Rokok Penyebab Kemiskinan, 28,9% Penduduk Perokok

Bila dihitung, konsumsi rata-rata rokok di desa 13,13 batang/hari dan 12,55 batang per hari di kota.

JEDA.ID–Badan Pusat Statistik (BPS) mengatakan harga rokok memiliki andil terhadap kemiskinan 11,38 persen di pedesaan dan di perkotaan 12,22 persen. Lalu berapa jumlah perokok di Indonesia? Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat sekitar 28,9% penduduk merupakan perokok.

Kepala BPS Suhariyanto menyatakan salah satu komoditas yang memberi sumbangan besar terhadap garis kemiskinan yakni rokok kretek filter, lantaran setiap bulan menyumbang inflasi. ”Rokok kontribusinya pelan-pelan naik. Karena setiap bulan inflasinya 0,01%. Tapi kalau rokok naik tetap enggak ada yang komplain,” kata dia dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Senin (15/7/2019).

Kemenkes dalam Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 yang dikutip dari laman depkes.go.id, menyebutkan jumlah perokok terlihat dari proporsi merokok pada penduduk umur 10 tahun ke atas. Yaitu 24,3% perokok setiap hari dan 4,6% perokok kadang-kadang. Selain itu terdapat 5,3% mantan perokok dan 65,9% bukan perokok.

Jika dirata-rata konsumsi rokok mencapai 12,8 batang/hari. Rokok yang paling banyak dihisap adalah kretek sebanyak 67,8%.

Bila dilihat dari jenis kelamin, 47,3% laki-laki merokok setiap hari, 8,5% merokok kadang-kadang, 9,2% mantan perokok, dan 35% tidak merokok. Sedangkan perempuan ada 1,2% yang merokok setiap hari, 0,7% merokok kadang-kadang, 1,3% mantan perokok, dan 96,8% tidak merokok.

Jika dilihat dari tempat tinggal, Kemenkes menyebut dari jumlah perokok di perkotaan adalah 23% perokok setiap hari dan 4,6% perokok kadang-kadang. Sisanya, 6,2% mantan perokok dan 66,2% tidak merokok. Sedangkan di perdesaan 25,8% perokok setiap hari dan 4,5% perokok kadang-kadang. Sisanya, 4,1% mantan perokok, dan 65,6% tidak merokok.

Bila dihitung, konsumsi rata-rata rokok di desa 13,13 batang/hari dan 12,55 batang per hari di kota. Padahal, pada 2013, konsumsi rokok di perkotaan dan perdesaan masih 10,3 batang dan 10,8 batang per hari.

Dilihat dari sisi pekerjaan, 63,7% nelayan adalah perokok setiap hari, 40,1% petani atau buruh tani perokok setiap hari, dan 36% wirawasta perokok.

Perokok Muda

Sedangkan dari usia, terdapat 5,3% perokok setiap hari dan 3,8% perokok kadang-kadang untuk anak usia 10-18 tahun. Kondisi ini menjadi sorotan Badan Kesehatan Dunia (WHO).

”Jadi concern saya lebih ke kualitas generasi muda kita dan nantinya kualitas populasi kita seperti apa kalau misal rokok sudah jelas-jelas nggak sehat tapi konsumsinya meningkat. Kemudian usia perokok juga makin lama makin muda,” kata Senior Advisor on Gender and Youth dari WHO Diah Saminarsih sebagaimana dikutip dari Detikcom.

Produksi rokok pada periode 2014 hingga 2018 anjlok 12 miliar batang. Penurunan produksi ini juga berdampak pada penurunan pendapatan negara sedikitnya Rp1,2 triliun per tahunnya. Produksi turun dari 344,52 miliar batang pada 2014 menjadi 332,38 miliar batang pada 2018.

“Memang tidak mudah untuk mengendalikan industri rokok, sebab melibatkan petani tembakau, cengkeh, aspek kesehatan dan penerimaan negara. Pemerintah harus memiliki skenario,” kata Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) Yustinus Prastowo sebagaimana dikutip dari Bisnis.com.

Ditulis oleh : Danang Nur Ihsan

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.