Penularan Hanya 15 Menit, Ini Kisah 2 Penyebar “Super” Virus Covid-19

Virus corona atau Covid-19 sudah menyebar ke lebih dari 50 negara. Hingga Jumat (28/2/2020), total kasus infeksi virus mencapai 83.342 dengan angka kematian sebanyak 2.858 orang dan pasien sembuh sebanyak 36.498 orang.

JEDA.ID--Virus corona atau Covid-19 sudah menyebar ke lebih dari 50 negara. Hingga Jumat (28/2/2020), total kasus infeksi virus mencapai 83.342 dengan angka kematian sebanyak 2.858 orang dan pasien sembuh sebanyak 36.498 orang.

Dikutip dari The Sun, para ahli dari Public Health England (PHE) mengatakan bahwa Covid-19 sangat mudah menular apabila terjadi kontak dekat dengan orang yang terinfeksi. “Kelompok-kelompok yang kami amati adalah orang-orang yang telah melakukan kontak langsung dengan seseorang yang telah terinfeksi, setidaknya selama 15 menit,” kata Direktur Medis PHE, Dr Paul Cosford.

“Atau seseorang yang berada dalam jarak dua meter dari orang itu selama 15 menit atau lebih,” lanjutnya seperti dilansir detikcom.

Paul juga menjelaskan penularan Covid-19 tak hanya terjadi pada orang yang melakukan kontak dekat dalam jarak dua meter. Tetapi faktor kontak dekat ini termasuk juga pada orang yang berada di suatu tempat atau dalam lingkungan yang sama dengan seseorang yang telah terinfeksi.

“Ini kontak dekat dengan seseorang yang terinfeksi, yang membuatmu berisiko tidak hanya berada di area yang sama, atau ruangan yang sama untuk periode waktu yang singkat,” ujarnya.

Menurut studi terbitan Journal of American Medical Association (JAMA), ada beberapa pasien yang dapat menularkan novel coronavirus lebih mudah daripada orang kebanyakan.

Individu dengan kemampuan tersebut dianggap sebagai penyebar super atau super spreader. Sejauh ini, sudah ada dua kasus penyebar super yang ditemukan. Pertama, seorang pengusaha Inggris bernama Steve Walsh yang menginfeksi 11 orang. Sedangkan satunya adalah nenek berusia 61 tahun asal Korea Selatan, yang dijuluki Pasien 31, menulari hingga 37 orang.

Tanpa Sadar Jadi Penyebar

Nama Steve Walsh kali pertama mencuat setelah otoritas kesehatan Inggris, Public Health England, menyebut kemungkinan pria itu tanpa sadar telah menginfeksi setidaknya 11 orang. Penularan secara masif tersebut berlangsung saat Walsh bepergian dari Singapura ke Prancis, ke Swiss, lalu kembali lagi ke Inggris.

Petugas medis menduga Walsh mulai terjangkit virus saat menghadiri konferensi dagang pada 18-22 Januari 2020 di Hotel Grand Hyatt, Singapura. Walsh hadir dalam acara tersebut sebagai pemimpin manajemen proyek Servomex, sebuah perusahaan analisis gas.

Seusai menghadiri konferensi dagang, Walsh mengunjungi sebuah resor ski di Pegunungan Alpen, Prancis. Dia menginap di sebuah chalet atau villa kecil bernama Les Contamines-Montjoie bersama dua kawannya, pasangan Bob dan Catriona Syanor, yang juga membawa sang anak berusia 9 tahun.

Naik Pesawat Rute Jenewa-London

Seusai berlibur, Walsh pulang ke Inggris dari Bandara Jenewa, Swiss, menuju Bandara Gatwick, London, Inggris, pada 28 Januari 2020. Dia pulang dengan maskapai penerbangan EasyJet yang berpenumpang sekitar 200 orang.

Sesampainya di Inggris, Walsh mampir ke sebuah pub di Hove, East Sussex, Inggris Tenggara. Walsh didiagnosis positif mengidap Virus Corona saat berada di Brighton, yang masih masuk wilayah East Sussex.

Setelah dikonfirmasi positif mengidap Covid-19, Walsh segera menghubungi otoritas kesehatan Inggris. Secara sukarela dia meminta masuk ruang isolasi di Guy’s Hospital, London. Padahal, saat itu ia belum menunjukkan gejala. Sebagai tindakan pencegahan, keluarganya juga diminta mengisolasi diri.

Otoritas kesehatan Inggris pun segera melacak orang-orang yang mungkin melakukan kontak dekat dengan Walsh selama ia bepergian sebelum akhirnya tertular virus. Hasilnya mengejutkan: 11 orang positif terinfeksi virus corona yang dibawa Walsh.

Sebelas orang yang terjangkit, yaitu Bob Saynor dan putranya yang berusia 9 tahun, teman menginap Walsh di Prancis. Lalu tiga warga negara Inggris yang menginap di resor ski yang sama. Dua pengunjung resor juga dinyatakan positif, satu saat berada di Inggris, lainnya saat berada di Mallorca, Spanyol. Terakhir, empat orang di Inggris juga dikonfirmasi mengidap Covid-19 seusai mengunjungi Prancis.

