WHO: Herd Immunity Belum Akan Terbentuk di 2021

WHO berharap beberapa negara miskin di dunia juga bisa mulai program vaksinasi pada bulan ini.

JEDA.ID-WHO mengatakan herd immunity atau kekebalan kelompok tidak akan bisa tercapai pada 2021 ini. Butuh waktulama untuk membangun herd immunity tersebut.

“Bahkan saat vaksin mulai diberikan untuk melindungi mereka yang rentan [dari Covid-19], kami tidak akan bisa mencapai tingkat kekebalan kelompok pada 2021,” kata Ilmuwan WHO, Dr Soumya Swaminathan saat menghadiri konferensi pers pada Senin (11/1/2021), yang dikutip dari Fox News dan detikcom, Kamis (14/1/2021).

Walaupun vaksin telah diberikan, ia tetap mendesak warga dunia untuk melanjutkan penerapan protokol kesehatan termasuk jaga jarak yang ketat sepanjang tahun ini.

Setelah Divaksin, Apakah Aman untuk Bertemu Teman dan Keluarga?

“Bahkan jika itu terjadi di beberapa daerah, itu tidak akan melindungi orang di seluruh dunia,” lanjutnya.

Menurutnya, adanya vaksin harusnya tidak akan membuat masyarakat lupa dengan langkah-langkah pencegahan penularan yang selama ini diterapkan. Misalnya seperti menjaga jarak, menggunakan masker, dan menjaga kebersihan.

Kekebalan kelompok ini biasanya bisa dicapai melalui vaksinasi, jika orang dalam suatu populasi memiliki antibodi yang diperlukan untuk menangkal infeksi dan mencegah penyebaran virus. Para ahli memperkirakan butuh sekitar 75 persen dari populasi untuk mencapainya.

Selain itu, penasihat Direktur Jenderal WHO, Bruce Aylward, meminta komunitas global untuk memastikan semua negara memiliki akses untuk mendapatkan vaksin.

Kisah Wanita AS Pakai Baju yang Sama Selama 100 Hari, Ini Alasannya

Ia juga menambahkan, badan kesehatan PBB berharap beberapa negara miskin di dunia juga bisa mulai program vaksinasi pada bulan ini atau bulan depan.

“Kami tidak bisa melakukannya sendiri,” ujar Aylward.

Seeperti kita ketahui sejumlah negara telah melakukan program vaksinasi, termasuk Indonesia. Selain Indonesia, beberapa negara juga menggunakan vaksin Sinovac buatan China.

Dalam beberapa data yang dipublikasikan, efikasi vaksin Sinovac tercatat lebih rendah dibandingkan vaksin Pfizer yang mencapai 90 persen, dan vaksin Moderna 95 persen, atau vaksin AstraZeneca di kisaran 60 hingga 90 persen. Efikasi vaksin Sinovac dalam uji klinis di Indonesia hanya 65,3 persen.

Mengenal Critical Eleven, Titik Kritis dalam Penerbangan Pesawat

Meski demikian, organisasi kesehatan dunia WHO memang hanya mensyaratkan efikasi sebesar 50 persen untuk bisa disetujui.

1. China

Sempat muncul tudingan bahwa vaksin Sinovac tidak dipakai di negara asalnya. Faktanya, China menjadi salah satu negara yang menggunakan vaksin Sinovac untuk mengatasi pandemi Covid-19. Sudah 9 juta dosis disuntikkan sejak Agustus kepada kelompok berisiko tinggi termasuk tenaga medis.

2. Turki

Kementerian Kesehatan Turki telah mengumumkan rencana penggunaan Sinovac sejak akhir Desember 2020. Turki sepakat untuk memesan 50 juta dosis vaksin Sinovac.

3. Brasil

Negara ini menjadi salah satu tempat uji klinis III vaksin Sinovac. Pada pertengahan November 2020, Brazil menerima 120.000 dosis pertama Sinovac dan menunggu persetujuan regulator kesehatan nasional (Anvisa).

Sering Duduk Terlalu Lama? Ini 6 Pilihan Olahraga yang Tepat

Brazil masih terus melakukan pengujian untuk mengetahui seberapa efektif vaksin Sinovac dalam pencegahan penularan Covid-19. Berdasarkan uji coba di Brazil, ditemukan efikasi yang lebih rendah dari yang ditemukan oleh ilmuwan di Turki meski masih berada di atas ketentuan WHO

4. Indonesia

Indonesia sendiri sudah mendatangkan 3 juta dosis vaksin Sinovac dalam bentuk produk jadi, dan 15 juta bulk atau bahan baku. Presiden Joko Widodo menjadi orang pertama di Indonesia yang disuntik vaksin  Sinovac pada Rabu (13/01/2021).

Ditulis oleh : Astrid Prihatini WD

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.