Mendadak Tak Bisa Cium Bau, Gejala Covid-19 atau Bukan?

Tidak bisa cium bau sebenarnya bisa disebabkan oleh beberapa faktor dan bukan hanya disebabkan Covid-19. Jadi perlu diketahui apa penyebab hidung tidak bisa cium baru.

JEDA.ID-Anosmia atau tidak bisa cium bau saat ini berkaitan erat dengan Covid-19. Bahkan Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (CDC) mencantumkan tidak bisa cium bau ini sebagai salah satu gejala pasien Covid-19.

Namun, anosmia ternyata tidak hanya dialami oleh pasien yang terinfeksi virus corona. Ini bisa terjadi pada pasien dengan penyakit lainnya, seperti sinusitis hingga polip.

Dokter spesialis THT dari RSUP Persahabatan, Deasi Anggraini,  mengatakan indera penciuman kehilangan kemampuan mencium bau sebenarnya bisa disebabkan oleh beberapa faktor dan bukan hanya disebabkan Covid-19.

Untuk membedakannya, dia menjabarkan ciri-cirinya. Jika dari segi gejala, baik anosmia karena Covid-19 atau penyakit lain itu hampir sama.

“Berbeda dengan kondisi lain. Kalau pada sinusitis atau polip, biasanya keluhannya itu sudah dialami penderita dari sebelum-sebelumnya,” bebernya.

Gempa Megathrust Pemicu Tsunami 20 Meter, Apa Itu?

Deasi menambahkan, jika pada penyakit yang bukan karena Covid-19, kondisi anosmia ini bisa hilang-timbul bahkan terjadi terus menerus. Kondisi ini juga bisa terjadi saat seseorang mengalami cedera kepala yang muncul setelah kejadian, dan juga bisa terjadi secara perlahan pada orang yang berusia lanjut.
Kapan gejala anosmia muncul pada pasien Covid-19?

“Biasanya anosmia muncul di awal. Ada satu penelitian di Turki yang menganalisis, keluhan anosmia ini muncul di H-4 atau H-3 sebelum gejala demam atau terdiagnosis dengan PT-PCR,” terang  Deasi seperti dikutip dari detikcom, Selasa (29/9/2020).

Nah untuk membedakan apakah anosmia yang dialami itu merupakan gelaja Covid-19 atau bukan, cek di sini bedanya ya:

1. Jika sifatnya mendadak atau sudden, ada kemungkinan gejala Covid-19.
2, Gejala Covid-19 bisa disertai dengan gejala demam, batuk, fatigue atau rasa tubuh yang lemah, nyeri otot, sakit kepala, nyeri tenggorok, atau gejala lainnya
3. Pastikan dengan pemeriksaan RT-PCR atau swab test.

“Angka kepositifan anosmia ini di Amerika sudah 70 persen,” kata Deasi, Selasa (29/9/2020).

Untuk mencegah terbentuknya klaster penularan Covid-19,  Deasi menyarankan untuk melakukan RT-PCR (reverse-transcriptase polymerase chain reaction) atau tes swab ketika mengalami anosmia. Tujuannya untuk memastikan anosmia tersebut adalah gejala Covid-19 atau bukan.

Jika tidak memungkinkan untuk RT-PCR, maka disarankan untuk melakukan isolasi mandiri selama minimal 7-10 hari. Ini dilakukan untuk mencegah terbentuknya klaster keluarga dan perkantoran yang belakangan ini banyak dibicarakan.

“Ini disebabkan karena banyaknya pasien yang mungkin mengalami anosmia atau tanpa gejala tapi tidak menyadari. Nah ini yang berbahaya,” jelas  Deasi.

Anak-Anak Stres Selama Pandemi Corona, Ini Tandanya

Menurut  Deasi, Covid-19 memang bukan satu-satunya penyebab anosmia. Ada berbagai infeksi lain yang juga menyebabkan hilangnya indra penciuman.

“Biasanya khas untuk Covid-19 itu sifatnya mendadak, kemudian bisa juga disertai dengan gejala demam, kemudian batuk, tubuh lemas, nyeri otot, sakit kepala atau nyeri tenggorokan. Itu apabila disertai dengan gejala yang lain,” kata Deasi.

Ditulis oleh : Astrid Prihatini WD

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.