Di Balik Tingginya Angka Kematian Akibat Covid-19 di Indonesia

Fatality rate atau tingkat kematian rata-rata Indonesia berada di peringkat dua dunia dan nomor wahid seantero Asia.

JEDA.ID – Belum lama ini Kementerian Kesehatan Malaysia menguak fakta suram terkait tingginya angka kematian akibat Covid-19 di Indonesia. Fatality rate atau tingkat kematian rata-rata Indonesia berada di peringkat dua dunia dan nomor wahid seantero Asia.

Sebanyak 8.882 orang Indonesia terkonfirmasi positif Covid-19 berdasarkan data hingga Minggu (26/4/ 2020). Jumlah itu bertambah 275 orang dibandingkan sehari sebelumnya yang masih 8.607 orang.

Sementara jumlah orang terkonfirmasi positif Covid-19 yang meninggal dunia bertambah 23 orang menjadi 743 orang. Di sisi lain, pasien yang sembuh dari penyakit tersebut juga bertambah sebanyak 65 orang menjadi 1.107 orang.

Disebutkan, salah satu penyebabnya adalah adanya pasien yang enggan menggunakan masker. Kebiasaan pasien di Indonesia yang tidak memakai masker juga berpotensi merugikan dokter. Ini dialami seorang dokter yang akhirnya tutup usia.

“Saat masuk ke ruangan praktik Papa, pasien itu memang pakai masker, tapi setelah di dalam ruangan praktik, maskernya dibuka,” tutur dr Leonita Triwachyuni, yang merupakan putri dari dokter Bambang Sutrisna yang tutup usia sebagai Pasien Dalam Pengawasan (PDP) Virus Corona.

Menurut laporan ABC Australia, Jumat (10/4/2020), dokter Bambang Sutrisna sebenarnya sudah curiga. Pasien yang menolak dirawat dan terus batuk-batuk saat datang ke tempat praktiknya itu terjangkit Virus Corona.

Selain batuk, hasil rontgen pasien tersebut juga mengarah ke Covid-19. Leonita menduga, pasien inilah yang kemudian menulari ayahnya, karena tak lama berselang ayahnya jatuh sakit.

“Saat itu saya juga memang menghindari pertemuan dengan Papa dan Mama. Karena saya sebagai dokter kerja di rumah sakit dan saya takut sekali membawa pulang penyakit dan menulari Papa Mama,” kata Leonita kepada Hellena Souisa dari ABC News seperti dilansir Liputan6.com.

Tidak Boleh Mendekat

Dokter Bambang Sutrisna, ahli penyakit menular yang juga pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia akhirnya tutup usia pada 23 Maret 2020. Meskipun dalam status PDP, dr Bambang Sutrisna dimakamkan menurut protokol pemakaman pasien Virus Corona.

Leonita menuturkan, saat ayahnya meninggal, ia didatangi dokter ahli forensik yang menjelaskan prosedur dan protokol pemakaman ayahnya. Ia juga diminta untuk menandatangani surat pernyataan kesediaan pemakaman mengikuti protokol, kemudian pihak rumah sakit meminta baju untuk ayahnya.

Selama proses itu, Leonita tidak boleh berada di ruangan. Saat peti sang ayah sudah siap dibawa ke pemakaman. Hanya petugas dinas pemakaman dan staf taman pemakaman dengan pakaian hazmat yang boleh membawa peti tersebut.

“Kami boleh hadir di pemakaman. Tapi kami tidak boleh mendekat atau menyentuh. Dan karena saat pemakaman Papa itu sedang gencar-gencarnya social distancing, pemakamannya hanya dihadiri oleh keluarga kami dan salah satu adik Papa. Tidak ada kebaktian pemakaman. Kami berdoa saja masing-masing,” ungkapnya.

Puasa Lancar Tanpa Gangguan Pencernaan, Begini Tipsnya

Mitigasi Mild

Menurut data statistik Dinas Pertamaman dan Hutan Kota DKI Jakarta yang membawahi pemakaman, secara keseluruhan hampir 4.400 penguburan terjadi pada Maret 2020.

