Hustle Culture, Fenomena Gila Kerja yang Menjangkit Generasi Muda

Seseorang yang menganut gaya hidup ini berpikir jika mereka bekerja keras mereka akan sukses.

JEDA.ID—Pernahkah Anda mendengar hustle culture? Nah agar tidak penasaran yuk mengenal lebih jauh apakah yang dimaksud dengan hustle culture itu.

Perkembangan teknologi yang semakin pesat, dan lahirnya banyak pengusaha yang mencapai kesuksesan di usia muda, membuat orang-orang semakin terdorong untuk bisa sukses di usia muda.

Di tengah lingkungan yang semakin kompetitif, orang-orang berlomba untuk menjadi yang paling sibuk di antara yang lain. Kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain membuat orang-orang mulai memaksakan diri untuk mengambil banyak pekerjaan yang terkadang berada di luar kapasitas mereka. Tips kesehatan kali ini membahas tentang hustle culture.

Ini Perbedaan Tiga Jenis Tes Corona Berikut Rentang Harganya

Sebenarnya apa yang terjadi dengan dunia saat ini? Apa yang menjerat anak-anak muda sampai membuat mereka memiliki pola pikir yang sebenarnya sangat berbahaya?

Fenomena gila kerja ini sebenarnya kali pertama ditemukan pada tahun 1971, dan semakin menyebar dengan cepat, terutama di kalangan milenial. Fenomena ini membuat seseroang percaya bahwa aspek kehidupan paling penting adalah mencapai tujuan profesional dengan bekerja keras tanpa henti. Fenomena ini disebut dengan hustle culture.

Seperti dilansir dari berbagai sumber, Sabtu (19/12/2020), hustle culture adalah gaya hidup di mana seseorang harus bekerja keras terus-menerus karena dengan bekerja keras mereka menganggap bahwa mereka akan sukses. Banyak juga yang menantang dirinya dan meyakinkan orang bahwa bekerja keras adalah satu-satunya tindakan yang benar-benar penting.

Sering Diabaikan, Ini 9 Tanda Masalah Jantung

Begitu juga dengan generasi millenial khususnya, seperti lulusan baru banyak tertarik dengan budaya gila kerja. Budaya ini telah menjadi standar bagi banyak orang untuk mengukur tingkat produktivitas dan kinerja seseorang.

Seseorang yang menganut gaya hidup ini berpikir jika mereka bekerja keras mereka akan sukses dan bisa meraih cita-cita mereka, sehingga seringkali tidak punya waktu lagi buat diri sendiri dan beristirahat, seperti liburan, kurang tidur, dan tidak ada me time.

Orang-orang dengan mindset hustle culture ini beranggapan bahwa semakin lama waktu bekerja maka semakin mereka sukses. Sukses yang dimaksud di sini adalah sukses secara finansial. Namun sebenarnya mindset ini ibarat bom waktu yang sewaktu-waktu dapat meledak dan merusak kehidupan seseorang. Karena tentu saja kebiasaa ini akan merusak kesehatan tubuh.

Kenali 5 Tanda Friendzone, Ada yang Mengalaminya?

Ketika hustle culture mendorong seseorang dalam bekerja tentunya tanpa disadari mereka akan mendapatkan tekanan internal maupun eksternal. Hal ini dikarenakan adanya tuntutan pekerjaan, atau karena ingin menyenangkan teman ataupun orang-orang terdekat. Orang-orang yang menganut hustle culture dituntut untuk mengerjakan segalanya dengan cepat dan ketika deadline mendekat mereka akan dilanda panik sehingga menjadi khawatir.

Tekanan eksternal dan internal ini menjadi bumerang untuk mereka karena secara perlahan melemahkan kemampuan, dan menimbulkan stres dan akhirnya membuat tubuh kelelahan. Sebuah penelitian mengatakan bahwa orang dengan jam kerja yang lebih panjang, berapapun usianya, cenderung mengalami gangguan kecemasan, depresi, serta gangguan tidur.

Jika ditelusuri lebih dalam lagi, pada akhirnya hustle culture ini lebih banyak memberikan dampak negatif. Oleh karena itu, untuk Anda yang memang mengidolakan budaya ini bisa saja, perlu diketahui bahwa daya tahan tubuh setiap orang berbeda. Bekerja keras dan bekerja terus-menerus tanpa istirahat adalah hal yang berbeda.

Jangan melupakan kesehatan tubuh dan mental yang lebih penting. Dan juga jangan lupa untuk meluangkan waktu untuk orang-orang tercinta.

Ditulis oleh : Nurdian Riyanti

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.