Berhasil Sembuh

Kabar baiknya, Walsh dikabarkan sembuh dari penyakit yang mematikan tersebut setelah menjalani perawatan. “Kini, Steve Walsh tidak lagi menularkan virus”, kata Direktur Insiden Strategis Pusat Kesehatan Nasional Inggris (NHS), Profesor Keith Willett, seperti dilansir dari Mirror, Kamis (13/2/2020).

Sebelum pulang dari rumah sakit, Walsh, 53, merasa memiliki beban karena dianggap sudah menularkan virus corona ke orang lain. Dia juga memikirkan nasib pasien lainnya. Selain bekerja di sebuah perusahaan yang menyediakan peralatan penelitian gas, dia juga pemimpin pramuka.

Dalam sebuah pernyataan setelah meninggalkan rumah sakit, Walsh berterima kasih kepada pihak yang sudah merawatnya.
“Saya senang berada di rumah dan kini merasa sehat. Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada NHS yang telah menenangkan saya,” jelasnya.

Mengganas di Korsel

Korea Selatan (Korsel) menjadi salah satu negara dengan penyebaran kasus virus corona tercepat.  Jumlah pasien virus corona di wilayah Korsel sudah melampaui 2.000 orang. Otoritas Korsel melaporkan 256 kasus baru pada Jumat (28/2/2020) pagi waktu setempat.

Seperti dilansir kantor berita Yonhap News Agency, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korsel (KCDC) menyatakan total 2.022 orang positif terinfeksi virus corona di Korsel hingga Jumat pagi waktu setempat.

Dari 256 kasus baru yang dilaporkan pada Jumat pagi waktu setempat, sebanyak 182 kasus di antaranya ada di wilayah Daegu. Sekitar 49 kasus lainnya ada di wilayah Provinsi Gyeongsang Utara. Kemudian sekitar enam kasus lainnya ada di ibu kota Seoul.

Komunitas Keagamaan

Kasus penyebaran Covid-19 di Korsel juga berkaitan dengan individu penyebar super, yang merupakan seorang nenek berusia 61 tahun. Tim medis setempat kemudian menyebutnya “Pasien 31”. Kasusnya terkonfirmasi di klinik kesehatan di Daegu, kota yang berjarak sekitar 200 kilometer dari Seoul, pada 17 Februari 2020 lalu.

Setelah dinyatakan positif terjangkit virus ini, otoritas kesehatan setempat langsung bergerak melacak riwayat perjalanan Pasien 31. Hasilnya cukup mengejutkan, dalam 10 hari terakhir setelah kasusnya terkonfirmasi, ia sempat menghadiri dua kebaktian di Gereja Yesus Shincheonjiang yang diikuti sekitar 1.000 jemaat.

Sebelum terjangkit diketahui si nenek tersebut sempat mengalami kecelakaan mobil. Seusai mengalami kecelakaan mobil pada 6 Februari 2020, Pasien 31 memeriksakan dirinya di Rumah Sakit Obat China Saeronan dengan keluhan sakit kepala pada keesokan harinya, yakni 7 Februari 2020.

Tidak ada gejala demam, batuk, atau gangguan pernapasan lainnya. Ia diputuskan untuk menjalani rawat inap.Pasien 31 mulai menderita demam selang tiga hari sejak diopname. Pemeriksaan flu di laboratorium dilakukan, namun hasilnya negatif.

Hadiri Kebaktian Gereja

Sehari setelah hasil pemeriksaan dinyatakan negatif, Pasien 31 izin meningalkan rumah sakit selama 2 jam untuk menghadiri misa pagi di Gereja Yesus Shincheonji cabang Daegu. Praktik ini memang lazim dalam perawatan medis di Korsel. Pasien boleh keluar-masuk rumah sakit meski tengah menjalani rawat inap.

Masih menjalani rawat inap, Pasien 31 sempat izin keluar rumah sakit untuk makan siang bersama teman di sebuah hotel di Daegu timur pada 15 Februari 2020. Pihak rumah sakit mengaku meminta Pasien 31 untuk menjalani tes novel coronavirus karena mengalami demam tinggi. Tapi permintaan tersebut diabaikan dan Pasien 31 malah keluar makan siang dengan temannya.

Keesokannya harinya, Pasien 31 kembali beribadah di gereja yang sama pada 16 Februari 2020. Gejala demam yang dialami kian parah pada 17 Februari 2020. Di hari yang sama, hasil pemeriksaan menunjukkan ia positif virus corona penyebab Covid-19.

Menyusul kasus positif virus corona pada Pasien 31, otoritas setempat mengkarantina 9.000 jemaat Gereja Yesus Shincheonji cabang Daegu. Pada Sabtu (21/2/2020), Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea Selatan menyebut dari seluruh jemaat gereja yang dikarantina, sekitar 1.200 orang di antaranya menderita gejala flu.

Seperti diberitakan AFP, Kamis (20/2/2020), total dia beribadah di Gereja Yesus Shincheonji sebanyak empat kali. Dari hasil investigasi, ia dilaporkan telah menulari setidaknya 37 jemaat, hingga virus menyebar keluar gereja.

Hingga saat ini, pihak berwenang masih menyelidiki bagaimana Pasien 31 bisa tertular penyakit ini. Mengingat, ia tidak memiliki riwayat bepergian ke luar negeri atau kontak dengan pengidap. Hingga berita ini ditulis, belum ada kejelasan tentang kondisi terkini terkait Pasien 31.

Ditulis oleh : Anik Sulistyawati

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.