Tips Pakai Hand Sanitizer Agar Tak Berefek Buruk pada Wajah

Pemakaian hand sanitizer secara massif di era pandemi dikhawatirkan bisa memicu masalah baru. Karena itu pemakaian hand sanitizer sebaiknya tidak sering.

JEDA.ID-Pemakaian hand sanitizer di era pandemi seperti sudah menjadi keharusan. Namun pemakaian hand sanitizer bisa berdampak buruk ke wajah. Kok bisa?

Ya, di masa pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, hand sanitizer atau cairan pembersih tangan sudah menjadi barang yang harus ada di dalam tas kita. Karena pembersih tangan ini praktis dan mudah dibawa kemana-mana.

Walaupun dokter menganjurkan mencuci tangan dengan sabun dan air jika dibandingkan dengan menggunakan hand sanitizer, tapi karena kepraktisannya membuat barang itu selalu ada.

Berapa Pendapatan Artis K-Pop Paling Ngetop?

Meskipun hand sanitizer bisa melawan kuman, tetapi hand sanitizer bisa menimbulkan dampak apabila digunakan sebelum pengaplikasian krim ke wajah. Tips kesehatan kali ini membahas efek pemakaian hand sanitizer jika terkena wajah.

Dokter Pemerhati Kesehatan Kulit Biomedik Kekhususan Anti-Aging, Ariana Suryadewi Soejanto,  mengatakan bahwa jangan menggunakan produk wajah setelah menggunakan hand sanitizer yang masih basah di tangan.

“Kandungan untuk hand sanitizer yang aman, biasanya sebagian besar kan alkohol yang sifatnya cepat menguap, jadi bukan yang kemudian akan bereaksi setelah kita biarkan mengering terlebih dahulu. Tapi kalau misalnya tangannya masih basah kena hand sanitizer lalu menyentuh wajah, bisa jadi ada efek tidak baiknya,” ujarnya seperti dikutip dari Bisnis.com, Senin (26/10/2020).

Hal lain yang perlu Anda pertimbangkan adalah risiko tangan menjadi kering karena alkohol menghilangkan kelembapan kulit Anda, dan dengan penggunaan yang konsisten dapat menyebabkan kulit kering pecah-pecah.

Bisa Memicu Kemunculan Bakteri Super

Untuk mengatasinya, oleskan pelembap setelah menggunakan hand sanitizer untuk menjaga hidrasi di dalam kulit Anda.

Sementara,Kepala Dewan Penasihat Ilmiah di British Institute of Cleaning Science, Andrew Kemp, menuturkan bahwa kebersihan tangan sangat penting untuk mengatasi penyebaran Covid-19 dan mencuci tangan adalah senjata yang ampuh. Namun, dia juga memperingatkan bahwa pembersih yang paling kuat sekalipun tidak menghancurkan seluruh virus dan bakteri yang ada.

Ampuh, Begini Cara Redakan Hidung Tersumbat Secara Alami

“Gel tangan sebaiknya hanya digunakan sebagai tindakan sementara jangka pendek jika sabun dan air tidak tersedia,” katanya.

Kekhawatiran lain menyangkut pemakaian hand sanitizer juga terkait bakteri. Peneliti memperingatkan bahwa penggunaan gel atau cairan pembersih tangan (hand sanitizer) secara masif untuk melawan virus corona baru dapat menciptakan bakteri super yang tak terbendung.

Andrew Kemp mengatakan gel tangan berbasis alkohol masih belum terbukti membunuh Covid-19 pada kulit.

Selain itu, akademisi itu juga menyebut penggunaan gel berlebihan akan memungkinkan bakteri lain yang biasanya ada di tangan manusia belajar untuk bertahan dari zat-zat kimia yang ada pada gel tersebut.

Pilihlah Cuci Tangan dengan Sabun dan Air

Jika bakteri yang kebal antibiotik beradaptasi untuk bertahan hidup terhadap alkohol, lanjut Kemp, hal tersebut akan menyebabkan situasi yang tak baik. Dia menyebutnya dengan kondisi armageddon, yakni ketika bakteri dalam bertahan dari antibiotik yang ada
Dia menekankan bahwa kebersihan tangan sangat penting untuk mengatasi penyebaran Covid-19 dan mencuci tangan adalah senjata yang ampuh.

Namun, dia juga memperingatkan bahwa pembersih yang paling kuat sekalipun tidak menghancurkan seluruh virus dan bakteri yang ada.

Penelitiannya yang diterbitkan dalam American Journal of Biomedical Science and Research tersebut akan dipresentasikan pada konferensi terkemuka tentang bakteri/virus super (superbug). Hal ini diharapkan meningkatkan kewaspadaan pejabat kesehatan yang telah menganjurkan penggunaan hand sanitizer.

Tips Terhindar Penipuan Lewat Telepon

Sebagaimana diketahui, pembersih tangan telah terjual secara masif di seluruh dunia pada awal pandemi dan sekarang menjadi barang rutin yang digunakan oleh masyarakat luas, bahkan disediakan di sejumlah tempat dan fasilitas publik.

Kemp mengatakan bahwa gel tersebut seharusnya tidak lagi terlalu diandalkan untuk membantu mengatasi pandemi Covid-19. Upayanya harus lebih difokuskan pada mencuci tangan menggunakan air untuk membilas virus.

“Gel tangan sebaiknya hanya digunakan sebagai upaya terakhir dan sebagai tindakan sementara jangka pendek atau menghentikan celah jika sabun dan air tidak tersedia,” katanya seperti dikutip Express UK, Senin (31/8/2020)

Dia melanjutkan bahwa banyak produk yang mengklaim dapat membunuh 99,9 persen bakteri adalah hal yang tidak benar. Menurutnya, yang dimaksudkan oleh para produsen dengan klaim tersebut adalah gel bisa membunuh 99,9 persen bakteri yang diuji, bukan spesifik virus corona baru.

Dengan ada lebih dari 1 juta bakteri di tangan manusia pada satu waktu, bahkan angka 99,9 persen berarti masih meninggalkan sekitar 10.000 bakteri hidup setelah melakukan sanitasi. Hal tersebut, katanya, akan menjadi residu gula dan protein yang bisa menjadi sarana kembang biak dari beberapa spesies bakteri.

“Penelitian terbaru menunjukkan bahwa bakteri yang masih hidup dan tidak terbunuh oleh gel alkohol adalah patogen yang sangat berbahaya dan dapat meningkat jumlahnya. Ini berarti penggunaan gel secara rutin pada akhirnya dapat menyebabkan lebih banyak kerugian,” tandasnya.

Tidak Ada Bukti Kuat

Adapun, World Health Organization (WHO) merekomendasikan untuk mencuci tangan teratur dengan sabun dan air. Mereka menyarankan penggunaan pembersih tangan berbasis alkohol hanya jika tidak ada akses terhadap sabun dan air.

WHO sebelumnya telah menyatakan bahwa tidak ada bukti kuat yang menunjukkan gel atau cairan pembersih tangan dapat mengarah pada bakteri super. Akan tetapi, penelitian yang dilakukan pad 2018 telah menunjukkan bahkan bakteri semakin kebal terhadap kandungan alkohol.

Sementara itu, para ilmuwan baru-baru ini sedang mengembangkan desinfektan tangan dan permukaan baru yang didasarkan pada asam hipoklorit – bagian dari sistem kekebalan tubuh sendiri. Ini dipercaya dapat membunuh virus dan bakteri tanpa meningkatkan risiko resistensi.

Ditulis oleh : Astrid Prihatini WD

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.