Musik Campursari, Bermula dari Siaran RRI hingga Era Digital Kini

Didukung banyak seniman hebat seperti Didi Kempot musik campurcari terus berkembang dan digandrungi banyak kalanngan termasuk kaum milenial.

JEDA.ID – Jagat musik Tanah Air khususnya campursari baru saja kehilangan salah satu seniman terbaik, Didi Kempot yang wafat pada Selasa (5/5/2020).

Musik campursari telah melekat pada penyanyi yang memiliki sebutan The Godfather of Broken Heart itu.

Namun sebenarnya perjalanan musik campursari cukup panjang sebelum booming di tangan Didi Kempot.

Istilah campurasi mengacu pada campuran beberapa jenis musik kontemporer di Indonesia. Musik yang berkembang di wilayah Jawa bagian tengah hingga timur ini memodifikasi alat-alat musik tradisional seperti gamelan dengan instrumen musik barat agar diterima oleh masyarakat luas.

Terlepas dari hal tersebut musik campursari mengalami perkembangan dari waktu ke waktu, tentu saja hal ini berkat kerja keras para seniman hebat di dalamnya.

Walaupun sudah berkarya lebih dari 30 tahun, nama Didi Kempot kembali menjadi sorotan setelah muncul di era milinial yang berhasil membuat ambyar anak muda, lewat lagu lawasnya.

Berkat karja kerasnya ini musik campursari juga kembali menjadi sorotan. Nah berikut sejarah terciptanya musik campursari untuk mengenang kembali masa-masa kejayaannya di tanah air seperti melansir dari beberapa sumber:

Agar Aman, Ini Tips Lindungi Mobil dari Kejahatan Modus Pecah Kaca

Awalnya disiarkan lewat RRI

Merujuk pada sebuah Jurnal Harmonia Pengetahuan Seni UNNES (2007) berjudul Jejak Campursari yang ditulis oleh Joko Wiyoso. Sejarah awal perkembangan musik campursari diawali oleh kegiatan grup kesenian yang dipelopori oleh R.M Samsi di Radio Republik Indonesia (RRI) Semarang medio pada 1953.

Grup kesenian yang disebut Campursari RRI Semarang ini, kemudian dengan rutin mengisi siaran radio setiap Rabu malam, dari pukul sembilan hingga menjelang dini hari. Saat itu, popularitas mereka bersifat lokal. Artinya, hanya berada di wilayah yang terjangkau oleh frekuensi radio saja, sebab pada waktu itu, tidak setiap rumah memiliki radio.

Era 1978-an Diprakarsai R.M Samsi

Musik Campursari sempat mengalami kemacetan, hingga pada 1978, R.M Samsi dan kelompoknya mulai berpikir untuk menyebarluaskan karya mereka ke jangkauan yang lebih besar lagi. Ira Record, merupakan label rekaman yang menaungi Campursari RRI Semarang untuk merekam karya mereka sekaligus mendistribusikannya.

Berselang tiga tahun, Ira Record berhasil memasarkan sembilan album rekaman musik Campursari RRI Semarang. Lagu-lagu yang direkam antara lain, Sumpah Palapa, Lela – Ledhung, Yen Ing Tawang Ana Lintang, Wingko, Waton Konco, Ondhe-Ondhe, Jenang Gula dan masih banyak lagi.

Namun lagi-lagi popularitas Campursari RRI Semarang masih belum bisa menyaingi rekaman gendhing-gendhing karya Ki Nartosabdo, yang merupakan seorang seniman musik sekaligus dalang terkenal saat itu.

Mutasi Virus Corona Disebut Melemah dan Prediksi Akhir Pandemi di RI

Era 1990-an Manthous Berkibar

Akhirnya pada tahun 90-an, muncul kreator musik bernama Anto Sugiartono atau lebih dikenal dengan nama Ki Manthous. Lewat tangan dinginnya, musik campursari mulai dikenal luas di Nusantara.

Melansir dari Wikipedia, cara yang ia lakukan adalah dengan menggabungkan instrumen musik modern seperti keyboard, gitar, dan bass elektrik yang tidak digunakan oleh pendahulunya. Campursari Ki Manthous ini akhirnya membuka peluang yang lebih luas dan luwes untuk bisa diterima masyarakat Indonesia.

Berbagai jenis musik ia garap, mulai dari langgam Jawa, keroncong hingga dangdut. Akhirnya pada 1993 ia membentuk sebuah grup bernama Campur Sari Gunung Kidul, dan berhasil membuat karya fenomenal  seperti Gethuk, Kanca Tani, Nyidam Sari, Lamis, Kempling, Mbah Dukun, hingga Tiwul Gunung Kidul.

Selain itu ia dan grup-nya juga nekat ke Jakarta untuk memasarkan hasil karya mereka. Beruntung, album demi album terjual laris manis. Lagu-lagunya menjadi semakin dikenali dan diminati. Hingga kini, lagu Nyidam Sari atau Lamis masih sering terdengar di acara-acara pernikahan berlatar belakang budaya Jawa.

 Era Digital, Didi Kempot dan Para Musikus Milenial

Seiring berkembangnya teknologi musik digital,  musik campursari juga mengalami perkembangan menakjubkan. Salah satu nama yang paling fenomenal tak lain adalah Didi Kempot.

Nama Didi Kempot mulai dikenal masyarakat sebagai musikus pada 1983. Kala itu, dia menciptakan lagu berjudul Cidro yang sukses hingga ke benua Eropa. Namanya kian melambung saat meluncurkan Stasiun Balapan. Hingga akhir hayatnya tak kurang 800 lagu telah dia cipta yang sebagian besar berkisah soal patah hati.

Tak heran dia kemudian mendapat julukan The Godfather of Broken Heart Bakdan Ing Balekambang di Taman Balekambang, Solo pada 9 Juni 2019. Sedangkan para penggemar Didi Kempot mengibarkan nama Sobyat Ambyar. Gelar The Godfather of Broken Heart kemudian disahkan dalam Musyawarah Nasional Pengukuhan Awal Solo Sad Bois Club, di Rumah Blogger Indonesia pada 15 Juni 2019.
Karya-karya Didi semakin melekat dan digandrungi dengan adalah media sosial yang memudahkan menikmati musik secara digital.

Tak hanya Didi Kempot, sebearnSelain R.M Samsi, Ki Manthous dan juga Didi Kempot sejumlah seniman lain juga tidak kalah meramaikan blantika musik campur sari diantaranya Cak Diqin hingga Sony Josz.

Mempunyai nama asli Muhammad Sodiqin, ia juga diakui sebagai musisi campursari pada masanya. Sejumlah lagu populer yang dihasilkannya antara lain: Cinta Tak Terpisahkan, Sida Randha, Blebes, Slenco dan masih banyak lagi.

Pria kelahiran Banyuwangi, 15 April 1964 ini juga sempat membuat lagu untuk Presiden Jokowi berjudul Jokowi dan Rokaye pada 2013, saat Jokowi masih menjabat sebagai Wali Kota Jakarta.

Pegiat dan seniman musik campursari satu ini sudah malang melintang di Tanah Air. Tak sedikit karya lagu campursari yang dihasilkannya kemudian hits di masyarakat. Bahkan bukan cuma dikenal di seluruh pelosok Indonesia saja.

Sejumlah negara seperti Suriname dan Belanda, mengenal sosok penyanyi Sonny Josz. Namanya semakin dikenal masyarakat luas lewat lagunya yang berjudul Sri Minggat, yang meceritakan seorang lelaki yang ditinggal pergi kekasihnya.

Ditulis oleh : Ria Sari Febrianti

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.