Ada 4 Tahapan HIV ke AIDS, Awalnya Tanpa Gejala

Pada tahap awal tidak ada gejala khusus yang muncul dari penderita HIV. Namun, orang yang terkena HIV sudah bisa menularkan ke orang lain.

JEDA.ID–A alias Rayya, 31, bos salon yang menjadi aktor video seks di Kabupaten Garut, Jawa Barat, meninggal, Sabtu (7/9/2019). A sebelumnya dinyatakan positif HIV. Bagaimana cara mengenali gejala HIV?

Kasatreskrim Polres Garut AKP Maradona Armin Mappaseng mengatakan A meninggal di rumahnya di Ciroyom, Tarogong Kaler, Garut, pada Sabtu dini hari. Pengacara A, Soni Sonjaya, mengatakan kondisi kliennya sudah memburuk dalam beberapa hari terakhir.

”Tiga hari sebelum meninggal sempat dirawat di RSUD dr. Slamet Garut,” kata Soni di Garut sebagaimana dikutip dari Detikcom.

Belum ada keterangan resmi mengenai penyebab meninggalnya A. Namun, banyak yang kemudian mengaitkan dengan kondisi A yang positif HIV.

Human immunodeficiency virus (HIV) adalah virus yang memperlemah sistem kekebalan tubuh dan pada akhirnya menyebabkan Acquired immunodeficiency syndrome (AIDS).

AIDS merupakan sekelompok kondisi medis yang menunjukkan lemahnya kekebalan tubuh, sering berwujud infeksi ikutan (infeksi oportunistik) dan kanker. Hingga saat ini, AIDS belum bisa disembuhkan.

Sebagaimana dikutip dari laman Kementerian Kesehatan (Kemenkes), setidaknya ada 4 tahapan perjalanan HIV menjadi AIDS.

Periode Jendela

Pada tahap ini, virus masuk ke dalam tubuh dan berkembang. Pada tahap ini, bila melakukan tes HIV, virus belum tentu bisa terdeteksi dengan pemeriksaan antibodi darah.

Selama periode ini, tidak ada gejala khusus yang muncul dari penderita HIV. Namun, orang yang terkena HIV sudah bisa menularkan ke orang lain.

Tanpa Gejala

Di tahap ini virus sudah bisa terdeteksi jika melakukan tes HIV dengan tes darah. Namun, di tahap ini tidak ada gejala apa pun dari orang yang terinfeksi HIV. Mereka tampak sehat, meski tergantung juga pada daya tahan tubuh.

Biasanya ini terjadi 5-10 tahun sejak kali pertama terinfeksi. Orang yang sudah terinfeksi disebut dengan ODHA (Orang dengan HIV dan AIDS).

Muncul Gejala

Ada beberapa gejala yang bisa terjadi pada pengidap HIV tahap ini. Seperti demam berkepanjangan, penurunan berat badan, diare terus menerus tanpa sebab yang jelas.

Bisa juga batuk dan sesak napas lebih dari satu bulan terus menerus dan kulit gatal-gatal. Biasanya muncul bercak merah kebiruan menjadi gejala-gejala yang muncul pada tahap ini.

Gejala-gejala tersebut menunjukkan sudah ada kerusakan pada sistem kekebalan tubuh.

AIDS

Tahap ini merupakan tahap akhir di mana kekebalan tubuh sudah sangat menurun sehingga terserang berbagai macam penyakit seperti radang paru-paru (TBC/Tuberculosis).

Bisa juga radang karena jamur di mulut dan kerongkongan, gangguan saraf (toxoplasmosis), kanker kulit, dan infeksi usus.

Kemenkes menyebut secara umum kasus HIV di Indonesia cenderung mengalami peningkatan tiap tahunnya, sedangkan kasus AIDS relatif stabil.

Hal ini mengindikasikan semakin banyak orang dengan HIV/AIDS yang statusnya masih terinfeksi HIV, namun belum masuk stadium AIDS.

Data kementerian menyebutkan pengidap HIV yaitu 62% laki-laki dan 38% perempuan. Sedangkan untuk AIDS, 64% laki-laki dan 38% perempuan.

Dari sisi usia, penderita HIV paling banyak berada di usia 25-49 tahun. Pada 2018 ada 33.448 orang di usia rentang itu yang terjangkit HIV.

Tes HIV

Ketika gejala awal HIV tidak sulit terlihat, tes HIV menjadi salah satu cara untuk memastikan seseorang terjangkit HIV atau tidak. Tes darah dan konseling menjadi pintu masuk utama layanan pencegahan, perawatan, dan dukungan pengobatan.

Kemenkes menyebut banyak masyarakat yang enggan melakukan tes HIV/AIDS karena alasan malas dan takut terhadap stigma di masyarakat terhadap para penderita HIV.

Padahal, orang yang telah terinfeksi HIV/AIDS hanya bisa bertahan hidup bila diberikan obat yaitu berupa obat antiretroviral (ARV).

”Jadi sekalinya kita terinfeksi, kita akan minum obat seumur hidup. Hingga saat ini obat yang ada baru untuk obat yang diminum seumur hidup.”

Kemenkes menyebutkan case fatality rate (CFR) AIDS menunjukkan tren penurunan. CFR adalah jumlah kematian (dalam persen) dibandingkan jumlah kasus dalam suatu penyakit tertentu.

Pada 2000, CFR AIDS di Indonesia mencapai 21,38%. Artinya dari total penderita AIDS, 21,38%-nya meninggal. Kini selama dua tahun terakhir (2016-2017), CFR AIDS menjadi 1,08%.

”Hal ini membuktikan upaya pengobatan yang dilakukan berhasil menurunkan angka kematian akibat AIDS,” sebut Kemenkes di Indodatin HIV/AIDS 2018.

Ditulis oleh : Danang Nur Ihsan

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.