Ricky Yacobi Meninggal, Kenali Tanda-Tanda Serangan Jantung Saat Olahraga

Kasus serangan jantung saat berolahraga kerap kali terjadi.

JEDA.ID-Kabar duka datang dari dunia sepakbola Indonesia. Legenda Ricky Yacobi meninggal dunia. Ricky Yacobi meninggal pada Sabtu (21/11/2020) pagi WIB.

Dia diduga mengalami serangan jantung saat sedang bermain sepakbola untuk ajang silaturahmi dengan tajuk Trofeo Medan Selection di Lapangan ABC, Senayan, Jakarta Pusat.

Pria 57 tahun asal Medan ini sempat mencetak gol dan melakukan selebrasi sebelum terjatuh hingga tak sadarkan diri. Mantan pemain PSMS Medan hingga Arseto Solo ini sejatinya sempat dilarikan ke rumah sakit terdekat, namun tak tertolong.

Ini Penemu Batu Meteor asal Indonesia, Temuannya Laku Terjual Rp200 Juta

“Habis cetak gol mau selebrasi, terus jatuh kena serangan jantung,” ujar rekan almarhum, Lody Hutabarat, melalui grup WhatsApp.

Tak hanya dialami oleh Ricky Yacobi, kasus serangan jantung saat berolahraga kerap kali terjadi. Beberapa atlet juga dikabarkan mengalami serangan jantung saat berolahraga yang kemudian merenggut nyawanya.

Tips kesehatan kali ini membahas tanda-tanda serangan jantung saat olahraga. Antisipasi risiko kematian mendadak bisa dilakukan dengan mengenali tanda-tanda serangan jantung saat olahraga. Berikut di antaranya:

1. Jantung berdebar-debar

Tubuh terasa panas tidak selalu menjadi tanda serangan jantung saat melakukan olahraga. Praktisi kesehatan dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dr Jack Pradono Handojo, MHA, menyebut tandanya bisa jadi jantung berdebar-debar hebat dengan frekuensi denyut nadi di atas 160 bpm (beat per minute).

“Biasanya yang terjadi, denyut nadinya naik sampai 180-190 itu sebenarnya sudah tanda-tanda bahwa dia udah nggak sanggup lagi,” katanya.

2. Sulit mengatur napas

Saat kita sudah mulai merasa sesak atau napas sudah terengah-engah dan sulit untuk lari sambil bicara, maka itu tandanya kita harus mengurangi power.

Olahraga bagi Usia 40 Tahun ke Atas, Apa Sajakah yang Cocok?

“Biasanya orang pakai monitor kalau sudah di 180 bpm dia ngasih sinyal. Kemudian kita turunkan temponya, turunkan intensitasnya, turunkan speednya, sampai dia turun lagi ke 150. Baru safe lagi untuk running,” katanya.

3. Merasa mual dan mata berkunang-kunang

Jika telah mengalami mual dan pusing, maka kamu sudah harus berhenti. Memaksakan diri saat berolahraga pada tahap ini bisa berakibat fatal. Saat kepala terasa pusing dan pandangan berkunang-kunang, seorang pelari mesti berhenti sejenak karena dikhawatirkan akan pingsan.

“Di titik itu kunang-kunang, tandanya mau jatuh [pingsan],” kata dokter Jack.

4. Pingsan atau blackout

Dekan FKUI Prof Dr dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, mengatakan saat oksigen di otak sudah mulai menipis, orang akan pingsan. Meski demikian, di titik itu dia belum meninggal dunia.

“Penanganan ketika pingsan inilah yang paling penting. Ketika dia tidak bernapas, segera berikan oksigen atau pernapasan buatan,” katanya.

5. Jantung berhenti bekerja

Orang yang berlari atau saat berolahraga biasanya akan mengecek kesehatannya terlebih dahulu. Dalam kondisi awal, mereka terlihat sehat. Lalu kok bisa terjadi meninggal mendadak?

“Kalau memang dia ini ada gangguan jantungnya, kemudian dengan dia melakukan exercise akhirnya memaksa jantung bekerja keras. Dalam waktu singkat terjadi henti jantung,” kata dr Ari.

Ditulis oleh : Astrid Prihatini WD

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.