• Tue, 16 August 2022

Breaking News :

Sakit saat Pandemi, Apa Tandanya Anak Harus Dibawa ke Dokter?

Orang tua diminta untuk menunda membawa anak ke rumah sakit selama pandemi Covid-19 kecuali dalam keadaan gawat darurat.

JEDA.ID– Orang tua diminta untuk menunda membawa anak ke rumah sakit selama pandemi Covid-19 kecuali dalam keadaan gawat darurat. Lantas, bagaimana cara mengetahui bahwa anak yang sakit bisa ditangani di rumah atau harus segera dibawa ke dokter?

Dokter spesialis anak Atilla Dewanti menjelaskan tanda-tanda gejala demam, pilek, batuk dan diare yang serius pada anak dan harus segera ditangani petugas kesehatan.

Ketika anak mengalami demam, pilek, batuk atau diare, sebaiknya orangtua jangan terlalu khawatir bila kondisi mereka masih terlihat baik-baik saja.

“Tetap waspada, tapi kalau anak masih lincah, ketawa-ketawa, main-main dan happy, jangan terlalu khawatir,” kata Atilla dalam Facebook Live Johnson’s Parents Club, seperti dilansir Antaranews, Rabu (29/4/2020).

Berikut cara merawat anak saat sakit dan waktu yang tepat ke dokter.

Kereta Berisikan Wanita Cantik hingga Misteri Mobil Kim Jung Un

Demam

Saat anak demam, berikan air minum dan ASI yang lebih banyak. Setelah itu, pakaikan baju yang longgar dan nyaman. Dia menegaskan, tak perlu memakaikan anak selimut terlalu tebal atau memberikan kaus kaki karena justru akan menghalangi penguapan dari tubuhnya.

“Enggak perlu diuntel-untel dan dibedong,” kata dia.

Bila demam belum turun, berikan anak paracetamol dengan dosis 10 miligram per kilogram berat badan anak. Untuk anak dengan berat badan 10 kg, berarti paracetamol yang dibutuhkan adalah 100 mg. Obat paracetamol bisa diberikan tiap delapan jam bila anak masih panas.

“Demam yang harus dikhawatirkan itu ketika diberi obat turun, tapi habis itu naik lagi suhunya. Kalau sudah dua hari masih demam, anaknya lemas, curigai jangan-jangan ada penyakit lain, sebaiknya ke dokter.”

Batuk dan pilek

Batuk dan pilek dapat disebabkan oleh banyak hal, termasuk alergi. Jika orang tua punya alergi, ada kemungkinan anak juga mengalami alergi. Cara mencegah batuk pilek akibat alergi adalah menghindari faktor pencetusnya.

Selain itu, hindari juga minuman dingin dan makanan manis. Berikan anak lebih banyak air hangat serta oleskan salep gosok di dada dan punggung.

“Jika perlu, minum obat batuk dan pilek. Jika tiba-tiba sampai sesak, napas tersengal lebih dari 40-60 kali semenit, harus langsung ke dokter,” kata dia.

Diare

Buang air besar yang encer lebih dari lima kali alias diare bisa disebabkan oleh alergi makanan ketika anak baru mencicipi hidangan baru. Diare juga bisa diakibatkan tangan kotor anak yang dimasukkan ke mulut.

Untuk mengatasi diare, Atilla menyarankan orangtua agar menghindari asupan sayur dan buah pada anak. Berikan juga cairan oralit dan perbanyak minuman untuk mengganti cairan tubuh anak yang keluar saat diare.

“Minum selang seling antara oralit dan air putih, kalau anak mau susu atau ASI juga tidak apa-apa,” kata dia.

Menjaga anak agar tidak dehidrasi penting ketika buah hati mengalami diare. Orangtua dapat memantau frekuensi anak buang air kecil. Bila diare lebih dari delapan kali sehari dan dehidrasi, segera bawa ke dokter.

Tips Atasi Kulit dan Bibir Kering saat Puasa

Haruskah Bayi Pakai Masker Kain?

Masker kain dianjurkan untuk dipakai selama berada di luar rumah untuk menekan risiko penyebaran virus corona. Apakah anjuran ini juga wajib diterapkan untuk anak-anak dan bayi?

Dokter spesialis anak Atilla Dewanti mengatakan anak-anak di atas dua tahun sebaiknya memakai masker bila keluar rumah selama pandemi. Untuk anak di bawah dua tahun, cukup pakaikan bila anak merasa nyaman.

“Mereka sudah mengerti cara pakainya, kalau bayi atau di bawah itu takutnya malah menarik-narik masker, sementara kita tidak boleh menyentuh mata dan mulut dengan tangan,” kata Atilla.

Masker boleh diberikan kepada anak yang lebih anteng dan tak masalah memakai masker, ujar dokter yang praktik di RSIA Brawijaya itu.

Dia mengingatkan orang tua agar berhati-hati memakaikan masker untuk bayi yang masih kecil untuk memastikan pernapasannya tidak terganggu.

Jika anak justru tak nyaman dan ingin menarik-narik masker dari wajahnya, sebaiknya tak perlu memakaikannya karena justru tangan anak bisa terpapar virus yang menempel di permukaan masker.

Sembari mengenakan masker tetap menjaga jarak dengan orang lain setidaknya dua meter. Lalu, masker tetap menutup hidung, mulut, dan dagu serta cobalah tidak menyentuh masker saat Anda mengenakannya.

Ditulis oleh : Anik Sulistyawati

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.