RI Posisi ke-73, Ini Sejumlah Hal yang Memengaruhi Kekuatan Paspor

Saat ini dengan berada kekuatan paspor Indonesia dinilai masih tergolong lemah dibandingkan negara-negara lain terutama Singapura.

JEDA.ID— Saat ini kekuatan paspor Indonesia dinilai masih tergolong lemah dibandingkan negara-negara lain terutama Singapura. Belum lama ini, Henley Passport Index telah merilis daftar anyar paspor terkuat di dunia. Jepang dan Singapura ada di posisi teratas.

Daftar anyar itu dirilis per 1 Oktober seperti dilihat dari www.henleypassportindex.com. Jepang dan Singapura menjadi negara dengan paspor terkuat di dunia, salah satu indikasinya adalah bahwa paspor mereka menawarkan akses bebas visa ke 190 negara.

Finlandia, Jerman, dan Korea Selatan menempati posisi berikutnya dalam daftar paspor terkuat di dunia dari Henley Passport Index. Pemegang paspor dari ketiga negara tersebut menawarkan akses bebas visa ke 188 negara. Denmark, Italia, dan Luksemburg menjadi tiga negara di posisi ketiga (187) dengan diikuti oleh Prancis, Spanyol, dan Swedia (186). Austria, Belanda, dan Portugal (185) melengkapi lima besar dalam daftar ini.

Sementara itu, Henley Passport Index mencatat paspor Indonesia ada di posisi ke-73 dalam daftar paspor terkuat dunia saat ini. Pada posisi tersebut, paspor Indonesia memiliki kekuatan yang sama dengan Zambia. Di satu posisi lebih baik ada paspor Tiongkok dan Kenya dengan akses bebas visa ke-71 negara.

Faktor yang Memengaruhi

Dengan posisinya di peringkat ke-73, pemegang paspor Indonesia memiliki akses bebas visa ke-70 negara.
Kondisi yang sangat jauh berbeda dengan para pemegang paspor Singapura yang bisa mengakses visa bebas hingga 190 negara. Banyak faktor memengaruhi kekuatan paspor sebuah negara. Berikut faktor-faktor yang berpengaruh pada kedudukan dan kekuatan paspor seperti dilansir dari berbagai sumber.

1. Faktor Politik

Alasan politik sering digunakan sebagai senjata dalam beberapa urusan bahkan di dunia hubungan internasional guna melangsungkan kepentingan negara yang bersangkutan supaya lancar. Sebagai contoh, beberapa negara yang tergabung dalam commonwealth mempunyai kedudukan paspor yang kuat, sebut saja Singapura (1) dan Malaysia di posisi ke-12.

2. Jumlah populasi

Ada ketakutan bagi pemberi visa kepada negara yang memiliki jumlah populasi penduduk besar. Mereka takut jika pemberlakuan bebas visa akan dimanfaatkan untuk migrasi besar-besaran. Misalnya India yang memiliki penduduk lebih dari 1,3 miliar saat ini menempati posisi ke 82. Sebaliknya, Finlandia, Singapura, dan Denmark yang notabene memiliki jumlah penduduk kecil berada di rangking atas.

3. Faktor Keamanan

Setiap negara menginginkan negaranya aman dan bebas dari ancaman asing atau luar negeri, hal ini yang enyebabkan faktor keamanan berpengaruh dalam hal pemberian bebas visa. Contoh sekarang ini adalah Amerika Serikat yang membuat kebijakan imigrasi dengan membatasi bahkan melarang negara-negara yang dirasa mengancam keamanan negaranya.

4. Negara demokrasi

Kebebasan berdemokrasi yang diterapkan sebuah negara juga memengaruhi kekuatan paspornya. Negara-negara demokratis yang menjamin hak politik dan kemerdekaan sipil warganya cenderung mendapatkan lebih banyak izin bebas visa, karena warga negara-negara tersebut tidak dianggap sebagai ancaman oleh negara pemberi visa.

5. Pendidikan dan kesehatan

Faktor pendidikan dan kesehatan jadi perhatian serius para pemberi izin bebas visa. Negara-negara dengan tingkat kemampuan bahasa Inggris yang baik cenderung lebih mudah peroleh visa. Sedangkan dalam kaitannya dengan masalah kesehatan, muncul kekhawatiran tersebarnya virus penyakit berbahaya yang dibawa oleh pengunjung dari negara yang kurang perhatian dengan kesehatan warganya. Negara yang penduduknya rentan terhadap serangan suatu penyakit lebih sulit mendapatkan izin visa.

6. Faktor Timbal-Balik (Reciprocal)

Faktor reciprocal dinilai paling ideal untuk memberikan bebas visa karena dengan cara ini kedua negara yang bersangkutan melakukan kesepakatan dengan hasil yang sama karena sifatnya dua arah. Banyak sekali negara yang melakukan kesepakatan bebas visa, contohnya yaitu Indonesia dan Mali. Mali memberikan bebas visa kepada Indonesia dikarenakan asas resiprositas yang dijunjung tinggi oleh Mali sebagai kebijakan internasionalnya.

7. Faktor Mentalitas

Salah satu alasan sebuah paspor negara itu lemah dikarenakan mentalitas warga negara itu sendiri. Sebuah negara tidak akan memberikan atau akan mencabut bebas visa jika negara tersebut adalah penyumbang tenaga kerja asing ilegal bahkan overstayer yang dilakukan secara sengaja. Tindakan tersebut secara tidak langsung merugikan dirinya sendiri bahkan negaranya, hal ini yang dapat memperlambat dan menghambat proses pembebasan visa.

8 Faktor Pemberian

Biasanya cara ini ditempuh untuk meningkatkan pariwisata negara tersebut. Sebagai contoh Indonesia memberikan bebas visa ke ratusan negara di dunia dalam upaya menarik wisatawan mancanegara untuk kepentingan pariwisata di Indonesia.

Namun adakalanya hal ini bisa jadi bumerang untuk negara pemberi visa tersebut jika kurangnya pengawasan keamanan dan keimigrasian terhadap turis dari negara mana yang diberikan fasilitas tersebut. Mungkin kebijakan seperti ini bisa dimanfaatkan oleh warga asing nakal yang akan tinggal di negara tersebut secara ilegal.

9. Faktor Diplomasi

Faktor vital yang sangat memengaruhi kedudukan paspor sebuah negara. Kita ambil contoh, Timor Leste adalah negara yg berekonomi lemah tetapi mereka bebas visa Schengen. Contoh lain adalah Amerika Serikat yang merupakan negara yang berpenduduk besar, tetapi paspor mereka begitu kuat. Kedua negara tersebut adalah contoh negara yang mengandalkan kekuatan diplomasi yang bagus dan berdampak kepada kedudukan paspor negara tersebut.

Ditulis oleh : Anik Sulistyawati

Menarik Juga

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.