20.000 Ton Beras bakal Dibuang, Bisa untuk Makan Sekabupaten Setahun

Bila dikomparasikan dengan konsumsi per kapita, beras yang akan dibuang itu bisa mencukupi untuk kebutuhan beras penduduk Kota Magelang selama setahun.

JEDA.ID–Perum Bulog akan membuang 20.000 ton beras karena sudah mengalami penurunan mutu akibat disimpan di gudang selama lebih dari satu tahun. Jumlah beras yang akan dibuang itu bukan angka kecil karena setara dengan 20 juta kilogram.

Andaikata beras itu bisa keluar dari gudang tidak terlalu lama, kira-kira bisa dikonsumsi untuk berapa orang? Mengutip data BPS dalam Kajian Konsumsi Bahan Pokok 2017, rata-rata konsumsi beras penduduk Indonesia adalah 0,306 kilogram sehari.

Artinya rata-rata tiap penduduk Indonesia mengonsumsi beras sebanyak 111,58 kilogram dalam setahun. Sedangkan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) dan Food and Agriculture Organization (FAO) dalam OECD-FAO Agricultural Outlook 2016-2025 menyebut rata-rata konsumsi beras orang Indonesia adalah 136,05 kg setahun.

OECD menyatakan Indonesia masuk tiga besar yang penduduknya suka makan nasi di bawah Bangladesh dan Vietnam. Bila menggunakan angka dari OECD, beras Bulog yang akan dibuang itu bisa dikonsumsi untuk 147.004 orang selama setahun.

Jumlah itu jauh lebih banyak dibandingkan penduduk Kota Magelang, Jawa Tengah, yang menurut Kemendagri jumlah warganya 131.249 jiwa. Atau penduduk Kabupaten Nunukan di Kalimantan Utara yang dihuni 136.679 jiwa.

Bila menggunakan perhitungan BPS, beras yang ingin dimusnahkan itu bisa dikonsumsi untuk 179.243 jiwa. Jumlah itu jauh lebih banyak dibandingkan penduduk calon ibu kota baru Indonesia yaitu Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, yang dihuni 171.789 jiwa.

Atau mendekati jumlah penduduk Kabupaten Bangka Selatan di Kepulauan Bangka Belitung yang memiliki 174.585 penduduk. Bisa juga dibandingkan dengan penduduk Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara yang berjumlah 165.510 jiwa.

makan nasi

Ilustrasi anak makan nasi (Freepik)

Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Perum Bulog Tri Wahyudi Saleh menyebutkan 20.000 ton dari stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang akan dibuang itu senilai Rp160 miliar dengan rata-rata harga pembelian di petani Rp8.000 per kilogram.

”Ini yang jadi masalah. Dari pemerintah sudah ada [aturannya], di Kemenkeu belum ada anggaran. Ini kami sudah usulkan. Kami sudah jalankan sesuai permentan, tetapi untuk eksekusi disposal anggaran tidak ada. Kalau kami musnahkan, gimana penggantiannya,” kata Tri di Jakarta, Jumat (29/11/2019), sebagaimana dikutip dari Antara.

Peraturan Menteri Pertanian

Sesuai Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 38 Tahun 2018 tentang Pengelolaan Cadangan Beras Pemerintah (CBP), disebutkan bahwa CBP harus dilakukan disposal (pembuangan) apabila telah melampaui batas waktu simpan paling sedikit empat bulan atau berpotensi dan atau mengalami penurunan mutu.

Batas waktu simpan terhitung mulai CBP disimpan di gudang yang dikuasai Perum Bulog. Permentan tersebut mulai aktif pada Oktober 2018.

Tri menjelaskan dari 2,3 juta stok beras di gudang Bulog saat ini, sekitar 100.000 ton beras yang usianya sudah di atas empat bulan. Dari jumlah tersebut, 20.000 ton beras dengan usia penyimpanan lebih dari satu tahun akan dimusnahkan.

”Semua stok Bulog yang disimpan lebih dari lima bulan itu dapat di-disposal, bisa diolah kembali, diubah menjadi tepung dan yang lain, atau turunan beras atau dihibahkan, atau dimusnahkan,” kata Tri.

Ia menambahkan anggaran untuk penggantian beras yang dibuang masih dikaji oleh Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan. Bulog berharap adanya sinkronisasi kebijakan antara Kementerian Pertanian dan Kementerian Keuangan karena berpotensi menjadi temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

”Ya semakin rusak kualitasnya kalau ditahan semakin lama. Makanya kami ‘lempar’ ke Kemenko Perekonomian. Kami sudah sampaikan ada sekian ton untuk disposal,” kata dia.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan akan membahas hal tersebut saat rapat nanti dengan Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto.

Dia belum mengetahui detail permintaan dari Perum Bulog mengenai anggaran untuk pembuangan 20.000 ton beras itu. “Saya nanti lihat ya. Saya lihat apa itu permintaannya,” tambah dia sebagaimana dikutip dari Detikcom.

Ditulis oleh : Danang Nur Ihsan

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.