainkan karena perilaku selama pandemi.

JEDA.ID-Kasus disfungsi ereksi mengalami lonjakan selama pandemi Covid-19. Bukan virus yang memicu lonjakan kasus disfungsi ereksi, melainkan kebiasaan dan perilaku selama pandemilah yang menyebabkan kasusnya meningkat.

Dalam kehidupan berumah tangga jika sampai terjadi kasus disfungsi ereksi wajib diwaspadai karena bisa mengganggu kehidupan seks pasutri yang berujung kepada keharmonisan hubungan pasutri. Nah, bagi pasangan suami istri (pasutri) simak terus info kesehatan dan sehat kali ini yang mengupas kasus disfungsi ereksi termasuk cara mengatasinya. Ahli urologi yang berbasis di Miami, Premal Patel mengatakan, kebiasaan bermalas-malasan yang meningkat selama pandemi Covid-19, secara tidak langsung menyebabkan peningkatan disfungsi ereksi.

“Ketika kondisi seperti disfungsi ereksi sangat erat kaitannya dengan gaya hidup, saya bisa membayangkan angka itu akan naik,” ujar Patel seperti dikutip laman Insider dan Liputan6.com, Sabtu (6/2/2021).

Baca Juga: Waduh! Lebih dari 3 Miliar Email dan Password Bocor di Internet

“Waktu ekstra yang dihabiskan di sofa selama pandemi, tidak hanya melukai punggung dan leher Anda. Ini juga bisa menjadi berita buruk bagi penis Anda,” jelasnya.

Patel menjelaskan, semakin tidak aktif seseorang, maka semakin besar kemungkinan mereka menambah berat badan. Hal ini meningkatkan potensi terkena berbagai masalah jantung.

Dengan adanya masalah pada jantung, maka aliran darah ke penis kemungkinan akan terhambat, sehingga gangguan ereksi mungkin terjadi.

Sementara itu, menurut ahli urologi di California Dr. Aaron Spitz, peningkatan stres akibat pandemi Covid-19 juga telah membuat kasus disfungsi ereksi meningkat.

“Saya melihat lebih banyak pria datang dengan disfungsi ereksi terkait stres. Pandemi adalah situasi yang sangat membuat stres, dan stres memengaruhi kemampuan kita untuk melakukan hubungan seksual,” ujar Spitz.

Selain itu, saat stres, Spitz menjelaskan tubuh akan melepaskan adrenalin yang berfungsi mengatasi stres. Adrenalin tersebut, secara tidak langsung akan menghambat penis untuk ereksi maka terjadi disfungsi ereksi.

Baca Juga: RI Jadi Pasar Potensial Bisnis Pesan Antar Makanan, Kok Bisa?

“Adrenalin itu ‘mematikan darah’ dari bagian tubuh yang kurang penting seperti penis, telinga, dan jari, sehingga lebih banyak darah bisa mengalir ke jantung, paru-paru, dan otak,” ujar Spitz.

Dalam penelitian sebelumnya, dua gangguan kesehatan mental yang sering timbul saat pandemi Covid-19 yakni gangguan kecemasan dan depresi, juga turut berkontribusi pada risiko disfungsi ereksi, terutama untuk pria berusia 20-an tahun dan 30-an tahun.

Gangguan Kecemasan

Penelitian tersebut menunjukkan, orang dengan gangguan kecemasan dan depresi, lebih berpotensi terkena disfungsi ereksi ketimbang mereka yang tidak memiliki masalah kesehatan mental.

Namun, para peneliti belum mampu memberikan alasan kuat, mengapa kesehatan mental berdampak pada ereksi, tetapi jelas bahwa keadaan psikologis seseorang, merupakan faktor utama dalam kepuasan seksual.

Maka dari itu, Patel menyarankan orang-orang yang mengalami disfungsi ereksi, untuk melakukan percakapan terbuka dan jujur kepada pasangannya, ​​tentang bagaimana hal itu memengaruhi kehidupan mereka.

“Saya pikir nomor satu, jika Anda memiliki dokter perawatan primer atau seseorang yang dapat Anda ajak bicara, langkah pertama adalah mengakui bahwa ini adalah masalah, bagaimana hal itu memengaruhi Anda, dan kemudian mengetahui bahwa ada banyak pilihan pengobatan yang baik,” saran Patel.

Obat-obatan seperti Viagra, disebut Patel, bisa menjadi pilihan. Namun, jika orang tersebut benar-benar ingin sembuh, maka dapat melakukan implan penis.

