Dulu Golden Rice, Kini Beras Bervitamin ala Bulog

Sebelum Bulog mengenalkan beras bervitamin, pada 2000-an muncul golden rice. Bedanya golden rice bukan beras berfortifikasi.

JEDA.ID–Perum Bulog meluncurkan beras fortifikasi alias beras bervitamin yaang disebut memiliki kandungan beragam vitamin. Jauh sebelum Bulog meluncurkan beras itu, era 2000-an sempat ramai tentang hadirnya golden rice yaitu juga merupakan beras bervitamin.

Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso menjelaskan beras bermerek Forti-Vit ini mengandung berbagai vitamin. Beras bervitamin itu mengandung vitamin A, vitamin B1, vitamin B3, vitamin B6, vitamin B9 (Asam Folat), vitamin B12, Zat Besi (Iron) dan Zink.

Pelaksanaan penyediaan beras berfortifikasi oleh Bulog ini hasil bekerja sama dengan salah satu perusahaan penyedia kernel fortifikan. Fortifikasi adalah penambahan zat gizi mikro dalam makanan termasuk dalam beras.

”Beras itu diolah kembali, diproses ulang, sampai dia bersih semua, terus dicampur vitamin-vitamin itu baru dikemas. Makanya kita masak beras ini tidak perlu dicuci. Tadi kami lakukan demo,” kata Budi Waseso yang akrab disapa Buwas di Kantor Perum Bulog, Jakarta, Jumat (20/9/2019), sebagaimana dikutip dari Antara.

Buwas menjelaskan beras bervitamin ini bisa mendukung program Kementerian Kesehatan dalam mewujudkan Strategi Nasional Percepatan Pencegahan Stunting periode tahun 2018-2024.

Ada dua jenis beras bervitamin yang diluncurkan Bulog. Beras premium dilempar ke pasaran dengan harga Rp20.000/kg. Sementara beras medium bervitamin dipatok Rp12.000/kg. Beras medium ini juga akan disalurkan penerima Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT).

”Kami siapkan, masyarakat silakan memilih. Kami tidak bisa paksakan masyarakat. Kalau dia mau pilih beras yang Rp8.600 per kilogram atau medium yang tidak pakai vitamin, tidak apa-apa. Tapi pelan-pelan kami sampaikan kepada masyarakat harus konsumsi beras berkualitas,” kata Buwas.

Bukan Hal Baru

Dia menyebutkan memproduksi beras fortifikasi bukan hal baru bagi Bulog. Pada 2014, Bulog dilibatkan dalam pengembangan pilot project Fortifikasi Beras Bagi Keluarga Miskin, melalui kerja sama pemerintah dengan Asian Development Bank (ADB).

Kala itu beras berforfortifikasi dibagikan untuk warga miskin. Pada saat itu, kandungan vitamin dan mineral yang ditambahkan dalam beras raskin sebagai upaya untuk mengurangi dampak anemia bagi masyarakat berpendapatan rendah terutama bagi ibu hamil, menyusui dan anak balita.

Sebagaimana dikutip dari laman Bulog, pada 2015 lalu fortifikasi sudah dilakukan pada beras, garam, dan tepung terigu. Salah satu proyek percontohan beras fortifikasi ada di Karawang, Jawa Barat. Bahan campuran untuk fortifikasi menggunakan Premix.

Sebagai gambaran, proyek percontohan di Karawang yang jadi lumbung padi akan memproduksi 5.000 ton raskin forti membutuhkan impor 50 ton Premix. Di proyek percontohan ini anggaran yang digelontorkan menembus US$2 juta .

golden rice beras bervitamin

Ilustrasi golden rice (Freepik)

Sebelum Bulog mengenalkan beras bervitamin, pada 2000-an muncul golden rice. Bedanya golden rice bukan beras berfortifikasi. Golden rice disebut merupakan varietas beras baru yang memiliki banyak kandungan beta karoten, yang bisa diolah tubuh menjadi vitamin A dan tinggi tingkat kandungan zat besi-nya.

Inilah yang kemudian menjadikan golden rice kerap disebut beras bervitamin. Varietas ini diuji di International Rice Research Institute (IRRI) di Filipina.

”Kita namakan varietas dengan beta karoten ini golden rice karena warna bijinya yang kuning tua,” kata Parminder Virk, peneliti jenis beras baru ini kala itu sebagaimana dikutip dari laman Dinas Pertanian Kota Sukabumi.

Modifikasi Genetika

Golden rice dikembangkan dengan teknik modifikasi genetika yaitu menggabungkan gen maize dengan mikroorganisme tanah yang bisa menghasilkan beta karoten pada biji beras.

Varietas ini pertama kali ditemukan Profesor Ingo Potrykus ketika masih menjabat di Federal Institute of Technology, Swiss, dan Profesor Peter Beyer dari Universitas Freiburg, Jerman.

Sebagaimana dikutip dari laman LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), munculnya golden rice atau beras bervitamin pada 2000 langsung mendapat reaksi keras dari para oposisi GMO (genetically modified organism).

Reaksi ini muncul karena adanya kekhawatiran masyarakat akan tingkat keselamatan konsumsi golden rice. Namun polemik yang muncul tersebut tidak mematahkan semangat Ingo Potrykus dan Peter Beyer untuk terus mengembangkan penelitian beras bervitamin.

Bahkan untuk menjawab polemik yang muncul tersebut, Ingo Potrykus menulis sebuah artikel dalam jurnal Plant Physiology dengan judul “Golden Rice and Beyond” yang merupakan penjelasan menyeluruh terhadap status golden rice dan bagaimana seharusnya masyarakat umum menyikapinya.

Penelitian peningkatan kandungan beta karoten pada golden rice terus dilakukan selama kurang lebih lima tahun. Hasil yang dicapai kemudian disebut golden rice 2.

Dari penelitian disebutkan golden rice 2 memiliki sebuah potensi yang besar untuk menyelamatkan anak-anak dari kekurangan vitamin A. Kini kian banyak ragam beras bervitamin, namun yang pasti keamanan konsumsi dan kelengkapan kebutuhan vitamin A tetap menjadi prioritas utama.

Ditulis oleh : Danang Nur Ihsan

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.