Perburuan Planet yang Bisa Dihuni Dilakukan Lewat Ini

Para ahli antariksa kini sedang melakukan perburuan planet yang bisa dihuni. Perburuan planet yang bisa dihuni ini dilakukan dengan mendeteksi benda luar angkasa ini.

JEDA.ID-Para ahli antariksa kini sedang melakukan perburuan planet yang bisa dihuni. Perburuan planet yang bisa dihuni ini dilakukan dengan mendeteksi benda luar angkasa ini. Apakah itu?

Seorang ilmuwan dari Southwest Research Institute telah mengidentifikasi fosforus bintang sebagai salah satu penanda yang memungkinkan dalam pencarian kehidupan di luar tata surya.

Dia telah mengembangkan sebuah teknik untuk mengidentifikasi kemungkinan sebuah bintang untuk mendapatkan planet yang berpenghuni. Hal ini berdasarkan komposisi sebuah bintang biasanya memiliki planet, dan mengusulkan penelitian yang akan mendatang untuk menjadikan fosforus bintang sebagai patokan dalam mencari sistem yang memiliki kemungkinan besar memiliki kehidupan seperti yang kita ketahui.

“Dalam pencarian planet di luar tata surya dan mencoba mengetahui apakah mereka dapat dihuni, maka sangatlah penting bagi sebuah planet untuk memiliki siklus aktif, gunung berapi, dan lempengan tektonik,” ujar seorang astrofisikawan dari Southwest Research Institute, Natalie Hinkel, seperti dikutip dari phys.org dan dilansir bisnis.com, Jumat (18/9/2020).

Tulisan dari penelitian ini di publikasikan oleh Astrophysical Research Letters.

“Rekan penulis saya, Hilairy Hartnett, seorang oseanografi, menunjukan bahwa fosforus sangatlah penting bagi semua kehidupan di Bumi. Hal ini sangatlah penting sekali dalam pembuatan DNA, membran sel, tulang, dan gigi bagi hewan dan tumbuhan, dan bahkan mikrobioma seperti plankton,” tambahnya.

Beda Dampak Covid-19 di Tiap Generasi, Siapa yang Paling Rentan?

Menentukan rasio elemental bagi ekosistem sebuah planet di luar tata surya belumlah memungkinkan, tetapi asumsi umum menyatakan bahwa planet memiliki komposisi yang sama dengan bintang yang berada di dalam sistem tersebut. Ilmuwan bisa menghitung banyaknya jumlah elemen di sebuah bintang menggunakan spektroskop, dan mempelajari bagaimana cahaya berinteraksi dengan elemen yang berada di lapisan atas sebuah bintang.

Menggunakan data ini, ilmuwan bisa mengambil kesimpulan mengenai planet-planet yang mengorbit suatu bintang terbuat dari komposisi apa, menggunakan komposisi bintang sebagai perantara untuk planet di dalamnya.

Di dalam Bumi, elemen yang menjadi kunci bagi biologi adalah karbon, hidrogen, nitrogen, oxygen, phosphorus, dan sulfur (atau CHNOPS). Di dalam laut saat ini, fosforus dianggap sebagai nutrisi penyambung kehidupan paling terbatas dikarenakan fosforus merupakan kandungan kimiawi yang setidaknya paling dibutuhkan bagi reaksi kimiawi dapat tercipta.

Hinkel menggunakan Katalog Hypatia, sebuah database bintang yang tersedia bagi publik yang dia kembangkan, untuk menilai dan membandingkan rasio kelimpahan dari karbon, nitrogen, silikon, dan fosforus dari bintang sekitar dan dibandingkan dengan yang rata-rata berada di dalam plankton laut, kerak bumi, maupun sebagian besar silika di Bumi dan Mars.

Ada Energi Negatif di Tubuh Anda, Apa Saja Tandanya?

“Tetapi sangat sedikit data mengenai kelimpahan fosforus suatu bintang,” ujar Hinkel “Fosforus data hanya tersedia untuk sekitar 1% bintang. Hal tersebut membuat sangat sulit untuk menentukan tren yang jelas antara bintang, apalagi menentukan peran fosforus bagi evolusi suatu planet di luar tata surya,” paparnya.

Kekurangan Suatu Fosforus

Bukan karena suatu bintang yang kekurangan suatu fosforus, tetapi sangat sulit untuk menentukan elemen karena hal tersebut terdeteksi di wilayah dimana spektrum cahaya diobservasi biasanya: pada ujung suatu gelombang optikal (maupun visual) cahaya dan cahaya infrared. Kebanyakan penelitian spektroskopik tidak terbiasa untuk mencari elemen di rentang sempit tersebut.

“Matahari kita secara relatif memiliki kandungan fosforus yang tinggi dan biologi bumi membutuhkan sedikit tetapi mencukupi suatu kuantitas dari fosforus,” ujar Hinkel.

“Dengan begitu, planet berbatu yang terbentuk di sekeliling bintang yang memiliki kandungan lebih sedikit fosforus, sangat berkemungkinan bahwa fosforus akan tidak tersedia bagi kehidupan berpontesial yang berada di permukaan planet. Dikarenakan hal tersebut, kita mendorong komunitas bintang untuk melakukan observasi fosforus sebagai prioritas kajian kedepannya dan juga sebagai pertimbangan desain teleskop.”

Kedepannya, penemuan ini dapat merevolusi bintang yang menjadi seleksi sasaran dari penelitian di masa depan dan penentuan dari peran elemen bagi deteksi planet di luar tata surya mengenai pembentukan formasi, dan layak tidaknya untuk berpenghuni.

Ditulis oleh : Astrid Prihatini WD

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.