Tren Ngaku-Ngaku Mental Illness dan Bahaya Self Diagnosis

Mendiagnosa masalah gangguan mental tidak mudah karena diperlukan keahlian khusus.

JEDA.ID – Maraknya film Joker dan Midsommar memunculkan tren baru di kalangan remaja. Selain memicu kewaspadaan tentang bahaya kesehatan mental, beberapa penonton justru memaknai sebaliknya. Muncul tren glorifikasi gangguan mental terutama mental illness sebagai sesuatu yang keren.

Tren ini semakin memprihatinkan lantaran di belahan dunia lain, Korea Selatan, bunuh diri menjadi cukup sering terjadi. Isu utamanya tentu saja soal depresi dan gejala gangguan kesehatan mental lain.

Terbaru, seorang mantan personel Girlband KARA, Goo Hara. Artis cantik ini meninggal dunia di usia yang sangat muda, 28 tahun. Penyebab kematiannya masih belum jelas, namun publik sudah menyebut Goo Hara meninggal karena bunuh diri.

Goo Hara sempat melakukan percobaan bunuh diri pada Mei 2019 lalu. Kala itu, aksi nekatnya berhasil digagalkan sang manajer.

Saat itu, ia mencoba mengakhiri hidup karena tertekan menghadapi masalah dengan mantan kekasihnya. Tak hanya itu, mantan anggota KARA ini juga kerap menjadi sasaran bullying sejumlah warganet.

Peristiwa Sulli

Sebelum Goo Hara, kematian Sulli juga terbilang sangat memprihatinkan. Artis bernama asli Choi Jin Ri itu ditemukan sudah tak bernyawa kediamannya di kawasan Seongnam, Provinsi Gyeonggi, Seoul Selatan. Jasadnya ditemukan oleh orang dari agensinya, SM Entertainment sekitar pukul 15:21 waktu setempat.

Sulli kerap menerima rundungan dari warganet. Dia mendapatkan serangan komentar dan rumor daring yang berbahaya dan ini menjadi penyebab dia hengkang dari grup yang membesarkannya ini.

Cabut dari f(x) pada 2014, Sulli melanjutkan karirnya dan fokus pada akting. Setelah itu dia banyak tersandung kontroversi dan jatuh bangun dalam karirnya.

Bahkan dalam salah satu program acara ‘Truth Store’ pada Oktober ini, Sulli mengaku kesulitan saat menjalani masa lalunya. Dalam acara tersebut, Sulli menjelaskan alasan dirinya keluar dari f(x), serta pengakuannya ketika menderita sindrom popularitas ekstrem dan gangguan panik.

Bukannya tidak berupaya melawan komentar nyinyir netizen tersebut, Sulli justru berusaha bijak dan mempertimbangkan nasib si netizen jika dilaporkan ke aparat polisi.

Kabar soal meninggalnya Sulli akibat depresi yang menghantuinya juga diperkuat oleh tanggapan penggemar di dunia sosial. Penggemar Sulli ramai-ramai memposting tentang tindak tanduk Sulli belakangan, yang sampai menangis di instagram live dan berkata kepada para netizen.

Di Indonesia, kasus gangguan kesehatan mental juga sempat dialami beberapa selebriti. Salah satu yang bersuara adalah Selebgram, Karin Novilda alias Awkarin.

Depresi Awkarin

Awkarin, mencuri perhatian publik dengan mengunggah video di akun youtube pribadinya mengenai dirinya yang sempat mengalami depresi dan mental illness.

“Dulu banget aku pernah kena mental depression [depresi]. Long before Instagram thing, long before diputusin,” kata Awkarin lewat video berjudul I Quit Instagram yang diunggah 22 Oktober 2018.

Karin merasa dirinya depresi ketika duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Saat itu ia merasa cemas kehilangan sesuatu.

“Aku takut kehilangan sesuatu, enggak harus pacar, [bisa] sahabat, keluarga. Intinya aku takut kehilangan sesuatu, momen, atau sesuatu yang aku punya. Dan itu aku laluin selama dua tahun,” kata Awkarin menambahkan.

