Riwayat Kebakaran Dahsyat Australia 1980-2020

Australia berulangkali mengalami kejadian kebakaran hebat sejak lama dipicu oleh beragam faktor termasuk cuaca ekstrem dan ulah manusia.

JEDA.ID – Australia mengalami salah satu kebakaran terparah dalam sejarah. Kebakaran hutan yang telah mencapai lebih dari 5,25 juta hektare di Australia membuat hampir setengah miliar satwa mati.

Luas area yang terbakar itu nyaris sebanding dengan luas Provinsi Nova Scotia, Kanada, yang mencapai 5,29 juta hektare. Dilansir Global News, sampai hari ini (6/1/2020), Australia masih berjuang memadamkan kebakaran yang mengerikan tersebut.

Chris Dickman, seorang profesor ekologi di University of Sydney, awalnya memperkirakan bahwa 480 juta mamalia, burung, dan reptil menjadi korban kebakaran hutan di negara bagian New South Wales (NSW) saja sejak September lalu.

Pada Jumat pekan lalu (3/1/2020), pihak berwenang mendesak warga Australia untuk mengevakuasi diri dari beberapa bagian timur negara bagian New South Wales dan Victoria. Ini dilakukan untuk menghindari kebakaran hutan yang dikhawatirkan terus terbakar di luar kendali.

Mengutip CNBC, Perdana Menteri Scott Morrison menerima amukan dari masyarakat khususnya warga Corbago New South Wales. Mereka mengkritik pemimpin itu seraya berkata bahwa Morrison harus malu pada dirinya sendiri karena meninggalkan negara itu terbakar.

Pemerintah konservatif Morrison telah lama menuai kritik karena tidak melakukan cukup banyak untuk memerangi perubahan iklim, sebagai penyebab kekeringan dan kebakaran hebat Australia.

Kebakaran Hutan 2015 Seluas 39 Kali DKI Jakarta

Kebakaran November 2019

Morrison juga dibayangi kejadian hampir serupa pada November 2019 silam. Dilansir News.com.au, Jumat (9/11/2019) pihak berwenang Australia menyatakan kebakaran yang sedang terjadi sejak September menciptakan situasi darurat yang belum pernah terjadi di Australia.

Lebih dari 90 titik kebakaran mengancam beberapa tempat di negara bagian New South Wales (NSW) pada Jumat (8/11/2019).

Angin kencang dan temperatur yang mencapai 35 derajat Celcius memperburuk kebakaran yang terjadi di daerah-daerah yang dilanda kekeringan.

Beberapa laporan menyatakan penduduk terperangkap di rumah-rumah mereka di beberapa lokasi, dan regu penyelamat tak bisa menolong karena kuatnya kobaran api.

Mundur jauh di tahun 2018, Kawasan Sydney selatan dan pantai selatan New South Wales diselimuti asap tebal akibat kebakaran hutan di Taman Nasional Kerajaan, Australia.

“Asap api dari hutan juga menyebar ke berbagai kota di Australia,” tulis situs berita SBS News, Senin, 22 Januari 2018.

SBS News dalam laporannya menyebutkan api terus menjalar setelah mendapatkan tiupan angin kuat hingga merobek lahan belukar seluas lebih-kurang 2.000 hektare sejak Sabtu, 20 Januari 2018.

Kondisi ini membuat petugas pemadam kebakaran bertarung keras melawan api yang terus membumbung ke langit. Selain mengerahkan water cannon, petugas menggunakan helikopter untuk memadamkan api.

Sejak Senin petang, 21 Januari 2018, waktu setempat, petugas pemadam kebakaran melanjutkan usahanya memadamkan api di tengah suhu kering. “Otoritas Australia berharap api dapat diatasi hingga Selasa, 22 Januari 2018,” SBS News melaporkan.

Kebakaran hutan di Australia kebanyakan disebabkan musim kemarau yang disusul gelombang panas. Dari masa ke masa seiring perubahan iklim, kebakaran hutan makin sering terjadi.

Area Kebakaran Hutan dan Lahan 5 Kali Luas Jakarta

Kebakaran 1850-1980

Men of Yesterday: A Social History of the Western District of Victoria, 1834-1890, mencatat kejadian kebakaran di Australia sebelum abad ini. Sejak pertengahan tahun 1850 kawasan Victoria didera gelombang panas dan kekeringan dahsyat.

Hal itu memicu kebakaran hutan besar pada 6 Februari 1851. Setidaknya lima juta hektar atau seperempat luas Koloni Victoria habis terbakar. Kebakaran ini menjadi yang terdahsyat sebelum rekor itu dipecahkan 2018.

Selain gelombang panas yang mencapai 47,2 derajat celcius dan kekeringan, menurut Margaret Kiddle dalam kebakarannya disebabkan oleh bara bekas api unggun yang ditinggalkan para pemburu emas di Plenty Ranges. Bara api itu tertiup angin kencang ke semak-semak kering.

Kebakaran hutan itu merembet ke sejumlah wilayah pertanian dan peternakan di Plenty Ranges, Portland, Western Port, Wimmera, Dandenong, Gippsland, hingga Mount Macedon. Kebakaran itu menewaskan 12 orang dan sekira sejuta domba serta ribuan hewan ternak lain.

Kebakaran mengerikan lain terjadi pada Jumat, 13 Januari 1939. Peristiwa ini kerap tercatat sebagai tragedi Black Friday. Menukil Lewis Wendy dkk. dalam Events That Shaped Australia, kebakaran hutan ini menghanguskan total dua juta hektar atau sepertiga wilayah Victoria.

Total 71 orang tewas akibat kebakaran ini. Lebih dari 1.000 rumah hangus kala kebakaran hutan ini merembet ke kota-kota di sekitarnya, di antaranya Hill End, Narbethong, Nayook West, Noojee, Woods Point, Omeo, Pomonal, Warrandyte, Yarra Glenn, dan Adelaide Hills.

Kebakaran besar kembali terjadi di sejumlah wilayah New South Wales dalam kurun Desember 1974-Januari 1975. Api merambat hingga memusnahkan 4,5 juta hektar lahan, menewaskan tiga orang serta melukai 100 lainnya dan menghancurkan 40 rumah.

Riwayat berikutnya dalah di dekade 1980-an. MacDougall dalam tulisan The Australian Bushfire Cooperative Research Centre Program menggambarkan kedahsyaran kebakaran di New South Wales akhir Desember 1984-Februari 1985.

Selain menghanguskan sekira 3,5 juta hektar lahan, kebakaran itu juga memusnahkan 40 ribu hewan ternak dan menewaskan empat orang.

“Pada Hari Natal (25 Desember) tercipta 100 titik api yang dipicu sambaran petir. Hasilnya 500 ribu hektar terbakar. Yang terbesar di Cobar, terjadi pada pertengahan Januari dengan menghanguskan 516.000 hektar dari total 3,5 juta hektar keseluruhan. Kebakaran memunculkan angka kerugian 40 juta dolar Australia,” sebut ketua BCRC atau Pusat Riset dan Kerjasama Kebakaran Hutan itu.

Ditulis oleh : Jafar Sodiq Assegaf

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.