Sobat Ambyar dan Didi Kempot Menurut Baladewa

Sobat Ambyar Didi Kempot adalah ikhtiar dalam kerangka budaya populer untuk meraih identitas dan kenikmatan menuju pencerahan.

JEDA.ID–Salah satu repertoar atau komposisi musik atau lagu yang membuat saya terpesona sejak kali pertama mendengar di siaran radio dan kemudian berulang kali mendengar dari pita kaset–kini sering saya dengarkan dalam format digital–adalah lagu Persembahan dari Surga yang dipopulerkan Dewa 19.

Lirik lagu ini aduhai. Tema dan konteks lagunya sangat menyentuh. Komposisi musiknya ciamik. Terutama yang membuat saya sampai kini selalu kagum adalah kemampuan Ahmad Dhani dan Andra Ramadhan memadukan piano dan gitar listrik menghasilkan paduan nada yang aduhai.

Komposisi ini bisa Anda cermati pada bagian interlude Persembahan dari Surga. Akan lebih aduhai ketika Anda mencermatinya di klip video yang tersimpan di Youtube. Denting piano dan sayatan serta petikan senar gitar listrik bisa berpadu menghasilkan nada dan komposisi yang ck…ck…ck…ck….

Sulit menemukan komposisi musik yang sedahsyat ini di jagat musik populer Indonesia era kini. Saya memaknai komposisi musik garapan Ahmad Dhani dan Andra Ramadhan ini hanya bisa dikalahkan dengan telak oleh musik garapan Queen yang memang ciamik, sulit, tapi aduhai itu.

Persembahan dari Surga itu masuk dalam album The Best of Dewa 19 yang dirilis pada 1999. Album ini menghimpun lagu-lagu terbaik Dewa 19 ketika Ari Lasso menjadi vokalis band ini. Lagu terbaik Dewa 19 yang terhimpun dalam album ini berasal dari album Dewa 19 (1992) hingga Pandawa Lima (1997). Persembahan dari Surga dan Elang adalah dua lagu baru di album The Best of Dewa 19.

Saya menemukan perpaduan serumit piano dan gitar listrik dalam Persembahan dari Surga ketika menelaah fenomena Sobat Ambyar Didi Kempot atau Sad Bois Club dan Sad Gerls Club yang menghimpun kaum muda era kini penggemar lagu-lagu campursari berbahasa Jawa milik Didi Kempot.

Paradoks

Bagaimana mungkin Didi Kempot yang menjadi ikon lagu campursari berbahasa Jawa sejak 30 tahun lalu kini begitu digemari kaum muda berusia belasan tahun dan 20-an tahun? Saya makin terperangah ketika tahu di antara sekian banyak kaum muda era kini penggemar lagu-lagu campursari Didi Kempot itu ternyata banyak yang tak paham bahasa Jawa, banyak yang tak bertutur harian dalam bahasa Jawa.

Makin tak masuk di akal saya ketika saya tahu di antara sekian banyak penggemar lagu-lagu berbahasa Jawa milik Didi Kempot itu belum lahir saat Didi Kempot memulai karier sebagai penyanyi dalam Kelompok Pengamen Trotoar atau Kempot yang kemudian jadi nama tenar dia.

Faktanya, hal-hal yang saya rasa tak masuk akal itu terjadi. Ada di depan mata saya. Saya menemukan jawaban atas fenomena ini ketika membaca ulang buku Budaya Populer di Indonesia, Mencairnya Identitas Pasca-Orde Baru terbitan Jalasutra, 2012, dengan editor Ariel Heryanto.

Jawaban saya peroleh makin konkret ketika saya membaca ulang pula buku Identitas dan Kenikmatan: Politik Budaya Layar Indonesia karya Ariel Heryanto yang diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia pada Juni 2015. Ariel Heryanto kini adalah profesor di The School of Culture, History, and Language, Australian National University’s, Australia.

Term ”identitas” dan ”kenikmatan” menjadi inti pembahasan buku yang—menurut saya juga–aduhai ini. Saya menangkap kemunculan Sobat Ambyar Didi Kempot adalah laku membangun identitas untuk menggapai kenikmatan.

Identitas yang dipaparkan dalam buku ini bisa bermakna identitas pribadi maupun identitas kolektif, identitas kelompok. Sedangkan kenikmatan yang dipaparkan dalam buku ini juga bisa bermakna kenikmatan pribadi maupun kenikmatan kolektif.

