Hitung-Hitungan Untung Budi Daya Tanaman Porang

Tanaman porang primadoda yang layak budi daya ini menjadi incaran beberapa negara dan sudah diekspor hingga ke Jepang.

JEDA.ID – Seorang pria asal Madiun, Paidi, menjadi miliarder berkat keberhasilannya melakukan budi daya tanaman porang. Paidi yang awalanya adalah seorang pemulung namanya melejut setelah menghabiskan modal Rp100 juta untuk membeli bibit dan biaya perawatan.

Tanaman porang merupakan jenis umbi-umbian yang dikenal dengan nama “iles-iles“. Porang termasuk ke dalam spesies Amorphophallus muelleri. Tanaman porang juga dapat dimakan karena masih serumpun dengan suweg dan walur.

Tanaman porang menjadi incaran beberapa negara dan tanaman ini sudah diekspor hingga ke Jepang.

Menurut Paidi berdasarkan hasil penelusuran terkait budidaya Porang, diketahui bahwa 80 persen untuk makanan dan 20 persen untuk kosmetik. Ia menyimpulkan bahwa porang memiliki nilai ekspor.

Paidi sebenarnya sudah menanam porang sejak hampir empat tahun lalu di Madiun. Pemasaran tanaman budidaya porang miliknya juga sudah sampai ke luar negeri hingga membuatnya menjadi miliarder.

Paidi menerangkan 1 hektare lahan bisa ditanami 40.000 bibit porang. Petani membutuhkan modal sekitar Rp100 juta untuk membeli bibit dan biaya pemupukan hingga perawatan.

Modal tersebut dinilai cukup hingga waktunya panen dua tahun kemudian. “Dalam hitungan manajemen kita, untuk lahan 1 hektare jika ditanami porang semuanya, dalam kurun dua musim dengan biaya Rp100 juta. Itu meliputi biaya perawatan dan pemupukan hingga panen,” ujar Paidi dilansir Detik.com di rumahnya, Selasa (4/2/2020).

Porang adalah jenis umbi-umbian yang bentuknya tidak beraturan dan membuat gatal yang menyentuhnya. Paidi mengatakan bahwa umbi porang bisa digunakan untuk bahan makanan dan kosmetik.

Bisbul, Buah Kaya Manfaat yang Terlupakan

Budidaya Porang

Selama ini, menurut Paidi tanaman porang rata-rata tumbuh di bawah naungan pohon lain. Hal itu yang membuat masa tanam porang menjadi lebih lama hingga tiga tahun. Ia kemudian merubah pola tanam konvensional dengan membuat revolusi tanam baru.

Dengan pola tanam baru, ia bisa panen 70 ton porang di lahan satu hektar. Padahal sebelumnya, satu hektar hanya menghasilkan sembilan ton. Selain itu masa panen porang yang awalnya 3 tahun dipangkas menjadi enam bulan.

Kini Paidi sudah menjadi pengepul porang dan mendirikan sebuah perusahaan yakni PT Paidi Indo Porang, yang memiliki 66 karyawan. Disamping itu, Paidi juga memiliki lahan porang sendiri seluas 10 hektare di kampungnya.

Pertanian.go.id menulis, tanaman porang memiliki nilai strategis untuk dikembangkan, karena punya peluang yang cukup besar untuk diekspor.

Catatan Badan Karantina Pertanian menyebutkan, ekspor porang pada tahun 2018 tercatat sebanyak 254 ton, dengan nilai ekspor yang mencapai Rp11,31 miliar ke negara Jepang, Tiongkok, Vietnam, Australia dan lain sebagainya.

Umbi porang saat ini masih banyak yang berasal dari hutan dan belum banyak dibudidayakan. Ada beberapa sentra pengolahan tepung porang saat ini, seperti di daerah Pasuruan, Madiun, Wonogiri, Bandung serta Maros.

Harga Porang bisa mencapai Rp2.500 untuk satu umbi dengan berat 4 kilogram. Hitungan normal 100 pohon Porang bisa menghasilkan Rp1 juta. Untuk luasan 1 hektare, kata dia, bisa ditanam sebanyak 6.000 bibit, sehingga bisa menghasilkan 24 ton/hektare, yakni dengan penghitungan 6.000 dikalikan 4 kilogram.

Dalam hitungan kasar, jika satu hektare bisa menghasilkan 24 ton, dan dikalikan dengan harga Rp2.500/kilogram, kurang lebih bisa menghasilkan Rp60 juta.

Purwaceng, Tanaman Ajaib yang Kian Langka

Ditulis oleh : Jafar Sodiq Assegaf

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.