Indonesia Raja Nikel, Harga Mobil Listrik Jadi Murah?

Sejumlah produsen mobil mengklaim harga baterai mengambil porsi hingga 60% dari total harga kendaraan listrik itu sendiri.

JEDA.ID–Indonesia menjadi salah satu pemain penting dalam perdagangan nikel dunia. Saking berpengaruhnya Indonesia, harga nikel dunia melambung ke angka tertinggi sejak 2014 setelah pemerintah mengumumkan kebijakan larangan ekspor bijih nikel mulai 1 Januari 2020. Nikel kini punya pengaruh besar karena menjadi bahan utama pembuatan baterai lithium, termasuk untuk mobil listrik.

Larangan ekspor bijih nikel awalnya akan diberlakukan mulai 2022. Namun, kebijakan itu maju menjadi awal 2020 alias dalam hitungan bulan ke depan.

Meroketnya harga nikel di dunia karena pengumuman kebijakan ekspor dari Indonesia serta tingginya permintaan nikel untuk kebutuhan baterai mobil listrik.

”Sentimen-sentimen ini sangat mengangkat harga nikel secara signifikan, bahkan sekarang harga nikel sudah melampaui harga timah,” ujar Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim sebagaimana dikutip dari laman Bisnis.com, Rabu (4/9/2019).

Menurut Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Indonesia akan mampu menghasilkan 2,12 juta ton nikel pig iron (NPI) dan 482.400 ton feronikel (FeNi) pada 2017.

Berdasarkan data dari Badan Geologi per 2012, Indonesia memiliki 1,02 miliar ton dari total cadangan nikel terutama berlokasi di Sulawesi dan Maluku.

Praktisi Eksplorasi dan Tambang, Budhi Kumarawarman, sebagaimana dikutip dari laman IAGI (Ikatan Ahli Geologi Indonesia), menyebut sebanyak 68% dari nikel yang diproduksi di dunia digunakan sebagai bahan dalam pembuatan stainless steel (baja tahan karat).

Sisanya digunakan untuk pembuatan alloy (16%), plating (9%), baterai (3%), dll. Dengan perkembangan industri mobil listrik, kebutuhan nikel untuk membuat baterai lithium kian meningkat.

nikel

Pengolahan nikel (JIBI)

Ketua Tim Peneliti Baterai Lithium Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo Agus Purwanto menyebutkan kandungan baterai lithium-ion terdiri atas anoda, katoda, dan elektrolit.

Agus melanjutkan, material katoda yang mengandung nikel dan umum digunakan di baterai lithium ion, adalah Li-NMC (lithium-Nikel Mangan Cobalt oksida) dan Li-NCA (Lithium-Nikel Cobalt Alumunium Oksida).

”Kita punya kandungan nikel yang banyak, sehingga seharusnya kita bisa menguasai salah satu rantai pasok baterai lithium,” kata dia sebagaimana dikutip dari Liputan6.com.

Produsen Baterai Terbesar

Menko Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan bahkan mengadang-gadang Indonesia akan menjadi produsen baterai lithium terbesar di dunia. Salah satu tolok ukurnya adalah keberadaan pabrik baterai lithium di Morowali, Sulawesi Tengah.

Dia menyatakan banyak perusahaan yang akan terlibat dalam pabrik baterai di Morowali. Dia menolak anggapan yang menyebut proyek ini dikuasai China. Banyak perusahaan yang ikut menggarap proyek baterai ini dengan alasan butuh sumber daya yang efisien.

“Morowali akan libatkan, CATL, Panasonic, Volkswagen, LG, dan Mercedes Benz. Jadi bukan China-China aja lagi, ini masalah orang butuh dan ada efisiensi,” tegas Luhut di acara Indonesia Electric Motor Show sebagaimana dikutip dari Detikcom.

Pembangunan pabrik bahan baku baterai lithium di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), Sulawesi Tengah sudah berjalan sejak awal 2019. Rencananya pada 2020 pabrik ini bisa memproduksi baterry cell.

Selama ini mobil listrik jauh lebih mahal dibandingkan mobil yang menggunakan bahan bakar fosil. Salah satu komponen mobil listrik yang menjadikan kendaraan itu mahal adalah baterai.

Selain itu ada faktor lain seperti teknologi, bahan baku mayoritas dipasok dari luar negeri, hingga software kendaraan itu.

Sejumlah produsen mobil mengklaim harga baterai mengambil porsi hingga 60% dari total harga kendaraan listrik itu sendiri. Artinya, bila baterai mampu diproduksi lokal maka akan menekan harga mobil listrik.

Produsen mobil listrik menyatakan tidak berencana memproduksi baterai untuk memenuhi kebutuhan mobil listriknya. Mereka pun menggandeng perusahaan baterai untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

motor listrik

Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan menjajal motor listrik (Antara)

”Begitu kemarin nikel tidak boleh diekspor, mereka [produsen baterai yang menggunakan nikel dari Indonesia] tidak bisa bikin lagi di luar. Mereka jadi harus bikin di Indonesia,” sebut Luhut.

Bisa Lebih Murah

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko mengatakan mobil listrik saat ini memang masih memiliki banderol yang mahal. Namun, ia berharap bila sudah diproduksi dalam negeri hal ini bisa mengurangi harga jual kendaraan.

”Saya memprediksi kalau sekarang mobil listrik menjadi harga mahal, tetapi sebentar lagi mobil listrik akan menjadi konsumsi yang dinikmati masyarakat luas,” kata Moeldoko seperti dikutip dari Detikcom.

Dia mengatakan hal ini terjadi apabila Indonesia sudah mampu membuat kendaraan bermotor listrik dengan total kandungan dalam negeri yang tinggi. Setidaknya ia menyebut ada empat komponen mobil listrik yang saat ini bisa dikuasai.

Pertama baterai, kedua motor, ketiga motor controller untuk mengubah kecepatan, empat inventor dari DC ke AC. Ditambah satu komponen dari luar charging station.

“Lima hal ini, sebentar lagi kita miliki, kalau sekarang mobil listrik mahal, tapi saya punya keyakinan mobil listrik ke depan itu akan murah. Akan murah kenapa, karena kita akan segara bangun motor sendiri, baterai sendiri,” jelas dia.

Ditulis oleh : Danang Nur Ihsan

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.