Belajar dari Kisah Adik Via Vallen Positif Covid-19, Kapan Kita Harus Periksa?

Penyanyi Via Vallen membagikan kisah tentang adiknya yang positif terinfeksi virus Corona Covid-19. Menariknya hal ini diketahui setelah sang adik didorong melakukan tes swab.

JEDA.ID— Penyanyi Via Vallen membagikan kisah tentang adiknya yang positif terinfeksi virus Corona Covid-19. Menariknya hal ini diketahui setelah sang adik didorong melakukan tes swab.

Via Vallen (liputan6.com)

Via Vallen (liputan6.com)

Lewat unggahan di Instagram, Via Vallen bercerita bahwa awalnya sang adik diketahui memiliki tanda-tanda pneumonia ketika memeriksakan diri ke dokter. Khawatir itu gejala infeksi virus Corona, ia lalu melakukan rapid test dengan hasil non-reaktif (negatif).

“Aku tanya ada lagi tes buat mastiin Corona nggak? Kata beberapa suster di sana ada swab, tapi ini enggak perlu karena rapidnya sudah akurat. Emang uangnya mbak, swab mahal loh dan hasilnya lama,” kata Via Vallen seperti dikutip Instagramnya pada Senin (25/5/2020)

“Karena aku pengin memastikan 100 persen dia baik-baik saja, ya aku maksa aja dia swab dengan ngejanjiin kalau hasilnya negatif aku kasih uang jajan. Karena sebenarnya dia enggak mau diswab. Akhirnya dia mau. Setelah menunggu 10 hari, ternyata hasilnya positif,” lanjut Via Vallen.

Cerita Via Vallen kembali mendorong perhatian netizen terkait beda rapid test dengan tes swab. Via Vallen khususnya menyebut menjalani tes TCM yang biasanya digunakan untuk pasien penyakit tuberkolosis (TB), sebagai pelengkap tes swab yang menggunakan metode polymerase chain reaction (PCR).

Berikut perbedaan metode tersebut seperti dilansir detikcom, Selasa (26/5/2020):

Ciri dan Cara Mengatasi Akun Whatsapp Bila Disadap

Rapid Tes

Pemeriksaan rapid test menggunakan sampel darah. Seseorang yang terinfeksi akan membentuk antibodi yang disebut immunoglobulin, yang bisa dideteksi di darah. Immunoglobulin inilah yang dideteksi dengan rapid test.

Rapid test bisa dilakukan di mana saja dan hanya butuh waktu 15-20 menit untuk mendapatkan hasilnya dengan menggunakan kit. Kelemahannya adalah bisa menghasilkan ‘false negative’ yakni ketika hasil tes tampak negatif meski sebenarnya positif. Ini terjadi jika rapid test dilakukan kurang dari 7 hari setelah terinfeksi.

TCM

TCM sebelumnya dikenal untuk mendiagnosis penyakit tuberkulosis (TB) berdasarkan pemeriksaan molekuler. Pemeriksaan pada TCM ini menggunakan dahak dengan amplifikasi asam nukleat berbasis cartridge.

Tes ini akan mengidentifikasi RNA pada virus corona pada mesin yang menggunakan cartridge khusus yang bisa mendeteksi virus ini. Hasil tes TCM ini dapat diketahui dalam waktu kurang dari dua jam, untuk menentukan pasien positif maupun negatif.

PCR

Jenis pemeriksaan ini menggunakan sampel usapan lendir dari hidung atau tenggorokan. Lokasi ini dipilih karena menjadi tempat virus bereplikasi.

Virus yang aktif memiliki material genetika yang bisa berupa DNA maupun RNA. Pada virus corona, material genetiknya adalah RNA. Nah, RNA inilah yang diamplifikasi dengan RT-PCR sehingga bisa dideteksi.

PCR menjadi tes diagnosis standar di seluruh dunia untuk menegakkan diagnosis infeksi virus Corona COVID-19.

Pemeriksaan PCR jelas membutuhkan waktu lebih lama untuk mendapatkan hasil karena hanya dapat dilakukan di laboratorium yang sudah ditunjuk pemerintah.

Kapan Sebaiknya Melakukan Tes Corona?

Pemerintah telah menetapkan 132 rumah sakit rujukan untuk menangani kasus Covid-19. Namun, karena terbatasnya fasilitas kesehatan dan tenaga medis, tidak semua orang yang merasakan gejala infeksi virus Corona dianjurkan untuk langsung berobat ke rumah sakit.

Selain itu, penyakit infeksi virus ini pun sebenarnya dapat sembuh dengan sendirinya hanya dengan perawatan di rumah, bila gejalanya ringan.

Rumah sakit rujukan memiliki ruangan isolasi dan alat yang memadai untuk melakukan pemeriksaan dan menangani kasus yang berat sehingga diutamakan bagi penderita yang memang sudah terkonfirmasi positif dan mengalami gejala yang parah.

Seperti dilansir alodokter, sesuai protokol yang dikeluarkan oleh Kemenkes, Anda bisa langsung memeriksakan diri ke rumah sakit rujukan bila memiliki kedua kondisi berikut:

-Mengalami demam di atas 37,9 derajat C disertai gejala penyakit pernapasan, seperti batuk, sesak napas, pilek, ataupun sakit tenggorokan

-Pernah kontak dengan orang yang positif Covid-19 atau memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di daerah yang endemis Covid-19 (baik di dalam maupun di luar negeri) dalam 14 hari terakhir.

Gastrodia Bambu, Spesies Anggrek Hantu yang Suka Kegelapan

Isolasi Mandiri

Namun, untuk melindungi orang di sekitar Anda dari potensi tertular, sebaiknya Anda menghubungi hotline Covid-19 di 119 Ext. 9 terlebih dahulu.

Bila memang memenuhi kriteria, dinas kesehatan bisa menjemput dan mengantarkan Anda ke fasilitas layanan kesehatan atau rumah sakit rujukan Covid-19 terdekat.

Sementara itu, jika Anda memiliki riwayat kontak dengan orang yang positif Covid-19 atau pernah berada di daerah endemis penyakit ini namun tidak merasakan adanya gejala, Anda disarankan untuk melakukan isolasi mandiri selama 14 hari terhitung setelah kontak atau hari pertama bepergian.

Bila selama masa isolasi timbul gejala seperti yang disebutkan di atas, segera hubungi hotline Covid-19 atau periksakan diri ke rumah sakit rujukan bila keluhan sudah sangat mengganggu.

Namun, usahakan Anda menggunakan kendaraan pribadi, menggunakan masker, dan tetap menjaga jarak dengan orang lain.

Apabila tidak memiliki riwayat kontak dengan penderita Covid-19 maupun bepergian ke daerah endemis Covid-19 namun mengalami gejala demam atau gejala penyakit pernapasan ringan, seperti batuk, pilek, atau sakit tenggorokan, Anda tidak perlu langsung memeriksakan diri ke rumah sakit rujukan.

Apabila Anda tidak mengalami gejala Covid-19 serta tidak pernah kontak dengan penderita Covid-19 maupun bepergian ke daerah endemis Covid-19, Anda tetap perlu menerapkan physical distancing dan agar tidak tertular virus Corona.

Anda juga perlu ingat, walaupun tidak bergejala, bisa saja Anda membawa virus Corona dan menularkannya ke orang lain. Jadi, physical distancing juga berguna untuk mencegah penyebaran virus Corona.

Ditulis oleh : Anik Sulistyawati

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.