Sementara bagi mereka yang mengalami disfungsi ereksi karena tekanan mental, maka dapat berbicara dengan terapis atau melakukan latihan untuk meningkatkan kepercayaan diri.

Baca Juga: Lecet di Selangkangan Saat Bersepeda, Begini Cara Mengatasinya

Dikutip dari laman fk.ui.ac.id, penelitian mencatat sekitar 15-20% pasangan di dunia memiliki gangguan infertilitas dengan proporsi gangguan seksual pada pria mencapai 31% dan 43% pada wanita.

50 Persen Pria Tidak Menyadari Alami DE

Disfungsi ereksi (DE) merupakan salah satu bentuk disfungsi. Pada pria, disfungsi seksual dapat terjadi pada seluruh kelompok umur, namun memiliki hubungan berbanding lurus dengan penambahan usia. Disfungsi seksual pria menjadi salah satu masalah yang kompleks karena kondisi ini bisa disebabkan berbagai faktor. Salah satu hal yang membuat masalah disfungsi seksual tidak pernah selesai adalah kurangnya pengetahuan atau kesadaran pria terhadap hal ini.

Secara umum, disfungsi seksual pada pria dapat dibagi menjadi beberapa tipe. Pertama, disfungsi ereksi (DE) yaitu kesulitan untuk mencapai atau mempertahankan ereksi. Kedua, ejakulasi dini yaitu waktu mencapai orgasme yang terlalu cepat. Ketiga, ejakulasi terlambat yaitu waktu mencapai orgasme yang terlalu lambat atau tidak sama sekali . Keempat libido/gairah rendah, yaitu penurunan minat terhadap hubungan seksual.

Disfungsi ereksi (DE) adalah gangguan seksual yang paling umum pada pria. Namun, DE sering dianggap remeh dan dianggap tabu untuk dibicarakan. Berdasarkan survei di Eropa, 52% pria berusia 40 tahun-70 tahun sudah mengalami gejala DE. Sayangnya, hanya 50% pria yang mengetahui tanda dan gejala disfungsi ereksi. Hal ini membuat pasien seringkali datang ke dokter dalam kondisi berat sehingga berpengaruh signifikan dalam penurunan kualitas hidup akibat kecemasan, rasa malu, rasa bersalah, dan depresi. Tidak jarang, masalah seksual menjadi pencetus konflik dengan pasangan hidup.

Baca Juga: Tanda Tangan Digital Makin Penting, Ini Alasannya

Di Indonesia, prevalensi DE pada populasi berusia 20 tahun-80 tahun cukup tinggi, yaitu 35.6%, dengan angka kejadian yang meningkat seiring bertambahnya usia. Menurut Departemen Medik Urologi FKUI-RSCM, Nur Rasyid,  DE merupakan bagian dari disfungsi seksual pada pria, selain penurunan dorongan seksual (libido atau gairah) dan kelainan ejakulasi. Disfungsi Ereksi adalah ketidakmampuan untuk mencapai dan mempertahankan ereksi yang adekuat untuk mencapai performa seksual yang memuaskan.

“Mengingat fungsi seksual melibatkan proses yang kompleks, yaitu sistem syaraf, hormon, dan pembuluh darah, maka kelainan pada sistem ini, baik oleh penyakit, obat-obatan, gaya hidup, atau sebab lain, dapat mempengaruhi proses ereksi, ejakulasi, dan orgasme,” jelas Dr. Nur Rasyid dalam acara peluncuran Layanan Men’s Health and Couple’s Well-being Clinic RSCM Kencana pada akhir Oktober lalu.

Dalam manajemen DE, pemeriksaan komprehensif untuk menentukan faktor penyebab sangat penting untuk selanjutnya memilih terapi yang tepat dan optimal. Sebelum melakukan prosedur terapi, perlu adanya pemahaman akan ekspektasi pasien sehingga terapi yang dipilih nantinya sudah dipahami dengan baik.

Baca Juga: Trik Ini Bisa Mencegah Kehamilan Tanpa Perlu KB, Gimana Caranya?

Berapapun derajat DE yang dialami oleh pasien, manajemen DE selalu dimulai dari 3 hal yaitu terapi penyebab DE yang bisa disembuhkan (curable), eliminasi faktor risiko dengan modifikasi gaya hidup, serta edukasi dan konseling pasien dan pasangan. Setelah itu, dapat dilakukan terapi yang bersifat spesifik untuk tiap-tiap pasien, berkaitan dengan toleransi, invasiness (operatif vs non- operatif), efektivitas, biaya, keamanan, dan ekspektasi pasien.” lanjut Nur Rasyid.

 

Ditulis oleh : Astrid Prihatini WD

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.