Mungkinkah Cryptocurrency Jadi Mata Uang Masa Depan?

Mata uang digital masih berpotensi jadi mata uang masa depan. Mungkinkah mata uang digital mampu menjadi mata uang masa depan dalam waktu dekat ini?

JEDA.ID-Cryptocurrency (mata uang digital) diperkirakan akan bersinar meski digoyang pandemi Covid-19. Mata uang digital masih berpotensi jadi mata uang masa depan. Tak cuma itu, nilai dari mata uang crypto ini diharapkan bisa mencegah oversupply uang cetak di masyarakat.

Hal ini justru menimbulkan konspirasi mengenai kemungkinan adanya perubahan pada dunia finansial untuk menggunakan mata uang digital (cryptocurrency) sebagai salah satu tujuan dari New World Order atau para elite global.

Mungkinkah mata uang digital mampu menjadi mata uang mata uang masa depan dalam waktu dekat ini? Apakah Bitcoin atau cryptocurrency lainnya bisa jadi  uang di masa depan atau hanya sekadar konspirasi tanpa dasar?

6 Benda Ini Diprediksi Hilang pada 2025, Benarkah?

Rektor Universitas Indonesia (UI) periode 2019-2024 yang juga merupakan Guru Besar bidang Ilmu Ekonomi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UI, Ari Kuncoro, menjelaskan bahwa kemungkinan menjadikan cryptocurrency sebagai mata uang satu-satunya di dunia dalam waktu dekat adalah hal yang hampir menuju mustahil.

“Justru pandemi potensinya menimbulkan decoupling, jadi artinya malah terjadi deglobalisasi. Semua fokus pada pemulihan negaranya masing-masing. Jadi kalau ada satu digital malah jadi pertanyaan, nanti yang menjadi penjaminnya siapa?” tutur  Ari melalui sambungan telepon seperti dikutip dari detikcom, Selasa (17/11/2020).

Lebih kepada alternatif

Ari percaya bahwa salah satu kemungkinan dampak dari Covid-19 bukanlah global world currency melainkan adanya currency yang digunakan sebagai mata uang dunia misalnya US Dollar, Yuan, atau Yen.

Namun kembali lagi, ini bergantung pada kemampuan negara yang dipakai mata uangnya untuk mencetak uang yang banyak. Jika salah langkah sedikit, justru bisa menjadi bumerang dengan ancaman inflasi.

Kembali pada Bitcoin dan cryptocurrency lainnya,  Ari mengatakan mereka bisa dikatakan hanya merupakan suatu alternatif.

“Seandainya kalau ada yang pakai Bitcoin, itu bakal tetap bersaing dengan yang lain, jadi tidak bisa kita namakan one global currency. Dia salah satu alternatif ya, Bitcoin, master card, atau visa card,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menekan dalam prinsip ekonomi dikenal bahwa suatu ekonomi dipegang oleh terlalu sedikit orang dampaknya justru berbahaya. Ancaman tersebut adalah monopoli. Dengan demikian, cryptocurrency sebagai pengganti mata uang di masa mendatang sangatlah kecil kemungkinannya — atau masih butuh waktu yang lama untuk mewujudkannya.

Sebelumnya, kendati aset di dunia mengalami penurunan nilai, bahkan untuk aset menjanjikan seperti emas dan bitcoin, Co-founder Messari Dan McArdle mengatakan bahwa banyak orang gagal paham dan meremehkan proposisi nilai cryptocurrency.

“Jika mereka [bank global] berhasil mencegah penurunan harga aset lebih lanjut, likuiditas baru mungkin akan mencari aset langka seperti bitcoin,” ucapnya seperti dikutip dari detikcom, belum lama ini.

Cryptocurrency sendiri merupakan mata uang digital yang melalui proses pembuatan dengan teknik enkripsi dan dikelola oleh jaringan peer to peer. Saat ini ada ratusan cryptocurrency yang ada dan beredar di seluruh dunia dan yang paling dikenal adalah Bitcoin.
Max Lautenschläger, mitra pengelola dan salah satu pendiri Iconic Holding, kendati studi dalam keuangan perilaku menunjukkan bahwa orang cenderung mengubah semua aset likuid menjadi uang tunai untuk bersiap menghadapi krisis yang akan datang karena Covid-19, crypto masih merupakan kelas aset berkinerja terbaik tahun 2020.

“Dengan kebijakan moneter ECB, FED, dan BoJ, Anda dapat dengan jelas melihat semakin banyak orang hilang kepercayaan pada kebijakan bank sentral dan uang dalam desainnya saat ini. Inilah mengapa crypto lahir pada  2009 sebagai reaksi terhadap krisis keuangan,” tuturnya mengutip Finovate.

Sementara itu melansir Verdict, The Deutsche Bank memprediksi crypto sebagai alat pembayaran di masa depan.

“Cryptocurrency pasti memiliki potensi untuk menggantikan alat pembayaran tunai dalam 10 tahun ke depan,” kata Peter Wood, CEO CoinBurp.

“Pengadopsian massal pemegang dompet blockchain menyusul penurunan publik dalam penggunaan tunai, kepercayaan yang goyah di bank-bank modern dan sistem fiat yang rapuh hanya akan meningkat dikarenakan legitimasi dan popularitas mata uang digital terus melesat,” sambungnya.

Meningkatnya minat perusahaan teknologi besar dalam cryptocurrency, seperti Facebook dengan peluncuran Libra, kemungkinan akan membantu pemasaran crypto. Namun, masih ada banyak rintangan yang harus diatasi.

“Mereka harus menjadi sah di mata pemerintah dan regulator. Itu berarti membawa stabilitas harga dan membawa keuntungan bagi pedagang dan konsumen,” kata Marion Laboure, dosen Ekonomi dan Keuangan Harvard University dalam laporan Deutsche Bank.

Ditulis oleh : Astrid Prihatini WD

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.