Krisis Air Tanah di Balik Jakarta dan Sejumlah Kota yang Terancam Tenggelam

Penurunan permukaan tanah diprediksi akan membuat Jakarta dan sejumlah kota besar di dunia akan terancam tenggelam.

JEDA.ID— Penurunan permukaan tanah diprediksi akan membuat Jakarta dan sejumlah kota besar di dunia akan terancam tenggelam.

Badan Geologi Kementerian ESDM mencatat, dari hasil pemantauan dengan GPS Geodetic, laju penurunan tanah di Jakarta Utara mencapai 12 cm setiap tahunnya. Jika dibiarkan bukan tidak mungkin Jakarta akan tenggelam secara harfiah.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro menerangkan, rata-rata penurunan muka tanah DKI Jakarta sekitar 7,5 cm per tahun. Dia menyebut, ada wilayah yang penurunan muka tanahnya mencapai 18 cm per tahun.

“Kalau ngomong Jakarta saat ini rata-rata penurunan muka tanah sekitar 7,5 cm per tahun, 3-18 cm karena tidak merata. Bayangin 18 cm, paling gawat Pluit. Rata-ratanya 7,5 per tahun cm,” kata dia kepada detikcom di kantornya, Jumat (11/1/2019).

Dia melanjutkan, penurunan muka tanah sendiri sudah terjadi sejak 1975. Penurunan muka tanah ini sejalan masifnya pengambilan air tanah serta pembangunan gedung. Menurut Dinas Tata Air Jakarta yang merujuk dari berbagai penelitian, pembaharuan air tanah dalam memakan waktu puluhan tahun dibandingkan air tanah dangkal. Alasan inilah, pemerintah mengontrol penggunaan air tanah dalam.

Masih menurut Dinas Tata Air Jakarta, persediaan air tanah di Jakarta sebanyak 852 juta meter kubik. Jumlah ini terdiri dari air tanah permukaan (800 juta meter kubik) dan air tanah dalam (52 juta meter kubik). Batas aman penggunaan air tanah ini adalah 30 persen. Namun, penggunaan air tanah sudah melewati batas aman. Menurut hasil penelitian 2011, penggunaan air tanah sudah 64 persen dari perkiraan persediaan.

Beban Berat

Laju penurunan permukaan tanah di daerah Ancol, Jakarta Utara menjadi yang tertinggi di Jakarta. Bila menggunakan alat GPS Geodetik penurunannya mencapai 12 cm per tahun. Ancol hanya jadi contoh bagaimana ancaman Jakarta tenggelam suatu keniscayaan.

Pengambilan air tanah yang berlebihan di Jakarta menyebabkan turunnya permukaan air tanah yang ikut menjadi penyebab terjadinya penurunan tanah (land subsidence) dan intrusi air laut atau masuknya air laut ke daratan.
Sumber air bersih Jakarta baru 40 persen yang dipenuhi oleh PDAM, sisanya 60 persen masih memanfaatkan air tanah.

Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan menerangkan penurunan permukaan tanah yang mencapai 12 cm harus ditangani dengan serius. Jika dalam satu tahun, dihitung 10 cm saja maka dalam 10 tahun tanah di Jakarta Utara sudah mengalami penurunan 1 meter, kemudian dalam waktu 50 tahun terjadi penurunan 5 meter.

“Jangan sampai penggunaan air tanah ini tanpa diperhitungkan dampak lingkungan, orang lain di sekitar kena dampak. Saya imbau Pak Gubernur sekarang, saya yakin dia concern pada masalah air tanah,” ungkap Jonan di Kementerian ESDM, Selasa (15/10/2019).

Menurut Jonan, tindakan yang bisa dilakukan untuk mencegah penurunan permukaan tanah di Jakarta di antaranya dengan melakukan pemantauan kondisi air tanah Jakarta.

Kemudian pemantauan penurunan permukaan tanah, optimalisasi upaya konservasi dengan pengembangan teknologi konservasi, pelayanan rekomendasi teknis, pelayanan data serta informasi air tanah secara elektronik.
Selain Jakarta, ada beberapa kota besar di dunia juga terancam tenggelam di masa depan jika tidak ada aksi besar yang dilakukan. Berikut sejumlah kota besar yang terancam tenggelam seperti dilansir sejumlah sumber.

