Catat, Ini 5 Kondisi Kulit yang Terkait dengan Gejala Covid-19

Penelitian yang diterbitkan dalam British Journal of Dermatology menyatakan bahwa gejala virus corona baru atau Covid-19 tak hanya berkaitan dengan sistem pernapasan seseorang tetapi juga berpengaruh pada bagian tubuh lain.

JEDA.ID – Penelitian yang diterbitkan dalam British Journal of Dermatology menyatakan bahwa gejala virus corona baru atau Covid-19 tak hanya berkaitan dengan sistem pernapasan seseorang tetapi juga berpengaruh pada bagian tubuh lain.

Ahli dermatologi dari Spanish Academy of Dermatology diminta untuk membantu identifikasi pasien yang memiliki tanda kulit, yang tidak dapat dijelaskan dan dicurigai sebagai gejala dari virus corona.

Sementara, British Association of Dermatologists meminta orang untuk tidak melakukan diagnosis sendiri (self diagnose) terkait virus corona berdasarkan gejala kulit yang tampak.

Namun demikian ada beberapa tipe perubahan kulit yang ditemukan pada sejumlah pasien, yang bisa dikaitkan dengan infeksi virus corona. Dilansir dari Express, Senin (8/6/2020) berikut ini adalah sejumlah tipe perubahan kulit tersebut.

Mengenal Mil MI-1, Helikopter Latih Pertama TNI AU

Vesicular Eruption

Vesicular eruption atau erupsi vesikuler ditandai dengan lepuh dan gatal. Dalam studi kondisi, ditemukan ada 9 persen kasus yang terkait dengan pandemi Covid-19 yang rata-rata berlangsung sekitar 10,4 hari.

Erupsi vesikuler juga biasanya muncul sebelum gejala umum lainnya, dan dikaitkan dengan tingkat keparahan penyakit menengah.

Urticarial lesions

Ciri lainnya adalah lesi urtikaria yakni kondisi ketika area kulit berwarna merah muda atau putih menyerupai ruam. Juga dikenal dengan wheals, biasanya menyebabkan gatal dan dapat menyebar ke seluruh tubuh.

Dalam beberapa kasus, para peneliti juga menemukan gejala ini bisa menyebar ke telapak tangan. Studi yang ada menemukan 19 persen kasus pasien corona memiliki gejala lesi urtikaria.

Maculopapules

Tanda lain yang dikaitkan dengan gejala virus corona terhadap penyakit kulit adalah makulopapular yang ditemukan sekitar 47 persen pada kasus pasien positif Covid-19.

Ini ditandai dengan benjolan yang merupakan daerah kulit yang terangkat atau datar, yang mirip dengan pityriasis. Gejala ini berlangsung rata-rata lebih dari 6,8 hari pada pasien.

Livedo

Gejala ini ditemukan pada 6 persen pasien dengan kasus virus corona baru dan tampaknya terkait dengan pasien yang lebih tua dan mengalami dampak yang parah.

Livedo merupakan kondisi kulit yang disebabkan oleh gumpalan darah kecil, yang berkembang di dalam pembuluh darah kulit. Ini menyebabkan kulit terlihat merah atau biru, dan beberapa di antaranya juga menyebabkan bisul dan benjolan.

Chilblain

Penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa gejala seperti chilblain atau kondisi ketika terjadinya luka kulit dan benjolan akibat suhu dingin, ada pada 19 pesen kasus.

Tanda yang muncul ketika seseorang kedinginan menyebabkan gatal dan bercak merah. Sebagian besar di antaranya muncul di jari tangan dan kaki, tetapi juga dapat muncul di area wajah.

Ada yang Hanya 24 Jam, Ini Sederet Hewan Berumur Pendek

Pria Botak Berpotensi Alami Infeksi Covid-19 yang Parah?

