Mengulik Teknologi Fast Charging Baterai dan Mitosnya

Apakah benar  bahwa fitur fast charging ini tidak baik buat baterai atau mengurangi umurnya terutama dalam jangka panjang?

JEDA.IDFast charging atau pengisian baterai cepat seakan sudah menjadi standar di HP masa kini. Bahkan HP kelas menengah pun sudah  dibekali teknologi fast charging.

Nah, apakah benar  bahwa fitur fast charging ini tidak baik buat baterai atau mengurangi umurnya terutama dalam jangka panjang?

Beberapa ponsel sudah dilengkapi charger yang bisa menghantarkan daya mencapai 40 atau bahkan 50 watt. Beberapa produsen sudah pula mencoba fast charger di atas 100W.

Daya sebesar ini membuat baterai ponsel bisa diisi ulang dari kosong sampai penuh dalam waktu 1 jam, malah mungkin kurang di masa depan.

Olahraga bagi Usia 40 Tahun ke Atas, Apa Sajakah yang Cocok?

Kabar baiknya, sejumlah ahli menyebutkan teknologi fast charging ini tidak merusak baterai kecuali ada masalah teknis di baterai atau chargernya. Namun jika semua sistem pengisi daya di HP berfungsi dengan normal, fast charging tidak akan merusak baterai, baik dalam jangka pendek ataupun panjang.

“Kecuali ada cacat teknis di baterai HP Anda atau di charger yang ada, maka menggunakan fast charger tidak akan merusak baterai HP dalam jangka panjang,” tulis media teknologi Cnet dan dikutip detikcom, Sabtu (21/11/2020).

Apa alasannya? Fast charging tak merusak baterai HP ternyata karena teknologi menyesuaikan sifat baterai. Baterai akan mempunyai beban berat saat diisi ulang, terutama setelah terisi setidaknya 80%, dan beban inilah yang bisa berdampak pada menurunnya daya tahan baterai.

Tepatkah Menggabungkan Rekening Setelah Menikah?

Karena itulah teknologi fast charging yang ada saat ini, apapun jenisnya, bekerja pada dua tahap. Yaitu menggenjot daya yang dihantarkan ke baterai pada saat kapasitas baterai di bawah 70-80%. Setelah itu daya yang dihantarkan akan berkurang drastis.

Ini karena pada tahap pertama tersebut sel baterai bisa menyerap daya dengan cepat tanpa efek negatif pada daya tahannya. Sifat baterai itulah yang dimanfaatkan oleh pembuat teknologi fast charging.

Mitos over charging

Sebagai contoh, Samsung menjanjikan charger 45 watt-nya bisa mengisi baterai ponsel dari 0% sampai 70% dalam waktu setengah jam. Sementara Apple mengklaim iPhone 11 Pro bisa diisi ulang dari 0% sampai 50% dalam waktu 30 menit.

Sementara pada 20% sampai 30% terakhir, pengisian baterainya akan berjalan lambat. Karena pada tahap kedua inilah sel baterai berpotensi rusak jika diberi beban tinggi dengan mengisinya menggunakan daya yang besar

“Kerusakan adalah hal yang langka jika semuanya dikendalikan dengan baik di dalam. Sistem manajemen baterai mengawasi fase dua tahap isi ulang itu dan menurunkan kecepatan fast charging dalam fase kedua,” tulis Cnet

Ada pula kekhawatiran bahwa fast charging akan membuat pasokan daya ke baterai berlebihan dan akhirnya membuat baterai rusak atau lebih buruk lagi. Hal ini pun ternyata hanya mitos lantaran jika kapasitas baterai sudah 100%, sistem akan menghentikan pasokan daya.

Makanan Mengandung Seng Ini Bisa Dongkrak Imunitas Tubuh

“Kecuali ada yang tidak beres dengan sirkuit baterai, Anda tidak bisa overcharge HP jenis modern. Ada perlindungan yang memang khusus dibuat untuk menghentikan hal itu terjadi,” kata Venkat Srinivasan, periset baterai di Argonne National Laboratory.

Ditulis oleh : Astrid Prihatini WD

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.