Pulih dari Jerat Corona, Wuhan Kembali Siap Sapa Dunia

Pemerintah Provinsi Hubei, China, mengatakan akan membuka kembali akses transportasi di Kota Wuhan pada 8 April mendatang.

JEDA.ID – Pemerintah Provinsi Hubei, China, mengatakan akan membuka kembali akses transportasi di Kota Wuhan pada 8 April mendatang. Keputusan ini secara efektif mencabut karantina massal di atas kota yang menjadi awal pusat penyebaran virus corona (Covid-19) Desember 2019 lalu.

Berdasarkan pernyataan resmi dari pemerintah, warga Wuhan akan diizinkan meninggalkan kota dan provinsi Hubei mulai tanggal tersebut Pelonggaran ini dilakukan setelah Hubei melaporkan bahwa tidak ada infeksi pada 19 Maret. Angka ini sangat menggembirakan karena Wuhan awalnya menjadi pusat lonjakan kasus Covid-19 yang terjadi di China.

Data yang dihimpun Antaranews dari Komisi Kesehatan Nasional China (NHC) pada 24 Maret tercatat 67.800 kasus positif Covid-19 di Provinsi Hubei dengan angka kematian 3.153 orang dan kesembuhan 59.882 orang. Wuhan memang memberikan kontribusi terbanyak dengan 50.000 (positif), 2.517 (kematian), dan 42.788 (kesembuhan). Namun, jumlah kasus yang masih aktif di seluruh China hanya tinggal 4.735.

Presiden Xi Jinping mengungkapkan keyakinannya bahwa pemerintahnya telah menghentikan wabah di China. Pada 10 Maret, Xi mengunjungi Wuhan untuk kali pertama sejak wabah tersebut muncul.
Tetapi dengan persebaran virus yang jauh lebih cepat di negara lain, ekonomi terbesar kedua di dunia itu akan berjuang untuk melanjutkan aktivitas ekonominya. Sementara Eropa sekarang melaporkan lebih banyak kasus daripada China.

Tak Hanya di Indonesia, Ini 8 Jenis Gorengan dari Berbagai Dunia

Langkah Dramatis

China pada 23 Januari mengambil langkah dramatis dengan memberlakukan lockdown di Wuhan dan daerah sekitarnya dan secara efektif membatasi pergerakan 60 juta orang di provinsi Hubei ketika infeksi Covid-19 berada di luar kendali.

Keputusan tersebut menghentikan perjalanan udara dan kereta api serta membatasi perjalanan kendaraan pribadi. Selain itu pemerintah juga melarang pertemuan besar dan mencegah orang keluar dari rumah mereka.

Sejumlah kritikus awalnya memandang tindakan karantina ini sebagai pendekatan yang keras setelah kegagalan pemerintah sebelumnya untuk bertindak cukup cepat guna membendung penyebaran. Ketika virus menyebar secara global, negara-negara lain termasuk Italia, Filipina, dan India juga memberlakukan hal yang sama dengan skala nasional.

Meskipun lockdown di Hubei mungkin telah mencegah ratusan ribu kasus, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat kebijakan tersebut menempatkan pasien coronavirus di provinsi itu pada tingkat kematian yang jauh lebih tinggi daripada daerah lain.

Meringankan Karantina

Setelah kasus di Hubei berlipat ganda, rumah sakit kewalahan oleh pasien dan kelangkaan pasokan, sehingga memaksa mereka untuk menunda penanganan pasien dengan penyakit kritis lainnya.

Pejabat China telah bergerak untuk meringankan karantina secara bertahap setelah kasus baru turun ke nol dari puncaknya yang sempat mencapai 15.000 per hari bulan lalu.

Hubei pekan lalu mulai mengizinkan beberapa warga di daerah berisiko rendah untuk meninggalkan provinsi dan pergi bekerja. Pemerintah bekerja sama dengan aplikasi Alipay untuk memindai warga mana yang diizinkan untuk keluar.

Sistem kode kesehatan berbasis QR pada aplikasi akan menunjukkan tiga warna berbeda setelah memindai pengguna, yang berdasarkan lokasi, informasi kesehatan dasar, dan riwayat perjalanan.
Warna hijau pada aplikasi berarti kebebasan bergerak, sedangkan kuning dan merah menunjukkan bahwa masing-masing perlu melakukan karantina mandiri atau bahkan diharuskan memasuki fasilitas karantina virus Corona.

