Ilmuwan Temukan Varian Virus Corona Baru yang Lebih Menular

Para peneliti menemukan varian dalam virus corona baru atau Covid-19 yang mematikan dan lebih menular menular daripada yang asli.

JEDA.ID-Sebuah studi dari para peneliti menemukan varian dalam virus corona baru atau Covid-19 yang mematikan dan lebih menular menular daripada yang asli.

Pandemi mematikan ini terus menyapu seluruh dunia dengan jumlah kasus infeksi mencapai lebih dari 11 juta kasus dan jumlah kematian lebih dari 500.000 kasus. Akan tetapi, para ilmuwan telah menemukan varian baru yang lebih mengerikan.

Dilansir dari Express dan dikutip bisnis.com, Selasa (7/7/2020) mutasi dari virus SARS-CoV-2 dilaporkan telah memantapkan dirinya di seluruh dunia dan dapat menginfeksi sel manusia dengan upaya yang lebih mudah dibandingkan virus aslinya.

Hasil studi yang diterbitkan dalam jurnal Cell itu menemukan bahwa mutasi dengan kode D614G bisa lebih menular. Untai bermutasi tersebut ditemukan lebih umum di antara sampel virus dari Eropa dan Amerika Serikat.

Para ilmuwan dari Laboratoriun Nasional Los Alamos di New Mexico, Duke University di California, dan University of Sheffield melakukan kerja sama penelitian untuk menganalisis sekuens genom dari virus corona baru.

Mereka menemukan varian bermutasi membentuk lebih banyak spike protein, yang berarti dapat menginfeksi lebih banyak sel. Mereka menganalisis data dari 999 pasien Inggris dengan varian D614G tersebut.

Para peneliti menemukan bahwa meskipun varian itu membawa lebih banyak partikel virus, itu tidak mengubah keparahan penyakit. Erica Ollmann Saphie dari La Jolla Insitute for Immunology mengatakan tampaknya virus corona menjadi lebih kuat.

Virus Corona Menyebar Lewat Udara, WHO Didesak Ubah Rekomendasi

Biasanya, virus berubah seiring waktu dan kesalahan acak terjadi ketika genom memproduksi dirinya sendiri. Sementara itu, Anthony Fauci, direktur National Institute of Allergy and Infectious Diseases (NIAID) mengatakan masih belum pasti apakah varian itu akan memicu penyakit serius.

Adapun Nathan Grubaugh dari Yale Scholl of Public Health mengatakan mutasi tidak banyak berubah bagi kondisi manusia. Dia tidak mengharapkan D614G akan mengubah langkah kontrol yang telah dilakukan dan dapat memperburuk infeksi individu.

Para peneliti mengklaim bahwa virus corona baru dengan mutasi tersebut menyebar secara tidak sengaja di Eropa karena merupakan varian pertama yang mencapai benua lain, dari kasus pertama yang dilaporkan berasal dari Wuhan, China.

Kepala ahli epidemiologi di Chinese Center for Disease Control and Prevention, Wu Zunyou, mengatakan kepada CGTN bulan lalu bahwa sangat jelas terlihat jenis virus yang ada di beberapa negara berbeda dengan apa yang terjadi pada awal-awal masa pandemi.

“Strain virus adalah jenis epidemi utama di negara-negara Eropa. Jadi itu dari luar China yang dibawa ke Beijing,” katanya.

China sebelumnya telah berhasil menahan laju penyebaran virus, tetapi belakangan kasusnya muncul lagi di kota Beijing.

Sementara itu, sejumlah ahli memprediksi pandemi Covid-19 masih berlangsung lama.

Hilary Jones, dokter dan penulis medis asal Inggris memperkirakan bahwa pandemi virus corona baru atau Covid-19 bakal berlanjut hingga natal dan musim semi mendatang.

Dilansir dari Metro UK, Selasa (7/7/2020), dalam sebuah acara televisi, dia membagikan pemikirannya tentang berapa lama kiranya kita akan berurusan dengan Covid-19, sebelum hidup normal.

“Apa yang akan kita lihat adalah jumlah kasus yang stabil selama beberapa bulan. Kita mungkin akan melihat lonjakan kecil di sana-sini dan mudah-mudahan kita akan dapat mengunci tempat itu untuk melindungi semua orang,” katanya.

Fakta Ikan Cupang yang Harganya Bisa Mencapai Puluhan Juta Rupiah

Namun demikian, menurut Jones, masyarakat masih akan hidup dengan kondisi pandemi ini hingga Natal dan musim semi mendatang. Penilaian ini juga telah diungkapkan sebelumnya oleh ahli lain dari berbagai negara.

Kita harus bersabar dan menyadari bahwa ini mungkin krisis terbesar yang dihadapi dalam hal ekonomi dan kesehatan, sejak Perang Dunia Kedua. Kita harus berkorban dan jika melakukannya, kita akan bangkit kembali,” ujar Jones.

Komentar Jones muncul setelah mantan penasihat kepala ilmiah Inggris memperingatkan bahwa 27.000 kematian di Inggris kemungkinan akan berlanjut jika pemerintah terus melakukan pendekatan yang tak tepat selama pandemi.