Kerangka pembahasannya saja yang mungkin ”abstrak”, yaitu tentang budaya, kebudayaan, zaman, yang semuanya berkonteks ruang dan waktu. Telaah ini sangat pas untuk memaknai kerumitan perpaduan nada piano dan gitar listrik dalam Persembahan dari Surga dalam wujud lagu-lagu campursari berbahasa Jawa, Didi Kempot, dan generasi milenial yang sebagian bahkan tak bisa berbahasa Jawa.

”Gerakan Kebudayaan”

Di balik fenomena ini pasti ada ”identitas” dan ”kenikmatan”. Jawaban makin gamblang saya peroleh ketika reporter Harian Umum Solopos, Ika Yuniati, mewawancarai Kobar Nendrodewo, salah seorang pemrakarsa Sobat Ambyar Didi Kempot yang mewujud dalam Sad Bois Club dan Sad Gerls Club.

Kobar menuturkan memang ada kesengajaan untuk mengorbitkan (lagi)—karena sebenarnya sejak 30 tahun lalu Didi Kempot dengan karya hampir 800 lagu campursari telah mengorbit—Didi Kempot dan lagu-lagu campursarinya di kalangan generasi muda era kini, terutama generasi muda usia belasan tahun, 20-an tahun, dan 30-an tahun.

didi kempot

Didi Kempot (Solopos)

Term yang dipilih sangat mudah merasuk di benak kaum muda era kini, yaitu kisah patah hati yang memang jadi warna dominan dalam lagu-lagu Didi Kempot yang ngehits bertahun-tahun. Dari sini pula saya menemukan hal yang tak masuk akal pula, bagaimana mungkin kisah patah hati yang sedih dan duka lara itu malah jadi wahana ”bergembira” kaum muda penggemar (baru) Didi Kempot?

Kesengajaan mengorbitkan lagi Didi Kempot itu dilandasi keinginan membangun sebuah ”gerakan kebudayaan”. Gerakan kebudayaan yang dimaksud adalah membangun ikon baru budaya populer yang tidak Jakarta sentris. Term “budaya populer” inilah yang membuat saya ”mudheng”, paham, dan akhirnya akal saya bisa menerima aneka kerumitan yang berpadu dalam fenomena termutakhir Didi Kempot itu.

Ada kehendak dari para pemrakarsa Sad Bois Club dan Sad Gerls Club, yang deklarasi resmi perkumpulan ini bertempat di Rumah Bloger Indonesia di Solo beberapa waktu lalu, untuk menyajikan alternatif budaya populer yang tidak Jakarta sentris, tetapi berkiblat pada kearifan lokal.

Berbasis Kearifan Lokal

Salah seorang pemrakarsa Sobat Ambyar Didi Kempot lainnya, Fajar Romadona alias Jokariyo, ketika diwawancarai Ika Yuniati, mengatakan Didi Kempot dipilih sebagai ”cantholan” untuk membangun gerakan kebudayaan populer berbasis lokalitas karena karya budaya populer yang melekat pada diri Didi Kempot punya kekuataan untuk diberdayakan menarik kaum muda era kini.

Ternyata memang benar demikian. Setidaknya dalam pengamatan saya tiga bulan terakhir, karya budaya populer yang melekat pada Didi Kempot berhasil diberdayakan dengan maksimal sehingga memunculkan kerumunan-kerumunan baru penggemar Didi Kempot. Kerumunan itu mewujud dalam bentuk riil, seperti ketika Didi Kempot konser di Kantor Dewan Pimpinan Pusat Partai Kebangkitan Bangsa di Jakarta pada pekan lalu.

Kerumunan lainnya muncul dalam bentuk jaringan pertemanan di media sosial, entah itu Twitter, Facebook, Instagram, dan platform lainnya. Didi Kempot memang berkiprah di jagat budaya populer. Lagu-lagu campursari karya dia yang dia populerkan sendiri atau lagu karya orang lain yang dia nyanyikan dan dia populerkan adalah produk budaya populer.

Buku Budaya Populer di Indonesia, Mencairnya Identitas Pasca-Orde Baru memberikan penjelasan ada begitu banyak konsep budaya populer yang sama-sama sahih. Istilah itu merujuk pada pelbagai ragam tindakan komunikatif yang beredar luas yang disajikan untuk sebagian besar rakyat biasa, atau oleh rakyat biasa, atau kombinasi keduanya.