1. Houston (Amerika Serikat)

Kota Houston di Amerika Serikat sudah selama beberapa dekade mengalami penurunan tanah. Sama seperti di Jakarta, penyebab utamanya adalah pengambilan air tanah yang berlebihan. Wilayah bernama Harris County menurut data US Geological Survey, sudah turun 3 meter sejak tahun 1920-an.

Per tahun, area Houston terus turun sampai 5 centimeter per tahun. Sejak tahun 1975, otoritas sebenarnya sudah mencoba meregulasi penggunaan air tanah di Houston. Namun masalah itu belum juga terselesaikan karena kebutuhan air yang tinggi.

2. Lagos (Nigeria)

Lagos adalah ibu kota Nigeria yang terletak di tepi pantai dan merupakan kota terpadat di Afrika. Kondisi geografinya menyebabkan Lagos rentan terkena banjir dan garis pantainya terimbas erosi. Belum lagi naiknya level air laut membuat kota ini makin rentan tenggelam.

Sebuah studi pada 2012 menyebutkan karena garis pantai di Nigeria begitu rendah, seandainya level air laut meningkat sekitar 1 sampai 3 meter saja akan mengakibatkan dampak buruk bagi populasi di sana. Level air laut naik terkait dengan pemanasan global.

3. New Orleans (Amerika Serikat)

New Orleans yang terletak di Amerika Serikat juga terancam air laut. Sebelumnya, hanya sepertiga New Orleans yang ketinggiannya berada di bawah air laut. Ketika badai Katrina menghantam pada tahun 2005, angkanya melonjak jadi separuh wilayah.

Kota ini terancam oleh kenaikan air laut karena tanahnya longgar dan selain itu sangat dekat dengan pantai. New Orlenas disebut mengalami penurunan tanah sekitar 1 centimeter per tahunnya.

4. Beijing (Tiongkok)

Studi pada 2016 menunjukkan tanah di Beijing turun sampai 10 centimeter per tahun di beberapa area. Penyebabnya ternyata sama dengan Jakarta dan Houston, yaitu menipisnya air tanah karena terlalu banyak digunakan.

Ibu kota negara Tiongkok amat bergantung pada air tanah untuk memenuhi kebutuhan penduduknya karena tidak banyak sumber air permukaan di sana. Tanahnya menjadi kurang stabil dan mengalami penurunan.

5. Venesia (Italia)

Venesia turun tanahnya per tahun 0,2 centimeter dan selalu terancam banjir. Italia mulai membangun tembok di Venezia untuk mencegah ancaman banjir, yang rencananya selesai pada 2011, namun akhirnya molor sampai 2022.
Ketika badai besar datang pada 2018, proyek senilai US$6,5 juta itu belum siap. Banjir yangd diakibatkan bencana itu adalah yang terburuk dalam satu dekade di kota indah yang selalu ramai dengan turis itu.

6. Dhaka (Bangladesh)

Bangladesh hanya berkontribusi sebesar 0,3 persen terhadap emisi global. Mirisnya, kota Dhaka di Bangladesh malah terancam tenggelam karena pemanasan global.
Pada 2050 mendatang, diperkirakan sebanyak 17 persen dari kota ini akan tenggelam dan 18 juta orang kehilangan rumahnya.

7. Bangkok (Thailand)

Saat ini, Bangkok tenggelam dalam kecepatan 1 sentimeter per tahun. Kota Bangkok diperkirakan akan tenggelam sepenuhnya pada 2030 nanti. Untuk mencegah banjir, sebuah taman yang dapat menampung 3,7 juta liter air hujan telah dibangun di Bangkok.

8. Rotterdam (Belanda)

Bukan rahasia lagi jika negara Belanda berdiri di atas lahan yang dikeringkan. Namun, akibat pemanasan global, nyaris 90% dari kota Rotterdam akan kembali tenggelam. Belanda sendiri kini sudah membangun penampungan air layaknya Bangkok, yang diberi nama Room for the River.

9. Alexandria (Mesir)

Pantai-pantai di Alexandria dikabarkan sudah mulai lenyap karena permukaan air laut terus mengalami kenaikan. Jika tidak diatasi, Laut Tengah diperkirakan akan meluap setinggi 2 kaki atau 0,6 meter pada 2100.

Ditulis oleh : Anik Sulistyawati

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.