Sutopo BNPB Raih 17 Penghargaan dalam 2 Tahun

Sejak divonis kanker akhir Desember 2017, dia gigih dalam melakukan upaya pengobatan maupun dalam menginformasikan berbagai kejadian bencana selama 2018 hingga pertengahan 2019.

JEDA.ID–Masih lekat dalam ingatan Fajar Kurniawan masa remajanya yang sering dihabiskan bersama Sutopo Purwo Nugroho. Kala itu tahun 1983 saat keduanya sama-sama mengenyam pendidikan di SMPN 1 Boyolali, Jawa Tengah.

Pandai dan rendah hati. Dua hal itu yang tertanam di benak Fajar Kurniawan hingga kini. Fajar menyebutkan Sutopo merupakan siswa yang pandai sehingga jadi langganan juara kelas. Sutopo juga dikenal sebagai pribadi yang rendah hati karena meskipun pintar secara akademis, tetapi tetap diimbangi dengan sikapnya yang santun.

Fajar mengisahkan hal itu di rumah orang tua Sutopo di Dukuh Surodadi RT 007/ RW 009 Siswodipuran, Boyolali, sebagaimana dikutip dari Solopos.com. Kepala Pusat Data dan Informasi dan Hubungan Masyarakat (Pusdatin & Humas) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho meninggal di Rumah Sakit St. Stamford Modern Cancer Hospital, Guangzhou, Tiongkok, Minggu (7/7/2019).

Putra pasangan Suharsono Harsosaputro dan Sri Roosmandari ini berpulang sekitar pukul 02.20 waktu Guangzhou atau sekitar pukul 01.20 WIB. Sutopo meninggalkan istri Retno Utami Yulianingsih dan dua putra Muhammad Ivanka Rizaldy Nugroho dan Muhammad Aufa Wikantyasa Nugroho.

Sutopo kemudiaan melanjutkan pendidikannya di SMAN 1 Boyolali, SMA negeri terbaik di kabupaten itu. Kemampuan akademisnya yang baik membawa laki-laki kelahiran 7 Oktober 1969 ini diterima di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Dia memperoleh gelar sarjana dari Jurusan Geografi UGM Yogyakarta pada 1993. Kala itu, Sutopo menjadi menjadi lulusan terbaik di sana pada tahun itu. Setahun berselang, Sutopo mulai karier sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di Badan Pengkajian dan Penelitian Teknologi (BPPT). Dia mengawali karier di bidang penyemaian awan. Sutopo kemudian melanjutkan pendidikannya di bidang hidrologi. Gelar S2 dan S3 diraih laki-laki ini di Institut Pertanian Bogor (IPB).

Jabatan Tiga Bulan

Awalnya Sutopo membantu BNPB, sebelum bekerja penuh di lembaga itu mulai Agustus 2010. Dia menduduki posisi Direktur Pengurangan Risiko Bencana BNPB. Hanya sekitar tiga bulan menduduki jabatan itu, Sutopo kemudian menjadi Kepala Pusdatin & Humas BNPB. Dia sampai tiga kali ditawari untuk menduduki posisi itu.

Selama menduduki posisi ini, nama Sutopo melambung karena selalu terdepan dalam menyampaikan berbagai informasi kebencanaan kepada publik. Beragam julukan diberikan kepada Sutopo atas dedikasinya menyampaikan informasi bencana kepada publik. Ada yang menyebutnya Sang Informan, First Responder Asia, hingga Pahlawan Kemanusiaan.

Dedikasi Sutopo menuai banyak pujian karena dia tetap mendedikasikan pekerjaan meski telah divonis menderita kanker paru-paru stadium IVB.  Sejak divonis kanker akhir Desember 2017, dia gigih dalam melakukan upaya pengobatan maupun dalam menginformasikan berbagai kejadian bencana selama 2018 hingga pertengahan 2019. Dia tetap melakukan konferensi pers secara bersinambungan saat terjadi gempa bumi Lombok dan gempa bumi Palu di tengah rasa sakit yang menderanya.

sutopo purwo nugroho

Sutopo saat dirawat di Tiongkok (BNPB)

”Pak Topo adalah Pahlawan Kemanusiaan yang telah ikut membesarkan nama BNPB sejak dibentuk tahun 2008. Pak Topo juga telah mengharumkan nama Indonesia dalam sejumlah karyanya antara lain penghargaan tertinggi yang diterima Pemerintah RI di Baku, Azerbaijan dari PBB di Bidang Inovasi Kebencanaan melaui Petabencana,” ujar Kepala BNPB Doni Monardo sebagaimana dikutip di laman bnpb.go.id.

Atas dedikasinya yang sangat luar biasa itu, Sutopo mendapatkan 17 penghargaan dalam kurun waktu dua tahun. Pada 2018 lalu, dia menyabet 13 penghargaan yaitu The First Responder Asia dari The Straith Times, Singapura; The Most Inspirational Aparat Sipil Negara (ASN) dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, dan Communicator of the Year 2018 dari Kementerian Komunikasi dan Informatika.

Inspirator Penyintas Kanker Paru

Berikutnya PNS Inspiratif  Terfavorit 2018 dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Outstanding Spokeperson of the Year 2018 dari Jakarta Foreign Correspondents Club (JFCC), dan Pejabat Tinggi Pratama Teladan dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi.

Kemudian Tokoh Komunikasi Kemanusiaan dari Kementerian Komunikasi dan Informatika, Human Initiative Award 2018 dari PKPU, Tokoh Teladan Anti Hoax dari Mafindo, Humas Pemerintah Terbaik dari Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (Perhumas Indonesia), dan Inspirator Terbaik Penyintas Kanker Paru dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI). Dua penghargaan yang didapat IAGI Award 2018 dari Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) dan PNS Inspiratif 2018, dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi.

Pada 2019 dia mendapatkan Obsesion Award 2019 Kategori Best Bureaucrats dari Obsession Media Group (OMG), Tokoh Perubahan Republika 2018 dari Republika, Public Relation Berkinerja Cemerlang dari Majalah PR Indonesia, dan Liputan6 Awards 2019 Kategori Pengabdian Masyarakat dari SCTV.

Berbagai pengobatan dilakukan hingga akhirnya Sutopo dibawa ke St. Stamford Modern Cancer Hospital, Guangzhou, China, sejak 15 Juni 2019 yang lalu. Sebab, kanker yang dideritanya telah menyebar ke tulang dan beberapa organ vital tubuh. Sutopo tutup usia pada 49 tahun.

”’Hidup itu bukan soal panjang-pendeknya usia, tapi seberapa besar kita dapat membantu orang lain,’ kata Pak Sutopo, suatu ketika. Dan ia mengamalkan kalimat itu dengan baik,” tulis Presiden Joko Widodo (Jokowi) melalui akun Instagramnya saat mengulang ucapan Sutopo.

Ditulis oleh : Danang Nur Ihsan

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.