Saat itu, Karin tidak tahu harus melakukan apa. Dia tidak tahu bahwa penting untuk segera berkonsultasi ke psikolog atau berbagi cerita ke teman. Alhasil, kesehatan mentalnya makin parah. Ia pun malu menceritakan apa yang dirasakan kepada orangtua, apalagi teman.

Namun, ia berusaha bangkit, mencari cara agar tidak lagi terjebak dalam ketakutan itu. “Aku nonton motivational speech, baca-baca buku motivasi, sampai aku enggak depresi lagi. Dan, aku melalui itu sendiri,” katanya.

Berbicara panjang lebar soal masalah mental yang pernah ia alami, Karin sama sekali tak malu. Masalah gangguan kesehatan mental sama dengan kesehatan fisik yang tidak bisa disepelekan.

Ia juga mengingatkan kepada penggemarnya yang memiliki masalah mental agar tak malu mengungkapkan dan segera mencari pertolongan.

Mental Illness

Mental Illness adalah kumpulan penyakit gangguan kejiwaan yang mempengaruhi pikiran, perasaaan dan perilaku seseorang. Gangguan kepribadian ini membuat penderita sulit untuk mengetahui perilaku yang dianggap normal dan tidak.

Mental Illness juga banyak menimpa remaja. Sebagian besar gangguan kesehatan mental muncul pada masa remaja atau mungkin di awal usia 20-an.

Para peneliti dari Harvard Medical School menemukan, separuh dari kasus gangguan mental dimulai dari usia sangat muda, 14 tahun dan tigaperempatnya terjadi sejak usia 24 tahun. Karena kemunculannya yang sangat dini itu, maka terapi dan penanganannya harus dilakukan sejak awal pula.

Selain mentall illness, gangguan yang cukup berbahaya adalah self diagnosis. Perasaan tidak nyaman dan kebingungan menjelaskan kondisi mental membuat seseorang merasa dirinya (self-diagnosis) mengalami gangguan mental.

Self-diagnosis berbahaya karena orang mungkin sampai pada kesimpulan yang salah terkait kondisi kesehatannya dan mengambil keputusan yang salah juga.

Psikolog klinis IndoPsyCare, Edo S. Jaya, di laman TheConversation, mengatakan beberapa pasiennya yang melakukan self diagnosis gangguan mental itu berujung menjadi pengguna narkotika dalam upaya mengobati diri.

“Salah satu pasien saya akhirnya ketergantungan obat penenang karena dia merasa dirinya mengidap stres. Padahal menurut pemeriksaan saya, dia hanya memiliki “serangan panik” yang bisa ditangani dengan terapi psikologis satu sampai dua bulan,” katanya.

Self Diagnosis

Mendiagnosa masalah gangguan mental tidak mudah karena diperlukan keahlian khusus dan pengetahuan mengenai diagnosis masalah, gangguan, atau sindrom mental.

“Saya sendiri tidak berani melakukan self diagnosis jika merasa ada masalah kesehatan mental. Meskipun saya sudah mengemban pendidikan di bidang psikologi klinis selama 10 tahun dan sudah menangani puluhan pasien,” katanya lagi.

Edo melihat munculnya tren orang berpikir gangguan kesehatan mental itu keren. “Saya menyayangkan beberapa orang yang beranggapan gangguan mental itu “keren” dan mendorong mereka melakukan self diagnosis,” ungkapnya.

Edo mencontohkan karakter Joker di film. Sepanjang film, ia mungkin ada kalanya terlihat perkasa dan hebat, tetapi ia tidak senang.

“Ia tidak bahagia. Ia tidak tenang. Ia tidak ingin berada dalam kondisi itu. Bagaimana “keren” kalau orang yang memilikinya saja tidak menginginkannya?” pungkasnya.

Ditulis oleh : Jafar Sodiq Assegaf

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.