Cerita Orang Terkaya sampai Rakyat Jelata Akrab dengan Mi Instan

Kebiasaan Dato’ Sri Tahir makan mi instan menjadi potret bagaimana makanan ini digemari lintas kalangan dari orang kaya sampai rakyat jelata.

JEDA.ID–Salah satu orang terkaya di Indonesia Dato’ Sri Tahir mengaku mi sebagai salah satu makanan favoritnya. Saat bepergian ke luar negeri, Tahir bahkan sampai membawa mi instan untuk disantap di hotel.

”Makanan favorit mi, saya senang. Di Indonesia mi bisa ratusan. Di kamar makan mi cup,” ujar Tahir di Paris, Rabu (9/10/2019), sebagaimana dikutip dari Detikcom, Jumat (11/10/2019).

Setiap perjalanan yang membutuhkan waktu berhari-hari, ia dan keluarga selalu membawa mi dan sambal dari Indonesia. Ia lebih memilih menyeduh mi instan dalam kemasan dibandingkan memesan makanan hotel.

Tahir merupakan orang terkaya keenam di Indonesia versi Forbes pada 2018. Forbes mencatat dalam setahun terakhir harta Tahir naik sekitar US$1 miliar.

Sebagaimana dikutip dari laman Forbes, harta Tahir saat ini senilai US$4,6 miliar atau setara Rp64, triliun (kurs Rp14.000). Pada Maret 2018, Tahir memiliki harta US$3,5 miliar. Kemudian menjadi US$4,5 miliar pada Maret 2019.

Disebutkan orang terkaya ini adalah pendiri Mayapada Group, perusahaan yang bergerak di bidang perbankan, rumah sakit, dan real estat, dan beberapa bidang lainnya.

Putri Tahir, Grace, adalah presiden komisaris Propertindo Mulia Investama, perusahaan properti yang terdaftar pada 2018, di mana keluarganya memiliki saham. Sedangkan istri Tahir, Rosy adalah putri taipan Indonesia Mochtiar Riady.

Tahir yang lahir di Surabaya 26 Maret 1952 menjadi potret bagaimana mi instan digemari lintas kalangan dari orang kaya sampai mahasiswa. Indonesia menjadi pangsa pasar mi instan terbesar kedua di dunia setelah Tiongkok.

Berdasarkan data World Instant Noodles Association (WINA), sebagaimana dikutip dari laman instantnoodles.org, konsumsi mi instan di Indonesia mencapai 12,54 miliar bungkus pada 2018 lalu.

Kebiasaan makan mi instan atau makan instan lainnya juga terekam dalam Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 yang dilakukan Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

1-6 Bungkus Sepekan

mi instan

Ilustrasi makan mi

Tercatat 58,5% penduduk Indonesia mengonsumsi makanan instan sebanyak 1-6 bungkus per pekannya. Bahkan ada 7,8% penduduk Indonesia yang mengonsumsi mi instan lebih dari satu bungkus setiap harinya. Sisanya, 33,8% mengonsumsi makanan instan kurang dari 3 bungkus per bulannya.

Bila dilihat dari pekerjaan, konsumsi mi instan/makanan instan paling tinggi berada di kalangan nelayan dan pelajar. Kemenkes menyebut 11,4% nelayan mengonsumsi mi instan atau makanan instan lainnya lebih dari satu kali sehari. Kemudian 57,6% mengonsumsi makanan instan 1-6 kali dalam sepekan. Hanya 31% yang mengonsumsi kurang dari tiga kali dalam sebulan.

Di kalangan pelajar, konsumsi makanan instan yang lebih dari satu kali sehari mencapai 10,7%. Kemudian ada 68,3% yang makan makanan instan lainnya dengan intensitas 1-6 kali dalam sepekan. Baru kemudian 21% yang mengonsumsi makanan instan kurang dari 3 kali dalam sebulam.

Pola yang sama terjadi di berbagai kalangan lain seperti buruh, sopir, pembantu rumah tangga, petani, dan wiraswasta. Konsumsi makanan nstan paling rendah di kalangan PNS/TNI/Polri dan pegawai BUMN/BUMD.

Di kalangan ini sebagian besar makan makanan instan kurang dari tiga kali dalam sebulan yaitu 50,5%. Kemudian 45,2%-nya mengonsumsi 1-6 kali dalam sepekan. Terakhir 4,2% yang mengonsumsi makanan instan lebih dari satu kali sehari.

Bila dilihat dari wilayah tempat tinggal, tidak ada perbedaan mencolok antara warga perkotaan dan perdesaan. Sebagian besar makan mi instan dengan rata-rata 1-6 kali dalam sepekan.

Ditulis oleh : Danang Nur Ihsan

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.