Mi Lethek: Karena Rasa Mengalahkan Rupa

Sebelum mi lethek dijual di warung-warung, ada proses panjang dalam pembuatannya yang terpusat di Srandakan. Mi masih diproduksi dengan cara tradisional menggunakan tenaga sapi.

JEDA.ID–Lethek adalah bahasa Jawa yang bisa diartikan kotor atau bersih. Begitu pula dengan mi lethek, kuliner khas Bantul, DIY, yang bisa dibilang bentuknya tidak menarik.

Mi lethek menjadi kuliner khas yang diproduksi di Dusun Bendo, Kelurahan Trimurti, Srandakan, Bantul. Bagi yang tengah berwisata di sekitar Bantul akan dengan mudah menemukan kuliner ini umumnya di warung-warung makan kelas rakyat.

Biasanya ada dua jenis mi yang ditawarkan, yaitu mi godong atau rebus dan mi goreng. Biasanya mi lethek disajikan dengan campuran ayam kampung dan telur bebek.

Disantap selagi masih panas, mi terasa nikmat karena memberi citara rasa gurih sehingga akan menggugah selera makan. Sebagaimana dikutip dari Detikcom, ada beberapa tempat kuliner mi lethek yang bisa jadi alternatif kulineran.

Mi Lethek Kang Sum

Warung makan sederhana ini tak pernah sepi pembeli. Sumardiono atau Kang Sum menawarkan mi lethek rebus dan goreng. Ada juga magelangan yang nikmat dengan campuran nasi goreng.

Tambahannya berupa suwiran daging ayam kampung dan telur bebek. Proses pengolahannyapun masih sederhana karena mi dimasak di atas tungku anglo berbahan bakar arang batok kelapa. Lokasi warung ini berada di dekat Kompleks Makam Raja-Raja Mataram di Imogiri.

Mi Lethek Bantul Mbah Mendes

Mbah Mendes kerap jadi tujuan utama para pencinta mi lethek di Jogja. Di sini ada pilihan mi rebus, goreng, dan mie plencing. Seporsi mi berisi telur, daun bawang, kubis, seledri, irisan wortel, suwiran daging ayam, dan tomat.

Makin enak dengan rendaman kaldu ayam kampung dan pelengkap acar mentimun serta cabai rawit. Warung mi ini ada di Sorobayan, Gadingsari, Sanden, Bantul dan punya cabang di Maguwoharjo, Depok, Sleman.

Bakmi Lethek Sor Pring

Warung ini sudah ada sejak 1980-an. Suasana bersantap di sini istimewa dengan semilir angin dan suasana pedesaan. Mi lethek diracik dengan bumbu bawang, kemiri, dan merica yang menebar aroma gurih sedap.

Pelengkap telur dan irisan ayam kampung membuat mi makin nikmat. Warung Bakmi Lethek Sor Pring ini bisa ditemui di Tegal Layang, Caturharjo, Pandak, Bantul

Warung Bumi

Warung sudah lama terkenal dan kian terkenal saat mantan Presiden AS Barack Obama menikmati mi lethek di tempat ini. Warung Bumi mengolah mi lethek yang didatangkan langsung dari Kecamatan Srandakan, Bantul.

Tersedia dalam pilihan kuah atau goreng. Pelengkapnya antara lain telur dan suwiran ayam kampung yang dimasak dengan kaldu ayam kampung. Warung ini ada di Jl. Imogiri-Mangunan km 3, Desa Giriloyo, Wukirsari, Imogiri, Bantul.

Sebelum mi dijual di warung-warung, ada proses panjang dalam pembuatannya yang terpusat di Srandakan. Di tempat tersebut mi diproduksi dengan cara tradisional menggunakan tenaga sapi.

Sebagaimana dikutip dari laman indonesia.go.id, sapi dipakai untuk menggerakkan alat mencampur adonan mi. Mesin penggiling yang digerakkan oleh tenaga sapi laksana blender raksasa.

Penggiling tersebut memiliki diameter dua meter dan bobot satu ton. Ada 2 atau 3 pekerja yang berdiri di sekitar sapi yang bertugas membolak-balikan adonan. Pada umumya dalam sehari, pengadukan adonan dilakukan enam kali. Tiap sapi dapat dua sif mengaduk.

Pembuatan mi lethek

Pembuatan mi lethek (JIBI)

Syiar Agama

Yasir Ferry generasi ketiga yang kini meneruskan usaha itu mengisahkan perusahaan pembuatan mi berdiri pada 1940-an. Sang pendiri adalah kakeknya Umar Bisri Nahdi.

”Kakek cerita awalnya ya bukan untuk mencari nafkah. Di tahun itu orang sini kan butuhnya makan, sehingga lebih mudah dalam syiar sambil membagikan makanan,” ujar dia.

Proses pembuatan mi lethek diawali dengan menyusun adonan tepung berbentuk kubus dan memanggangnya di dalam tungku kayu bakar. Setelah itu, tepung berbentuk kubus tersebut dikeluarkan dari tungku pemanggang dan digiling di tempat penggilingan yang digerakkan tenaga sapi.

Selama proses penggilingan, adonan tepung singkong atau tepung tapioka dicampur sedikit air sekitar kurang lebih dua jam dan setelah itu dimasukan kembali ke dalam tungku selama dua hingga tiga jam lamanya.

Adonan lantas dikeluarkan kembali dan siap untuk dimasukan kedalam mesin pencetak mi. Adonan tepung yang sudah berubah menjadi sulur-sulur mi kemudian dikumpulkan, ditata, dijemur sebentar, dan dimasukan lagi ke dalam tungku sebelum akhirnya dijemur di bawah terik sinar matahari seharian penuh hingga keesokan harinya.

Mie yang telah kering pasca penjemuran selama delapan jam itu kemudian dibungkus ke dalam kemasan plastik sebelum siap untuk didistribusikan ke pasaran. Setelah puluhan tahun diproduksi mi lethek tetap eksis karena rasa bisa mengalahkan rupa.

Ditulis oleh : Danang Nur Ihsan

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.