Berbicara kepada Sky News pada Minggu (5/7/2020), Sir David King mengatakan bahwa kebijakan pemerintah saat ini seolah-olah bertujuan untuk mempertahankan tingkat infeksi sekitar 3.000 kasus baru per hari di seluruh Inggris.

“Apa yang kami katakan adalah 27.000 kematian [karena Covid-19] mungkin menjadi tambahan jika pihak berwenang mempertahankan infeksi tersebut. Jika benar kita masih memiliki 2.000 hingga 3.000 infeksi baru per hari, itu adalah jumlah kematian yang akan terjadi setelahnya,” kata David King.

Uji Klinis Tahap Akhir

Koktail antibodi (antibody cocktail) yang dirancang untuk mencegah mengobati penyakit Covid-19 sekarang memasuki uji klinis tahap akhir.

Ketika terinfeksi Covid-19, tubuh manusia menghasilkan molekul berbentuk Y yang disebut antobodi, yang menempel pada virus dan menandainya untuk dihancurkan atau menghambat kemampuannya untuk menginfeksi sel-sel sehat.

Antibodi itu dapat diambil dari pasien Covid-19 yang telah pulih dan disuntikkan kepada pasien yang sakit untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh mereka terhadap virus. Metode pengobatan seperti ini dikenal dengan nama terapi plasma konvensional.

Ilustrasi pemberian vaksin (Freepik)

Akan tetapi terapi tersebut memiliki keterbatasan, seperti donasi plasma dari pasien yang berbeda mengandung campuran antibodi yang berbeda pula dan beberapa di antaranya dapat menargetkan Covid-19 lebih efektif dibandingkan yang lain.
Misalnya, beberapa antibodi secara langsung dapat mencegah virus masuk ke dalam sel di tempat pertama. Sementara antibodi yang lain mungkin tidak mencegah infeksi, tetapi mengarahkan molekul kekebalan lain untuk menghancurkan sel yang terinfeksi.

Untuk mengatasi keterbatasan ini dan menghindari mengandalkan pasokan plasma yang terbatas, para peneliti mulai beralih ke antibodi monoklonal, yakni antibodi yang dipilih dengan cermat karena kemampuannya untuk menargetkan patogen tertentu kemudian diproduksi secara massal.

Saat ini, salah satu terapi seperti itu dikenal dengan nama REGN-COV2 yang dilaporkan telah memasuki tahapan uji klinis fase ketiga untuk mengevaluasi apakah pengobatan dapat mencegah infeksi Covid-19 dari orang sehat yang melakukan kontak dengan orang yang terinfeksi.

Dilansir dari Live Science, Selasa (7/7/2020), ada sekitar 2.000 peserta uji coba di 100 tempat pengetesan di Amerika Serikat yang akan menerima obat atau plasebo tersebut. Hasilnya akan menunjukkan seberapa baik obat bekerja dan mengetahui masalah keamanan yang bisa muncul.

Perusahaan yang mengembangkan obat tersebut adalah Regeneron Pharmaceuticals, sebuah perusahaan bioteknologi. Adapun, uji cobanya bakal dijalankan bersama dengan National Institute of Allergy and Infectious Diseases (NIAID).

REGN-COV2 mengandung dua antibodi yang menempel dan membantu menetralkan virus corona, menghambat kemampuannya untuk menginfeksi sel-sel sehat. Kedua antibodi mengikat spike protein virus, struktur yang memicu infeksi pada sel manusia.

Para ilmuwan Regeneron menemukan dua antibodi tersebut dengan mempelajari tikus yang dimodifikasi secara genetika dengan sistem kekebalan mirip manusia dan antibodi yang dikumpulkan dari pasien Covid-19.

Uji coba fase ketiga akan memantau berapa banyak peserta yang mengontrak Covid-19 dalam satu bulan pengobatan, menggunakan tes genetika virus, dan evaluasi gejala partisipan. Peserta akan terus dipantau hingga 8 bulan pasca perawatan.

Selain sebagai terapi pencegahan, REGN-COV2 juga akan diuji coba sebagai pengobatan untuk pasien yang sudah sakit. Para paneliti bakal memberikan sukarelawan yang telah terjangkit Covid-19 obat yang sama dan memantau apakah obat mampu mengurangi jumlah virus.

“Kami menjalankan uji coba adaptif simultan untuk bergerak secepat mungkin, guna memberikan solusi potensial untuk mencegah dan mengobati infeksi Covid-19,” kata George Yancopoulos, Co Founder, Presiden, dan Kepala Staf Ilmiah Regeneron.

Dilaporkan bahwa jika Food and Drug Administration (FDA) menyetujui obat pada akhir uji coba fase ketiga, REGN-COV2 akan segera beralih ke fase terakhir, di mana obat itu dapat digunakan secara luas terhadap ribuan pasien yang efek jangka pendek dan panjangnya akan dipantau.

Ditulis oleh : Astrid Prihatini WD

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.