“Brutal” tapi Efektif

“Strategi lockdown corona di China: brutal tapi efektif,” demikian judul salah satu halaman utama The Guardian edisi 19 Maret 2020.Tanda-tanda keberhasilan lockdown Wuhan itu sudah mulai terlihat. Dalam beberapa terakhir, tidak ada lagi temuan kasus baru Covid-19 di Provinsi Hubei.

Kota Wuhan pun sudah mulai pulih, meskipun tidak 100 persen dengan mulai beroperasinya lagi perusahaan otomotif China-Jepang, Dongfeng-Honda Motor Corp, yang mempekerjakan lebih dari 12.000 karyawan per 11 Maret.

Otoritas Wuhan mencabut beberapa pembatasan akses keluar-masuk wilayahnya mulai 22 Maret. Demikian halnya dengan jaringan transportasi publik di Wuhan yang mulai beroperasi secara bertahap.

Penduduk setempat hanya perlu menunjukkan kartu keterangan sehat yang dapat dipindai dari ponsel kepada petugas keamanan yang berjaga di kompleks perumahan.

Kemudian petugas tersebut memeriksa suhu badan sebelum mengizinkan warganya keluar atau memasuki kompleks perumahan. Sementara kontrol perjalanan antardistrik (kecamatan) di Kota Wuhan telah dihapus.

Masyarakat dari luar kota yang hendak memasuki Wuhan terlebih dulu harus mengajukan aplikasi permohonan untuk mendapatkan izin yang kemudian ditunjukkan kepada petugas perbatasan berikut kartu sehat di ponsel. Dokumen-dokuman lainnya untuk memasuki Kota Wuhan sudah tidak diperlukan lagi.

Berbeda dengan Flu, Ini Kisah Pengalaman Pasien Covid-19 dari Hari ke Hari

Beijing Memperketat Wilayah

Sebaliknya, Pemerintah Kota Beijing memperketat wilayahnya seiring dengan bertambahnya kasus impor Covid-19 yang dibawa para pendatang yang baru kembali. Penerbangan dari berbagai negara tujuan Beijing, mulai 23 Maret, dialihkan ke 12 kota lain di China yang bandar udaranya sudah dilengkapi fasilitas kesehatan untuk pengecekan Covid-19.

Penumpang yang tidak memiliki gejala apa pun diizinkan kembali naik pesawat tujuan Ibu Kota China itu. Beberapa bandara internasional di Tianjin, Taiyuan (Provisi Shanxi), dan Hohhot (Daerah Otonomi Mongolia Dalam) sejak 20 Maret sudah bisa menampung para penumpang internasional.

Beberapa bandara lainnya yang masuk daftar tujuan pengalihan terdapat di Shijiazhuang (Provinsi Hebei), Jinan dan Qingdao (Provinsi Shandong), Nanjing (Provinsi Jiangsu), Shenyang dan Dalian (Provinsi Liaoning), Zhengzhou (Provinsi Henan), Xi’an (Provinsi Shaanxi), dan Pudong (Shanghai).
Otoritas Beijing mewajibkan penumpang yang baru datang dari berbagai negara untuk melakukan tes asam nukleat Covid-19.

Kasus Impor

Di Beijing terdapat dua bandara internasional, yakni Bandara Udara Internasional Ibu Kota Beijing (BCIA) di Distrik Shunyi yang berjarak sekitar 28 kilometer dari pusat kota dan Bandara Daxing di Distrik Daxing yang baru dioperasikan pada Oktober 2019 yang berjarak sekitar 70 kilometer dari pusat kota.

Hingga 22 Maret pukul 12.00 waktu setempat, Komisi Kesehatan Pemerintah Kota Beijing mencatat 99 kasus impor Covid-19 dari berbagai negara. Padahal hingga 21 Maret tidak ada kasus tambahan Covid-19 dari penduduk setempat dalam 15 hari terakhir.

Di China teradapat 353 kasus impor hingga 23 Maret sebagaimana data NHC, sedangkan Beijing menyumbang 31 persen. Sementara itu, kehidupan sehari-hari di beberapa provinsi lainnya di China dalam beberapa hari terakhir sudah mulai normal.

Beberapa tempat hiburan di Kota Shenyang, Provinsi Liaoning, seperti bar, karaoke, panti pijat, salon kecantikan, dan pusat kebugaran sudah buka secara bertahap.

Seperti laporan Hongxing News, lebih dari 82 persen pusat perbelanjaan di Kota Chengdu, Provinsi Sichuan, juga sudah buka. Fasilitas publik, seperti museum, galeri seni, dan pusat kebudayaan di Provinsi Jiangxi juga telah beroperasi.

 

Ditulis oleh :

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.