Beda Jepang dan China saat Garap Mobil Listrik

Untuk Indonesia tidak terlalu penting terkait jenis kendaraan listrik karena yang dibutuhkan ialah volume unit yang banyak untuk menekan konsumsi bahan bakar.

JEDA.ID–Adopsi kendaraan listrik secara massal di Indonesia bakal semakin dekat. Pabrikan China dan Jepang sama-sama ancang-ancang memasarkan mobil listrik di Tanah Air setelah regulasi dikeluarkan pemerintah.

Jika dicermati, terdapat dua pendekatan berbeda yang dilakukan antara produsen China dan Jepang dalam menggarap mobil listrik. China cenderungmemilih full electric, sedangkan pabrikan Jepang condong ke kendaran hybrid.

Ketua Tim Mobil Listrik Nasional (Molina) Agus Purwadi mengatakan semua jenis kendaraan ramah lingkungan dibutuhkan di Indonesia untuk menekan konsumsi bahan bakar.

Pabrikan Jepang, katanya, unggul untuk kendaraan hibrida sehingga China lebih banyak memilih langsung ke kendaraan listrik berbasis baterai.

”Kalau China dia tahu kalau hibrida dia tidak mungkin bersaing dengan Jepang karena Jepang sangat advance [hybrid],” ujar di di sela-sela GIIAS 2019, Tangerang, sebagaimana dikutip dari Bisnis.com, Kamis (25/7/2019).

Walaupun China mendorong mobil listrik baterai, saat ini Negeri Panda juga mulai melirik kendaraan hibrida untuk meningkatkan populasi kendaraan listrik.

Dia menilai untuk Indonesia tidak terlalu penting terkait jenis kendaraan listrik karena yang dibutuhkan ialah volume unit yang banyak untuk menekan konsumsi bahan bakar.

“Kita butuh semua, butuh hybrid, PHEV butuh EV supaya kurangi konsumsi bahan bakar dan emisi secara cepat,” tambah dia.

Dipasarkan Global

Dua pabrikan China memajang mobil listrik buatan mereka dalam berbagai pameran. DFSK misalnya memajang E3, kendaraan listrik berbasis baterai yang telah dipasarkan secara global.

DFSK Glory E3 menggunakan baterai berkapasitas 52,56 kWh yang diklaim bisa melaju hingga 405 kilometer dalam kondisi baterai penuh. Untuk mengisi baterai, perusahaan juga telah menyiapkan pengisi daya cepat yang mampu mengisi baterai antara 20%—80% dalam waktu 30 menit, sedangkan untuk slow charging dibutuhkan waktu selama 8 jam.

DFSK Indonesia mengungkapkan pabrik yang dibangun dengan investasi US$150 juta di Cikande, Serang, Banten sudah mampu memproduksi kendaraan listrik full baterai Glory E3.

”Jadi kalau pertanyaannya bisa diproduksi di sini atau tidak? Ya tentunya jawabannya kami sudah siap dari sisi fasilitas produksi ataupun factory. Kami sudah siap untuk memproduksi E3 di Indonesia,” kata Major Qin, Head of Marketing Team PT Sokonindo Automobile.

Sebelumnya, Wuling juga sempat memamerkan e100, kendaraan listrik mungil berbasis baterai.

Sedangkan pabrikan Jepang kendati memiliki kendaraan full electric lebih mengedepankan keunggulan teknologi hibrida termasuk hibrida colokan. Toyota memamerkan beragam mobil hibridanya, sedangkan Mitsubishi Motors mulai memasarkan Outlander PHEV.

Nissan juga dengan memajang Nissan Leaf, salah satu model kendaraan listrik terlaris milik pabrikan Jepang ini. Nissan juga masih memiliki kendaraan listrik hybrid e-Power yang juga telah dipasarkan secara global.

Kesiapan Konsumen

Executive General Manager PT Toyota Astra Motor (TAM) Fransiscus Soerjopranoto menilai ada dua hal yang menjadi fokus Toyota dalam jangka pendek terkait dengan akselerasi produksi kendaraan listrik.

Pertama, kesiapan konsumen Indonesia sebagai konsumen di negara berkembang. Menurutnya, perlu adanya edukasi atau pengenalan lebih serius pada kendaraan listrik.

Kedua, pemerintah dan para produsen kendaraan sudah memiliki arah yang sama. Maksudnya, dalam rencana menuju industri 4.0, motor listrik menjadi prioritas utama dan dilanjutkan dengan kendaraan roda empat atau lebih yang akan dilokalisasi.

Kebijakan Toyota Astra Motor dengan terus mengembangkan dan mengenalkan kendaraan hibrida disebut sudah sesuai dengan kebutuhan masyrakat Indonesia saat ini. ”Negara-negara maju juga tidak langsung menggunakan kendaraan full listrik tapi hybrid dahulu,” katanya.

Saat ini pemerintah masih mematangkan aturan terkait kendaraan listrik di Indonesia. Beberapa insentif disiapkan baik untuk sisi manufaktur ataupun harga kendaraan yang bakal berdampak ke konsumen.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengungkapkan bahwa perpres kendaraan listrik tinggal ditandatangani oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto juga buka suara soal aturan mobil listrik. Airlangga mengatakan regulasi tersebut sudah disiapkan pemerintah. Airlangga sempat mendampingi Jokowi bertemu Hyundai Motor di Istana.

“Tadi yang dibahas rencana investasi dari Hyundai Motors di Indonesia. Tentu sekaligus membicarakan masa depan teknologi daripada otomotif itu sendiri, di dalamnya termasuk electric vehicle, fuel cell vehicle, autonomous vehicle,” kata dia sebagaimana dikutip dari Detikcom.

Ditulis oleh : Danang Nur Ihsan

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.