Tak Seindah Kisahnya, Ini Fakta-Fakta “Mengerikan” di Balik Drama Korea

Proses pembuatan atau produksi tak seindah kisah dalam dramanya. Mulai dari tuntutan kejar tayang hingga banyaknya kru yang kelelahan.

JEDA.ID – Drama Korea (Drakor) memang terkenal dengan berbagai adegan-adegan yang bikin penonton ikutan baper. Selain penampilan aktor dan aktrisnya yang memesona, akting mereka juga memukau sehingga membuat pemirsa tak sabar menunggu episode berikutnya.

Namun di balik itu, proses pembuatan drakor tak seindah scene dalam drama. Mulai dari tuntutan kejar tayang hingga banyaknya kru yang kelelahan menjadi bukti kerasnya proses syuting drakor.

Keadaan lokasi syuting drakor layaknya medan perang bagi para pemain dan kru untuk menyelesaikan syuting yang diburu waktu.

Bahkan, mereka rela begadang semalaman demi take berkali-kali agar mendapat adegan yang sempurna. Selain beberapa hal tersebut, berikut sederet fakta kerasnya proses pembuatan drakor yang dihimpun dari berbagai sumber, Selasa (19/5/2020):

Mengenal mRNA-1273, Vaksin Corona yang Siap Januari 2021

Tekanan kerja yang mengerikan

Penayangan drakor biasanya dua kali dalam sepekan. Walaupun demikian untuk mengejar kesempurnaan adegan tiap episodenya para kru film akan menetapkan jadwal syuting yang padat.

Hal ini juga berlaku bagi aktris dan aktor, bahkan mereka sering kali tidak mendapatkan waktu beristirahat dan makan yang cukup. Alhasil banyak aktris yang masuk rumah sakit karena kelelahan.

Hal serupa pernah dirasakan oleh aktor Joo Won yang curhat tidak tidur selama enam hari demi syuting drama Yongpalyi. Jung Woong In yang memerankan tokoh kepala ruangan Lee juga menyebut lingkungan syuting Yongpalyi adalah yang terburuk. Sedangkan aktris Park Bo Young bahkan mengaku trauma dengan lokasi syuting setelah membintangi drakor Oh My Ghost.

Lingkungan kerja yang tidak ramah

Selain tekanan kerja, ternyata lingkungan kerjanya juga tidak ramah. Para kru pada beberapa drama lebih memilih hasil akting artisnya dibandingkan rasa kekeluargaan.

Bila aktris atau aktor kelelahan, mereka cenderung tidak peduli dan seleb tersebut harus melanjutkan penampilannya.

Bayaran aktris dan aktor yang tidak adil

Selain tekanan dan hal tidak menyenangkan yang diterima pemain drakor, beberapa aktris maupun aktor mengaku tidak dibayar karena biaya produksi drama yang terlalu kecil.

Alasan lain mereka tidak mendapat bayaran karena biaya pembuatan drama yang besar namun ratingnya tidak memuaskan. Namun ada juga artis-artis tertentu yang memiliki bayaran fantastis dalam setiap episode, karena bakat aktingnya.

Salah satu aktris Korea Selatan yang memilki bayaran tinggi adalah Jun Ji-hyun. Melansir dari Wikipedia, mengawali kariernya sejak 1977 wanita kelahiran 30 Oktober 1981 ini dibayar sebesar 100 juta won atau sekitar Rp1,25 miliar per episode.

Ada banyak film dan drama yang berhasil dibintanginya seperti, The Berlin File (2013), Assassination (2015), My Love from the Star (2013-2014), The Legend of the Blue Sea (2016-2017), dan masih banyak lagi.

Termasuk Dory Harsa, Ini Sederet Musikus Milenial Penerus Didi Kempot

Kontrak memaksa dan mengikat

Beberapa kru dalam drakor akan menawarkan kontrak yang tidak bisa diubah lagi. Dengan kata lain, aktris dan aktor yang akan memerankan tokoh dalam drama harus tunduk dalam setiap kontrak yang telah dibuat.

Salah satunya terjadi pada aktris cantik pemeran drakor Birth of Beauty, Han Ye Seul yang pernah lari dari lokasi syuting dan kabur ke Amerika karena enggak tahan dengan keadaan syuting yang membuatnya stres.

Perubahan script di menit akhir

Beberapa drama kadang mengubah naskah sewaktu-waktu. Hal tersebut didasari karena rating yang menurun atau adegan yang kurang sesuai dengan image aktris maupun aktornya.

Padahal usaha dalam mengingat serta menjiwai peran tentu bukan hal yang mudah bukan? Saat para artis tersebut tengah mengistirahatkan tubuh maupun otaknya, mereka harus rela dijejali dengan skrip baru.

Hal tersebut pernah dialami oleh personeil girl band korea, Yoona SNSD. Ia mengaku kebingungan dengan perubahan skrip yang mendadak saat memerani drakor The K2.

Mengejar rating

Alasan buruknya sistem syuting drama Korea lagi-lagi tak lepas dari ambisi mengejar rating. Tim produksi tak segan-segan mengedit isi drama sesuai dengan keingian penonton atau syuting dadakan sebelum ditayangkan.

Kadang jalan ceritanya meningkat dan meneruskan syuting hingga siang di hari penayangan episode tersebut. Keinginan penonton pun berubah-ubah dan jika tak dituruti maka mereka akan berpaling. Masalahnya, serial drama di Korea Selatan bersaing dengan Amerika dan Jepang yang bisa diakses melalui Internet.

Membahayakan aktris dan aktor

Ada beberapa drama yang menyuguhkan adegan action dan perkelahian. Walaupun didukung dengan alat pengaman dan pemeran cadangan, ada beberapa sutradara yang menginginkan artisnya melakukan adegan tersebut langsung.

Hal tersebut merupakan tantangan tersendiri bagi aktris maupun aktor, pasalnya ada juga drama yang tidak peduli tentang keselamatan para pemainnya. Kondisi ini dialami oleh dua aktor, Lee Jun Ki dan Lee Yoo Bi yang sama-sama mengalami cedera cukup parah saat syuting drama Scholar Who Walks The Night.

Ditulis oleh : Ria Sari Febrianti

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.