Angka itu 40 persen lebih tinggi dari bulan apapun sejak Januari 2018. Di Jakarta, ada dua lokasi khusus untuk mereka yang dimakamkan mengikuti protokol Covid-19.  Permakaman itu untuk mereka yang sudah dinyatakan positif, atau meninggal dalam status PDP seperti dr Bambang Sutrisna, atau yang belum sempat dites namun menunjukkan gejala Covid-19.

Pada Senin 6 April lalu, Tim SimcovID yang terdiri dari sejumlah universitas dalam dan luar negeri telah meluncurkan pemodelan terbaru yang mensimulasikan COVID-19 di Indonesia.

“Sebenarnya apa yang dilakukan sekarang itu sudah masuk ke mitigasi yang ‘mild’ [dengan diam di rumah dan social distancing,” kata Nuning Nuraini, peneliti ITB yang tergabung dalam Tim SimcovID kepada Hellena Souisa dari ABC News seperti dilansir dari Liputan6.com.

Nuning menjelaskan, yang masuk ke dalam strategi mitigasi adalah memindahkan kegiatan sekolah dan universitas ke jalur online. Selain itu penerapan ‘social distancing’, bekerja dari rumah, dan melarang aktivitas kelompok yang besar.

Jika intervensi mitigasi diterapkan, angka kematian diperkirakan bisa menyentuh 1,2 juta orang.

Terungkapnya Kasus Pertama Covid-19 di AS dan Kontroversi Respons WHO

Strategi Supresi

Sementara supresi adalah semua hal di dalam strategi mitigasi tadi, ditambah dengan mekanisme denda, pembatasan aktivitas warga (hanya boleh keluar rumah untuk keperluan yang esensial seperti belanja bahan makanan). Selain itu harus ada  pembatasan operasional toko, kantor, usaha yang dianggap penting.

Misalnya, hanya apotek, pasar atau supermarket, perusahaan listrik dan telekomunikasi yang boleh buka dan melayani warga.

Dengan strategi supresi, perkiraan angka kematian bisa ditekan sampai 120.000 jiwa.

Pemodelan ini diharapkan Nuning dapat membantu pemerintah untuk menerbitkan kebijakan yang berbasis keilmuan, karena di balik angka kematian ada ayah, ibu, kakak, adik, anak, dan keluarga yang kehilangan.

Covid-19 Disebut Mengurangi Hidup Pasien

Sementara itu, penelitian baru mengklaim virus Corona bisa mengurangi usia hidup seseorang hingga 13 tahun. Sebuah tim peneliti dari The University of Glasgow mengungkap kaitan antara dampak jangka panjang dengan berapa lama mereka yang terkena virus Corona dapat bertahan hidup.

Para peneliti tersebut menggunakan informasi dari Italia tentang usia di mana pasien virus Corona meninggal, serta jumlah, dan jenis kondisi kronis yang dimiliki.

Melansir Daily Star, tim peneliti kemudian menggunakan tabel kehidupan organisasi kesehatan dunia (WHO) serta data dari Secure Anonimised Information Linkage (SAIL). Sebuah database besar perawatan kesehatan di Inggris, untuk memperkirakan berapa lama orang dengan karakteristik ini mungkin diharapkan untuk hidup.

Tim peneliti University of Glasgow menemukan bahwa Years of Life Lost (YLL) pasien Corona adalah 13 dan 11 tahun untuk pria dan wanita.

“Informasi seperti ini penting untuk memastikan pemerintah dan masyarakat tidak salah menilai efek Covid-19 pada individu,” kata pemimpin tim peneliti Dr David McAllister di Institut Kesehatan dan Kesejahteraan, Universitas Glasgow dan Konsultan Kehormatan dalam Kedokteran Kesehatan Masyarakat di Kesehatan Masyarakat Skotlandia.

Seperti dilansir detikcom, laporan mereka diterbitkan di Wellcome Open Research. Disebutkan di antara pasien yang meninggal karena Covid-19, ada beban yang cukup besar dalam hilangnya nyawa atau years of life lost. Hal ini sama seperti kasus lain yaitu penyakit koroner, penyakit jantung, atau pneumonia.

“Badan kesehatan publik dan pemerintah harus melaporkan YLL. Idealnya menyesuaikan dengan keberadaan kondisi jangka panjang yang mendasarinya, untuk memungkinkan publik dan pembuat kebijakan untuk lebih memahami beban penyakit ini,” tambah Dr David.

Ditulis oleh : Anik Sulistyawati

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.