Heboh Palestina Hilang Lagi di Google Maps, Begini Penjelasannya

Palestina sejak bertahun-tahun lalu memang tak terdaftar di peta navigasi Google Maps.

JEDA.ID – Hilangnya Palestina dari Google Maps kembali menjadi perbincangan di media sosial. Meski sudah dijelaskan berkali-kali, ada saja yang masih membicarakan fenomena ini hingga sekarang.

Ternyata benar, Palestina hilang di Google Maps,” tulis akun parodi @NUGarisLucu sebagaimana ditilik Senin (18/11/2019).

Tweet tersebut juga disertai gambar tangkapan layar yang menunjukkan hanya nama Israel yang terpampang di wilayah Palestina. Di sekitarnya juga tercantum wilayah jalur Gaza.

Tak lama berselang, sejumlah netizen mencoba menjelaskan fenomena Palestina hilang dari Google Maps. Beberapa diantaranya menyertakan tautan berita tahun 2016 silam.

Google Maps pada 2016 tak mencantumkan negara Palestina. Yerusalem yang selama ini menjadi wilayah dengan status quo dimasukkkan menjadi milik Israel.

Google menyebut memang sejak awal label Palestina tak ada di layanan petanya. Di samping itu, memang ada masalah yang menyebabkan Jalur Gaza dan Tepi Barat menghilang.

“Tidak pernah ada nama Palestina di Google Maps. Akan tetapi, kami juga menemukan ada bug yang menghilangkan label Jalur Gaza dan Tepi Barat,” ujar juru bicara Google seperti dikutip dari laman Engadget, Kamis (11/8/2016).

Situs berita wired.co.uk, menuliskan google map memberikan tanda garis putus-putus di Jalur Gaza dan Tepi Barat untuk menandai wilayah tersebut sebagai masih dalam perselisihan.

Palestina tetap terdata sebagai negara namun dalam fakta singkatnya, google map memberikan keterangan negara di Timur Tengah antara Laut Tengah dan Sungai Yordan yang status politiknya masih dalam perdebatan.

Google menyebut kota-kota di wilayah tersebut sebagai “Wilayah Palestina”. Namun sejak 2013, sesuai dengan arahan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), wilayah tersebut berubah nama menjadi “Palestina”.

Sengaja Dihilangkan

Tudingan atas keberpihakan Google kepada Israel pernah mengemuka pada 2016 lalu. Google dianggap sengaja menghilangkan negara Palestina di peta buatan mereka. New York Times menyebutkan tudingan ini berawal dari pendukung Palestina hingga mereka mengajukan petisi online. Di Twitter-pun hashtag, #PalestineIsHere, mengemuka.

Forum Jurnalis Palestina sempat mengajukan protes soal masalah tersebut. Menurut mereka, perusahaan yang kini dipimpin Sundar Pichai itu telah sengaja menghapus nama Palestina dari Google Maps pada 25 Juli 2016.

Dalam pernyataannya, keputusan Google itu disebut-sebut merupakan bagian dari skema Israel mempertahankan nama negaranya. Cara itu, menurut mereka, ditempuh sekaligus untuk menegaskan kehadiran Israel bagi generasi berikutnya, juga untuk menghapus Palestina untuk selama-lamanya.

Sebelumnya, seorang netizen bernama Zak Martin juga mengajukan protes serupa melalui petisi di Change.org. Petisi yang sudah diajukan sejak lima bulan lalu ini sudah ditandatangani oleh lebih dari 250 ribu orang.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI Arrmanatha Nasir mengatakan Peta Google bukanlah peta resmi dunia. Menurutnya publik di Indonesia tidak perlu khawatir tentang tidak adanya Palestina dalam peta tersebut.

“Google Map (Peta Google) bukan peta resmi dunia, sama seperti peta Bing atau Apple yang dibuat untuk kepentingan perusahaannya sendiri,” kata Arrmanatha Nasir di Jakarta, dilansir Antara, Sabtu (13/8/2019).

Arrmanatha menjelaskan, Pemerintah Indonesia mengacu pada peta resmi PBB yang telah mengakui Palestina sebagai nonmember observer state atau negara peninjau bukan anggota. “Bahkan ada Sidang Umum PBB 2015 lalu, bendera Palestina sudah dikibarkan di Markas Besar PBB di New York,” kata dia.

Bikin Peta Sendiri

Bukan hanya di Google Maps, Palestina juga tak ditemukan di Waze. Aplikasi peta Waze akan memberi peringatan “Perhatian: tujuan ini berada di area berisiko atau dilarang oleh hukum Israel” jika masuk wilayah Palestina.

Tak ada di Google Maps dan Waze, Palestina cuma muncul di aplikasi navigasi lain bernama Maps.Me. Maps.Me memiliki database yang berisikan rute jalan, sekolah, tempat berbelanja, dan beberapa tempat ikonik di kawasan Palestina.

Dilansir Mashable, Selasa (12/12/2017), Semua informasi tersebut didapat dari pemetaan dengan sumber terbuka layaknya Wikipedia.

Maps.Me didirikan pada 2011 di Belarus dan kini telah diunduh sebanyak 80 juta kali. Perusahaan tersebut kemudian pindah ke Moskow, Rusia setelah diakuisisi oleh perusahaan internet setempat pada 2014. Informasi sumber terbuka yang mereka manfaatkan berasal dari openstreetmap.org.

Maps.Me menggunakan informasi yang berasal dari Open Street Maps untuk mendapatkan pemetaan di kawasan West Bank dan Gaza.

Ada banyak diskusi di seluruh dunia, namun kita tidak benar-benar tahu seperti apa tempat-tempat ini,” kata Mikel Maron, seorang programmer dan ahli geografi yang mengorganisir pemetaan untuk Gaza pada tahun 2008 dengan Engineers Without Borders dan insinyur Palestina.

Meski demikian Maps.Me saat ini masih menjadi aplikasi kelas dua dibandingkan Google Maps dan Waze. Kesulitan mencari lokasi tergantung pada terjemahan atau pengejaan pemrograman di aplikasi peta dan navigasi.

Ditulis oleh : Jafar Sodiq Assegaf

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.