Para peneliti di Amerika Serikat menyebut pria botak berpotensi mengalami infeksi corona virus yang parah. Kaitan kebotakan dengan potensi infeksi Covid-19 ini dipicu dari kematian Dr Frank Gabrin, dokter AS pertama yang mati karena virus ini. Diketahui Gabrin tidak memiliki rambut kepala alias botak.

“Kami benar-benar berpikir bahwa kebotakan adalah prediktor sempurna dari tingkat keparahan,” ujar Profesor Carlos Wambier dari Brown University, penulis utama studi ini dilansir dari Boldsky, Jumat (5/6/2020).

Baru-baru ini para ilmuwan berhipotesis bahwa pria lebih mudah terinfeksi Covid-19 daripada wanita karena hormon testosteron.

Dokter di Italia sebelumnya menemukan pasien yang diberi terapi kekurangan androgen, yang secara masif memotong kadar testosteron, empat kali lebih kecil kemungkinannya meninggal akibat coronavirus. Para ilmuwan berpikir virus dapat menggunakan protein TMPRSS2 untuk membantunya membuka sel.

Terapi Pemblokiran Testoteron

Para peneliti di London Institute for Cancer Research sedang memeriksa tautan lebih lanjut mengenai hal ini, sementara University of California, Los Angeles mencari terapi pemblokiran testosteron untuk membantu pengobatan coronavirus.

Diketahui, testosteron dapat menghasilkan dihidrotestosteron (DHT) yang dapat menyebabkan kerontokan rambut. Namun ada kemungkinan pria memiliki hormon testosteron yang rendah tetapi tingkat DHT-nya yang tinggi.

Sebuah penelitian di tiga rumah sakit di Madrid menemukan bahwa 79 dari 122 pasien pria, tidak memiliki rambut kepala alias botak.

Karen Stalbow, Kepala Kebijakan di Prostate Cancer UK, mengatakan ada beberapa penelitian terbaru yang menunjukkan mungkin ada hubungannya antara hormon pria dan peningkatan risiko Covid-19.

“Ini mengarahkan beberapa peneliti untuk menyelidiki apakah terapi hormon yang biasa digunakan untuk mengobati kanker prostat, seperti enzalutamide, dapat mengurangi risiko ini,” sebutnya.

Orang-Orang yang Lebih Berisiko

Namun, sebagian besar penelitian masih meneliti apakah terapi hormon ini akan menjadi pengobatan yang efektif untuk Covid-19. Profesor Nick James dari Institute for Cancer Research telah memperingatkan agar tidak menggunakan perawatan pemotongan testosteron sebagai tindakan pencegahan karena efek sampingnya cukup parah.

“Memakai obat ini setara dengan pria yang mengalami menopause,” tegasnya.

Sementara itu NHS sebelumnya telah merilis daftar orang-orang yang dianggap sangat rentan mengalama infeksi Covid-19 cukup parah. Antara lain, orang yang telah menjalani transplantasi organ, orang yang menjalani kemoterapi atau pengobatan antibodi untuk kanker, radioterapi intens, perawatan kanker yang memengaruhi sistem kekebalan tubuh.

Selain itu juga orang yang menderita kanker darah atau sumsum tulang , mereka yang pernah menjalani transplantasi sumsum tulang atau sel induk dalam enam bulan sebelumnya, atau masih menggunakan obat imunosupresan, mereka yang memiliki kondisi paru-paru yang parah, mereka yang memiliki kondisi kecanduan obat dan ibu dengan penyakit jantung.

Sedangkan mereka yang berisiko sedang yakni mereka yang berusia di atas 70 tahun, ibu hamil, mereka yang memiliki kondisi paru-paru yang tidak parah, mereka yang menderita penyakit jantung, penderita diabetes, mereka yang memiliki penyakit ginjal kronis, mereka yang memiliki penyakit hati, mereka yang memiliki kondisi mempengaruhi otak atau saraf dan mereka yang mengalami obesitas.

Ditulis oleh : Anik Sulistyawati

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.