Didi Kempot (Mungkin) Hanya Bisa Dikalahkan Koes Plus

Saat ini mungkin memontum yang pas bagi Didi Kempot untuk menggenjot karya baru terutama urusan patah hati.

JEDA.ID–Didi Kempot seperti terlahir kembali saat namanya kembali meroket sembari mendapatkan julukan Bapak Patah Hati Nasional atau God Father of Broken Heart.

Istana Negara, kantor pemerintahan, talkshow di stasiun televisi, ngobrol dengan influencer di Youtube, menjadi ”panggung” bagi Didi Kempot dalam beberapa waktu terakhir.

Didi yang kini juga menyandang gelar Lord Didi memang tengah digandrungi berbagai kalangan. Lagu campursari berbahasa Jawa yang lekat dengan dirinya menyeruak menembus batas usia hingga status karena mereka disatukan lewat pesona Didi Kempot.

Didi mengatakan nasibnya tak selalu beruntung. Mengawali karier sebagai pengamen sekitar 1984, ia  pernah mengalami deretan penolakan sebelum akhirnya berhasil.

Termasuk menjual sepeda motor demi membayar biaya rekaman. Sampai hari ini ada 800-an judul yang telah diciptakan adik pelawak Srimulat Mamiek Prakoso ini.

Lagu tercepat yang dibuat hanya satu jam, hingga lagu paling lama sekitar dua hari. ”Paling cepat Sewu Kutha, coret-coret, satu jam jadi. Paling lama lagu Sekonyong Konyong Koder, dua hari. Paling susah mencari rangkaian katanya yang harus berakhir huruf R,” kata Didi dalam acara #Ngobam di Kartasura, Sukoharjo, beberapa waktu lalu.

Bila pemilik nama Didi Prasetyo ini sudah menelurkan lebih dari 800-an lagu dalam 30 tahun perjalanan bermusiknya, artinya dalam setahun rata-rata, ada 26 lagu baru dari maestro campursari ini.

Atau bisa juga disebut Didi Kempot setidaknya punya 1 lagu baru tiap bulannya dalam 30 tahun terakhir. Tentu ini bukan perkara mudah bagi seorang musisi untuk terus konsisten berkarya selama puluhan tahun.

Setidaknya ada tujuh album yang sudah ditelurkannya mulai Stasiun Balapan (1999), Cucak Rowo (2003), Ono Opo (2005), hingga Mati Rasa (2012). Namun, tidak sedikit single yang diluncurkan Didi hingga menambah panjang daftar lagu buatanya.

Seberapa produktif Didi Kempot dibandingkan dengan musisi Tanah Air lainnya? Urusan produktivitas, mungkin hanya Koes Plus yang bisa mengalahkan Didi.

Sebagaimana dikutip dari supermusic.id, Kamis (15/8/2019), Koes Plus tak hanya disegani di lanskap musik Nusantara, melainkan produktivitas mereka dalam berkarya musik.

100 Album

Koes Plus

Koes Plus (Youtube)

Tak tanggung-tanggung mereka pernah mencatatkan rekor fantastis di Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) dengan menorehkan 953 lagu dalam 89 rilisan selama rentang waktu 1962-1987 (era Tonny Koeswoyo).

Selepas kematian Tonny, Koes Plus pun tak berhenti berkarya dan konsisten dalam menelurkan karya-karya terbaru. Hingga kini, Koes Plus telah melesakkan lebih dari 1.000 lagu dalam 100 album berbeda.

Di Indonesia sendiri tak ada satu pun kelompok musik yang mampu melampaui torehan Koeswoyo bersaudara dalam urusan berkarya musik.

Bandingkan pula dengan band legendaris Slank yang juga dikenal produktif dalam bermusik. Band yang bermarkas di Gang Potlot ini menelurkan serentetan karya-karya musik lebih dari tiga dekade lamanya.

Tercatat Slank telah mengeluarkan karya sebanyak 22 album sejak kali pertama berdiri. Paling gres, album terbaru Slank berjudul Palalopeyank yang rilis di awal 2017.

Bagaimana bila produktivitas Didi Kempot dikomparasikan dengan musisi luar negeri? Laman indie88.com mencatat nama Robert Pollard di urutan ke-10 sebagai musisi paling produktif sepanjang masa.

Robert Pollard telah menulis atau membantu menulis lebih dari 500 lagu untuk bandnya Guided by Voices. Dia juga telah menulis lebih dari 1.600 lagu secara keseluruhan selama rentang kariernya.

Di urutan pertama musisi paling produktif seluruh dunia sepanjang masa adalah Tangerine Dream. Band ini telah merilis 103 album studio dan masuk dalam 76 album kompilasi, dan 34 soundtrack.

Di daftar 10 besar musisi paling produktif ada band legendaris The Beatles di urutan ke-9, James Brown di urutan ke-5, atau  Jack White di urutan ke-3.

Bila dibandingakan dengan beberapa musisi, mungkin Didi Kempot masih kalah produktif. Namun, urusan konsistensi dalam bermusik, Didi Kempot patut diacungi jempol.

Kini meroketnya kembali nama Didi Kempot sekaligus munculnya fans berat bernama Sobat Ambyar menjadi momentum bagi Didi untuk terus berkarya, terutama urusan dengan patah hati. Setidaknya menembus angka 1.000 seperti lagunya yang melegenda Sewu Kutha.

Ditulis oleh : Danang Nur Ihsan

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.