Kategori untuk rakyat merujuk pada pesan-pesan yang dikomodifikasi dan diproduksi massal—termasuk musik—serta aktivitas pemaknaan terkait. Kategori oleh rakyat meliputi tindakan komunikatif nonindustrial, yang relatif mandiri, menyebar lewat banyak cara—secara publik, parade, festival, dan kini yang menonjol adalah lewat media sosial.

Kemunculan Sobat Ambyar Didi Kempot adalah dalam kerangka ini. Sad Bois Club dan Sad Gerls Club bertolak belakang atau menjadi alternatif atas komoditas hiburan dan gaya hidup yang diproduksi secara massal. Dengan tinjauan dari sisi lain, sesungguhnya karya budaya populer yang melekat pada Didi Kempot belakangan ini secara sengaja memang diproduksi secara massal untuk menjadi “budaya tanding” dari hal sejenis yang menurut Kobar dan Fajar terlalu Jakarta sentris.

Barang Hiburan

Para pencipta budaya pop tidak selalu berniat menyampaikan pesan atau nilai politik dalam karya mereka. Konsumennya pun tidak perlu mencari pesan atau nilai politis semacam itu. Budaya pop sering kali dipahami terutama sebagai barang hiburan dan barang dagangan untuk meraup laba, meski ada kasus budaya (pop dan lainnya) yang dirancang untuk membuahkan pernyataan politik dan kemudian jadi terkenal atau dicekal karena alasan politik.

Fenomane Sobat Ambyar Didi Kempot saya maknai dalam konteks ini, yang apolitis tentu saja. Saya menangkap prakarsa para inisiator Sad Bois Club dan Sad Gerls Club itu justru karena kemuakan setelah sejak 2014 kita hampir tiap hari dicekoki dengan narasi-narasi berlatar politik. Narasi-narasi memuakkan ini kian menguasai hidup kita para tahapan pemilihan umum 2019 lalu.

Sobat Ambyar Didi Kempot memanifestasi sebagai laku mencari identitas sekaligus kenikmatan. Identitas itu dibangun dalam konteks pribadi dan kerumuman dengan basis pemahaman dan penghayatan atas tema-tema kehidupan sekitar patah hati yang dipopulerkan Didi Kempot melalui lagu-lagu campusarinya.

Dari laku ini kemudian muncul kenikmatan dalam konteks pribadi maupun kerumuman yang memanifestasi menjadi kegembiraan memaknai “patah hari” sebagai jalan hidup menuju kegembiraan. Dari sinilah saya memahami mengapa kaum muda era kini penggemar—baru—Didi Kempot itu bisa bergembira menyanyikan lagu-lagu sedih, bergembira dalam kesedihan.

Sebagai Baladewa akut—yang menemukan identitas dan kenikmatan dalam kerumunan penggemar lagu-lagu Dewa 19—saya sangat mengapresiasi fenomena Sobat Ambyar Didi Kempot ini. Saya mendengar isu akan diselenggarakan konser besar Didi Kempot yang menyasar kaum muda era kini. Saya berharap “gerakan kebudayaan” ini diberdayakan oleh para Sad Bois Club dan Sad Gerls Club menjadi gerakan yang mencerahkan.

Ketika Sad Bois Club dan Sad Gerls Club bergembira dengan menyanyikan lagu-lagu sedih yang dipopulerkan Didi Kempot, saya masih bersedih menunggu Mas Ahmad Dhani bebas dari hukuman penjara dan kemudian tampil lagi bersama Dewa 19 dengan penampilan vokalis Ari Lasso atau Once Mekel, syukur-syukur Dewa 19 segera membikin album baru.

Dalam konteks yang berbeda Baladewa dan Sobat Ambyar Didi Kempot adalah ”identitas” dan ”kenikmatan” dalam kerangka budaya populer yang memang dibutuhkan bangsa ini untuk menggapai pencerahan…

Sebagai Baladewa saya ikhlas menyebut Sobat Ambyar, Didi Kempot, dan lagu-lagu campursari berbahasa Jawa tentang patah hati yang kini ngehits itu adalah ”…persembahan dari surga / …setitik kuasa untuk meraih kemenangan / bagi yang berhak / yang selalu dilintas-lindas…” oleh budaya populer prakarsa kaum kapitalis.

Ditulis oleh : Ichwan Prasetyo

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.